Dakwah Islam Atau Gelar Budaya


TintaSiyasi.com -- Malang adalah sebuah daerah yang terletak di sisi barat tapal kuda Jawa Timur yang subur. Berada dilembah dingin puncak tertinggi di Indonesia yaitu Gunung Semeru dan pegunungan Tengger, Malang memiliki suhu harian lumayan sejuk.

Sementara disebelah baratnya dikelilingi pula oleh pegunungan Arjuno dan Kawi membuat Malang termasuk daerah yang subur dan basah.

Sedangkan di sebelah selatannya membentang pegunungan karst yang menjadi batas Malang dengan Laut Selatan atau Samudera Hindia.

Mungkin saja suasana yang dingin serta mirip dengan iklim Eropa inilah yang membuat VOC tertarik membangun kota Malang menjadi tempat peristirahatan yang nyaman bagi mereka.

Membicarakan Malang juga tidak bisa kita lepaskan dari sejarah tentang kerajaan Tumapel yang dipimpin Oleh Ken Arok pada awal abad ke 13 M. Meskipun umur Singasari tidak begitu lama namun nuansa esoteris yang dibangun oleh beliau sangat kuat pengaruhnya.

Bisa jadi inilah yang menjadi tantangan bagi dakwah Islam pada masa lalu sehingga pengaruh Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran Islam ditanah Jawa cukup lama untuk sampai di wilayah bekas Tumapel tersebut.

Baru pada masa pemerintahan Sunan Giri Prapen dakwah Islam bisa menembus daerah itu. Syaikh Menganti, utusan Sunan Giri Prapen, membawa pengaruh Islam dari Surabaya.

Bahkan setelah keruntuhan Majapahit, Adipati sengguruh pada abad ke 16 M pernah melakukan serangan ke Giri Kedaton. Arya Terung sendiri sebenarnya masih saudara dengan Raden Patah penguasa Kesultanan Demak Bintara namun dia memilih beragama Tantra.

Pengaruh Islam selanjutnya dibawa oleh sisa-sisa pasukan Trunojoyo dan Kraeng Galesung dari Makassar pada abad 17 M. Namun dakwah Islam di Malang belum juga rampung.

Laskar Pangeran Diponegoro dan Untung Surapati yang pada abad ke 19 M lari dari kejaran penjajah Belanda juga memberikan warna Islam kedaerah Malang dan sekitarnya.

Dari Jawa Timur sendiri, pengaruh dakwah Islam dari Bangil pada abad ke 19 nampak lebih kuat dibanding pengaruh dakwah dari Surabaya beberapa abad sebelumnya. Yaitu ketika para pengemban dakwah dari Yaman melakukan eksodus ke tanah Jawa dan melakukan dakwah disana.

Perbedaan teknik dakwah ditengarai menyumbang kesuksesan dakwah dari Bangil. Para pengemban dakwah dari Bangil dianggap lebih bisa diterima oleh masyarakat di daerah bekas kerajaan Tumapel tersebut, dibandingkan dengan jalur dakwah dari Surabaya.

Hingga saat ini sebenarnya dakwah Islam di Malang dan sekitarnya belumlah tuntas dan masih menyisakan perkara yang belum selesai pada masa sebelumnya. Keterikatan masyarakatnya dengan keyakinan kuno nenek moyangnya hingga saat ini masih  terasa dan masih banyak penganutnya.

Apalagi Nativisasi yang merupakan upaya politik pemerintah Kolonial untuk memecah belah umat Islam memperkeruh aktifitas dakwah disana. Setelah kekalahan mereka di Perang Jawa, Belanda melakukan upaya pengaburan dan penguburan sejarah yang berujung pada melemahnya pemahaman Islam di Malang dan sekitarnya.

Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Islam di Malang lebih menekankan upaya massif untuk membangun pemikiran yang integral terhadap ajaran agama Islam dibanding dengan menyelenggarakan gelar budaya yang sejalan dengan politik Kolonial Belanda.

Gerak dakwah Islam di Malang Raya harus dikaitkan dengan dakwah Islam diseluruh dunia, yaitu dakwah melanjutkan kehidupan Islam yang sejalan dengan perjuangan para pengemban dakwah sebelumnya. 

Karena Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia di akhir zaman, maka perjuangan dakwah melanjutkan kehidupan Islam pasti akan dimenangkan. Malang Raya yang subur akan kembali sejuk dan memancarkan Rahmat bagi seluruh dunia. Wallahu a'lam bishshawwab.


Oleh: Trisyuono Donapaste
(Aktivis Penggerak Perubahan)

Posting Komentar

0 Komentar