Cegah Bonus Demografi Menjadi Bencana Demografi

TintaSiyasi.com -- Bonus demografi adalah suatu kondisi di mana populasi masyarakat akan didominasi oleh individu-individu dengan usia produktif. Usia produktif yang dimaksud adalah rentang usia 15 hingga 64 tahun (populix.co). Bonus demografi di Indonesia ditaksir terjadi pada 2020 – 2030 dan mencapai puncaknya pada 2028 – 2030 (glints.com). Kondisi ini sudah terlihat sejak 2020 ketika proporsi penduduk usia produktif di Indonesia merupakan yang terbesar sejak kemerdekaan. Hal itu berdasarkan Survei Penduduk 2020 yang dilakukan oleh BPS. Berdasarkan Survei Penduduk setiap sepuluh tahun sekali, pada 2020 jumlah penduduk usia produktif sebanyak 70,72 persen dari total penduduk Indonesia (bisnis.com).

Banyak orang sepakat bahwa bonus demografi adalah window of opportunity atau kesempatan bagi negara yang sedang mengalaminya. Kesempatan untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Karena usia produktif memiliki kesempatan kerja dan kesempatan untuk menjadi produktif. Bisa memicu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Indonesia (glints.com).

Namun, hingga 2022 window of opportunity dari bonus demografi belum terbuka. Justru kenyataan di lapangan menunjukkan tanda-tanda menuju bencana demografi. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan mayoritas pecandu narkoba dari usia produktif antara 29 – 40 tahun (merdeka.com). BPS menyebut pengangguran di Indonesia mayoritas anak muda usia 20-24 tahun (idxchannel.com). Hasil survei Pendiri Yayasan Sejiwa sekitar 95,1% remaja SMP dan SMA di kota besar seperti Jakarta, D.I. Yogyakarta, dan Aceh telah mengakses situs pornografi dan menonton video berisi pornografi secara online (ybkb.or.id). Demikian pula dengan pelaku tindak kriminal, pekerja seks komersial, pelaku kekerasan seksual, bahkan pembuat konten youtube yang unfaedah didominasi oleh masyarakat usia produktif. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka saat puncak bonus demografi 2028 – 2030 yang terjadi justru bencana demografi, bahkan loss generation. Masyarakat akan kehilangan dokter-dokter yang dapat membantu menyembuhkan pasien karena para generasi muda harus menjalani rehabilitasi narkoba. Masyarakat akan kehilangan para peneliti yang menghasilkan penemuan-penemuan yang bermanfaat karena generasi mudanya sibuk mengunggah ‘karyanya’ sosial media demi keviralan. Masyarakat akan kehilangan para ulama karena generasi mudanya asyik menonton situs porno. 

Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Maka harus dilakukan tindakan pencegahan. Pencegahan terjadinya bencana demografi dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini harus dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandung seribu hari kehidupan (kompas.com). Sejak kemerdekaannya, Indonesia telah menerapkan sistem pendidikan sekuler dalam rangka mencetak SDM berkualitas. Berprinsip untuk menyisihkan aturan agama hanya dalam ranah kehidupan pribadi. Dilarang menyentuh kehidupan bermasyarakat. Dalam sistem ini, saat memasuki usia produktif (tepatnya usia 18 tahun) seseorang dianggap sudah dewasa dan diberikan kebebasan. Bebas menonton film dewasa, bebas memilih agamanya, bebas untuk menggunakan pakaian yang diinginkan, bebas berpendapat, di negara-negara besar bebas memiliki senjata, bebas untuk melakukan apapun yang diinginkan, dan lain-lain. Tokoh-tokoh sekuler beranggapan bahwa dengan diberikan kebebasan, mereka akan kreatif, inovatif, bahkan inspiratif. Namun, anggapan itu hanya sekedar teori yang bertentangan dengan realita. Realitanya kebebasan yang diberikan justru mendatangkan bencana sebagaimana fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas. 

Oleh karena itu, saat seseorang memasuki usia produktif, usia yang dianggap sudah dewasa dan sempurna akalnya, justru pada saat itulah dia harus dikendalikan dengan aturan. Sistem kehidupan yang memberlakukan aturannya pada saat seseorang memasuki usia produktif atau pada saat seseorang baligh, hanyalah Islam. Aturan Islam dibuat sesuai dengan fitrah manusia. Dibuat langsung oleh Pencipta yang sangat memahami karakteristik manusia. Maka Islamlah satu-satunya aturan yang layak digunakan untuk membentuk SDM yang berkualitas.

Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam. Kepribadian ini dibangun dari pola pikir dan pola sikap yang islami. Semuanya berlandaskan pada akidah Islam. Maka ketika menemukan suatu masalah, dia akan berpikir untuk mencari solusi yang sesuai dengan aturan Islam dan bertindak sesuai dengan solusi yang dipilihnya. Sehingga antara pemikiran dan perbuatannya selaras, seiya sekata berasaskan Islam. Seseorang yang berkepribadian Islam akan terlihat sangat khas, berbeda dengan yang lain. Seseorang akan mudah istiqamah dalam keislamannya jika hidup di habitatnya. Yaitu di bawah naungan khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. 

Kondisi ideal ini sudah pernah terjadi pada masa Kekhilafahan Islam. Hasil dari pendidikan Islam telah melahirkan SDM yang berkualitas dari sisi akhlak maupun ilmunya. Puncaknya terjadi pada abad ke-8 hingga abad ke-12 Masehi (wlkompas.com). Lahir ilmuwan-ilmuwan dalam berbagai bidang, bahkan tak sedikit dari mereka yang merupakan seorang polymath (orang yang menguasai berbagai bidang ilmu). Sebut saja Ibnu Sina yang dikenal di dunia Barat sebagai Avicenna. Beliau seorang dokter sekaligus seorang filsuf. Al Kindi yang dikenal sebagai seorang fisikawan, telah berhasil menulis 260 buku dengan bidang ilmu yang berbeda-beda. Dan masih banyak lagi ilmuwan dan polymath lainnya. Tak hanya laki-laki, ilmuwan wanita juga tidak sedikit dan tidak kalah hebatnya.

Oleh karena itu, agar bonus demografi tidak berubah menjadi bencana demografi, kaum Muslim harus istiqamah untuk memperjuangkan terbentuknya habibat alami kaum Muslim, yakni Daulah Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Wallahu a’lam. []


Oleh: Vinsi Pamungkas
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar