Dakwah dan Di'awah


TintaSiyasi.com -- Dalam literasi Bahasa Arab, Dakwah adalah upaya menyeru pada kebaikan, yakni Al Islam; sementara Di’awah adalah upaya propaganda (yang seringnya digunakan untuk menyimpangkan manusia dari kebaikan). Dakwah senatiasa berkonontasi positif, namun di’awah seringnya digunakan untuk justru menentang dakwah. Dakwah untuk menunjukkan hakikat kebenaran, sementara di’awah adalah propaganda menentang hakikat kebenaran.

Tidak heran kemudian dakwah akan berhadapan dengan di’awah. Dakwah merupayakan upaya menyeru orang-orang pada hakikat kebaikan, sementara di’awah menentang dakwah dan seringnya digunakan untuk menyimpangkan manusia dari hakikat kebikan. Memutarbalikan kebaikan dan keburukan. Membajui al haq dengan bathil. 

Sejak zaman Rasulullah, dakwah beliau telah mengalami ragam propaganda (di’awah) dari Kafir Quraisy. Saat Kafir Quraisy tidak bisa menghentikan dakwah Rasul dan sahabat dengan berbagai penyiksaan, mereka kemudian melakukan berbagai propaganda (di’awah). 

Semua propaganda ini dilakukan oleh Kafir Quraiys, baik di dalam kota Mekkah atau pun luar kota Mekkah. Bahkan propaganda itu mereka lakukan dengan segala bentuknya dan modelnya, seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai macam isu atau tuduhan. 

Di’awah (propaganda) itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para pemeluknya, membusuk-busukkan isinya dan menghina esensinya. Mereka melontarkan kebohongan-kebohongan tentang Rasul dan menyiapkan semua kata-kata yang ditujukan untuk propaganda memusuhi Muhammad, baik di Makkah maupun di luar Kota Makkah, terutama propaganda di musim haji. 

Mengingat betapa pentingnya propaganda memusuhi Rasul bagi kafir Quraisy, maka sekelompok orang dari mereka berkumpul di rumah Walid bin al-Mughirah. Di rumah itu mereka bermusyawarah mengenai apa yang akan mereka katakan tentang Muhammad kepada orang-orang Arab yang datang ke Makkah di musim haji. 

Sebagian mereka mengusulkan hendaknya Muhammad dicap sebagai seorang dukun (kahin). Namun, Walid menolaknya seraya mengatakan bahwa Muhammad itu tidak memiliki karakter dukun, baik gerak-gerik maupun gaya bicaranya. 

Sebagian yang lain mengusulkan agar menuduh Muhammad sebagai orang gila. Usulan ini pun ditolak oleh Walid, karena tidak satu pun tanda-tanda yang menunjukkan Muhammad itu gila.

Sebagian lagi mengusulkan agar mencap Muhammad sebagai tukang sihir. Usulan ini juga ditolak oleh Walid, karena kenyataannya Muhammad tidak pernah meniupkan mantera-mantera sihir pada buhul-buhul tali, juga tidak pernah melakukan aksi penggunaan sihir sedikit pun.

Setelah mereka berdebat dan berdikusi, akhirnya sepakat untuk menuduh Muhammad sebagai tukang sihir lewat ucapan, lalu mereka membubarkan diri. 

Dan saat ini, di’awah (propaganda) terhadap Islam dan kaum muslimin ter-program secara rapi, dengan menggunakan media besar, dana yang fantastis. Bahkan tidak sedikit juga menggunakan putra-putri Muslim yang doyan remeh-temah tulang dunia. 

Di dalam Kutayyib (buku kecil) yang berjudul “Mafahim Khathirah li Dharbil Islam wa tarkiizil Hadharatil Gharbiyyah”, setidaknya ada 5 (lima) pemikiran yang  merupakan upaya propaganda Barat untuk memukul Islam.  Lima ide itu yakni; pertama, ide terorisme (al irhab), kedua, dialog antar umat beragama (al hiwar bainal adyan), ketiga, moderat (al wasthiyah) termasuk Moderasi Beragama yang saat ini sangat gencar dijajalkan pada umat Islam, keempat, fundamentalisme (termasuk radikalisme), dan kelima, globalisasi (al ‘aulamah).

Sementara dalam Kutayyaib lain yang berjudul “Al Hamlah al Al Amirikiyyah lil Qadha’i ‘alal Islam” dijelaskan juga faham-faham  yang menjadi ide Propaganda Barat (AS) untuk memukul dakwah Islam, yakni;  pertama, demokrasi (ad dhimuqrathiyyah), kedua, pluralisme (at ta’adudiyyah), ketiga, Hak Asasi Manusia (versi Barat) (huququl Islam fi nashrah Al Gharbiyyah), dan keempat, politik pasar bebas (siyasatu suuk).     
 
Karenanya, wajib bagi seorang pengemban dakwah mendalami esensi pemikiran-pemikiran berbahaya tersebut untuk memudian menjelaskan pada umat akan kebohongan, cacat dan bahanya bagi umat Islam dan peradaban. 

Dan satu-satunya jalan untuk melawan propaganda ini adalah dengan melakukan perang pemikiran dan perang politik (gazwul fikri dan kifah siyasiy). 

Sehingga mutlak dalam dakwah saat ini kaum muslimin dibekali dengan pemikiran yang mendalam dan kesadaran politik yang cemerlang. Syakhsyiyyah Islamiyyah dan Wa’yu Siyasiy. Karena hanya dengan itu insya Allah perang ini akan bisa dimenangkan. Nashrun minallah wa Fathun Qarib. []


Oleh: Guru Luthfi Hidayat
Pengasuh Majelis Baitul Qur'an Tapin

Posting Komentar

0 Komentar