Bulog Terlilit Utang, Kok Bisa?

TintaSiyasi.com -- Perum Bulog atau Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik merupakan sebuah lembaga pangan di Indonesia yang mengurusi tata niaga beras yang bergerak di bidang logistik pangan. Ruang lingkup bisnis perusahaan ini meliputi usaha logistik/pergudangan, survei dan pemberantasan hama, penyediaan karung plastik, usaha angkutan, perdagangan komoditi pangan, dan usaha eceran. 

Sayangnya, Bulog dikabarkan sedang dalam keadaan terlilit utang dalam nominal yang tak sedikit, 13 trilliun. Tentu bukan angka yang kecil, malah angka yang fantastis. Lantas, bagaimana perusahaan ini terjerat utang sedemikian besarnya?


Utang Bulog

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso membeberkan bahwa total utang pokok yang dimiliki Bulog saat ini mencapai Rp 13 triliun. Utang tersebut digunakan untuk belanja penyediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 1 juta ton. Pria yang akrab disapa Buwas ini menambahkan, semakin utang tak terbayar oleh Bulog ke bank, maka semakin banyak bunga yang ditanggung. Utang dan bunga tersebut makin menggunung karena pemerintah belum membayar utang ke Bulog sebesar Rp 4,5 triliun. Utang tersebut berkaitan dengan penyediaan bantuan beras PPKM dan bansos rastra (kumparan.com, 26/12).

Parahnya, keadaan Bulog yang sudah terjerat utang dengan nominal besar ini tak menghentikan adanya satu wacana yang menyatakan bahwa Bulog akan kembali mengambil utang di tahun 2022 ini jika memang memiliki penugasan yang jelas. Wacana ini dikaitkan dengan adanya wacana kenaikan dari total perintah penyerapan beras hasil petani dalam negeri. Jika di tahun sebelumnya, total penyerapan ini mencapai 1 juta ton beras, di tahun ini, angka ini naik menjadi 2 juta ton. Angka ini tentu juga menghantarkan pada meningkatnya modal yang dibutuhkan Bulog untuk memenuhi instruksi pemerintah ini. Hal inilah yang menyebabkan Bulog mengeluarkan wacana untuk penarikan utang kembali di kala utang yang ada sudah sangat besar. 


Pembiayaan dengan Utang

Adanya pembiayaan dengan utang ini sudah menjadi satu konsep dasar yang salah kaprah. Pembiayaan negara dengan utang telah menyebabkan pada banyak bahaya. Misalnya, ketundukan pemerintah pada segala aturan yang diminta oleh pihak pemberi utang (kreditor), ketidakmandirian negara karena disetir oleh pihak kreditor serta semakin buruknya tata kelola perusahaan yang notabene adalah perusahaan negara yang mengatur hajat hidup orang banyak.

Terlebih, utang ini adalah utang ribawi dengan bunga yang harus dibayarkan. Dalam perhitungan ekonomi saja, hal ini sudah sangat memberatkan dan menghantarkan pada keburukan pengaturan insitusi. Apalagi dalam sisi keimanan, utang dengan riba menjadi satu hal yang amat dilarang oleh agama bahkan akan menghantarkan banyak kese gsaraan kepada semua orang yang terlibat dalam transaksi ini.


Negara Kaya

Indonesia merupakan satu negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Segala macam sumber daya alam yang dibutuhkan untuk mengurusi hajat hidup orang banyak terkandung di bumi pertiwi. Hanya saja, satu pertanyaan muncul dari fakta ini, kenapa Indonesia tetap menjadi negara yang miskin dan terbodohkan.

Yang menjadi jawaban atas pertanyaan ini salah satunya adalah kesalahan dalam pengaturan atau management dari insitusi lembaga negara ini. Negara kita dengan suka rela ‘memberikan’ hak pengaturan dan pengelolaan sejumlah sumber daya alam misalnya kepada pihak swasta atau pun perorangan yang terlepas dari pengaturan negara mengenai hal itu.

Jika dikelola oleh negara sendiri, tentu saja, semua asset sumber daya alam ini akan mampu untuk menghidupi seluruh warganya dengan menghadirkan kehidupan yang layak. Karena memang hasil pengaturan negara terhadap sumber daya alam ini akan mampu menopang keuangan negara dalam banyak hal. Salah satunya adalah pembiyaan bulog ini. Bulog akan terlepas dari penarikan utang ribawi karena negara sudah mampu untuk menyediakan pembiayaan yang dibutuhkan. []


Oleh: Rochma Ambarwati
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar