Begini Penjabaran Ulama Mazhab tentang Hukum Mengucapkan Natal


TintaSiyasi.com -- Pengasuh Majelis Taklim Darul Hikmah Banjarbaru Kalimantan Selatan Ustaz Muhammad Taufik NT menyampaikan beberapa pendapat ulama mazhab terkait hukum mengucapkan natal dalam Kajian Afkar Islam: Hukum Mengucapkan Natal Menurut Imam Mazhab, Senin (20/12/2021) di YouTube Khilafah Channel Reborn.

Pertama, pendapat mazhab Maliki. Ustaz Taufik menukil dari kitab المدخل 
karya Ibnu Hajar Al Maliki
bahwasannya, tidak halal bagi seorang muslimin untuk menjual kepada orang-orang Nasrani sesuatu dalam rangka kemaslahatan hari raya mereka. 

Bukan hanya ikut-ikutan dalam perayaan mereka saja yang haram, tetapi menjual daging, lauk-pauk, baju, memberikan pinjaman kendaraan, hewan tunggangan dan juga menolong dalam sesuatu pun dalam agama mereka terkait hari raya adalah haram.

"Jadi di sini hendaknya penguasa itu melarang kaum muslimin untuk melakukan yang demikian itu," terangnya.

Kedua, ustaz Taufik mengutip pendapat ulama di kalangan Hanafiyah (mazhab Hanafi) dalam kitab
 البحر الزتئق سدشرح كنز الدقائق
hari raya di sini tidak dikhususkan untuk Nasrani saja, tetapi hari raya semua non-Muslim. Dikatakan, andai seorang lelaki, dia beribadah kepada Allah lima puluh tahun. Kemudian datang pada hari rayanya non-Muslim. Menghadiahkan kepada sebagian kaum musyrikin telur, untuk mengagungkan hari tersebut, maka dia telah kafir.

"Sia-sia, hilang amalnya selama ibadah lima puluh tahun, tetapi kalau mereka datang itu sekedar ingin makan, minum dan bersenang-senang dalam artian oh ini mereka bagi-bagi makanan gratis dan sebagainya, maka itu hukumannya tidak sampai kafir," kutipnya.

Ketiga, dalam mazhab Syafi'iyah ustaz Taufik mengutip, dalam kitab النجم الوهاج في شرح المنهاج
Dikatakan, dihukum takzir jadi bukan hanya sekedar haram, tetapi hendaknya penguasa itu menakzirkan, menghukum siapa saja yang dia merayakan hari raya dan bersepakat dengan orang-orang kafir di dalam hari raya tersebut.

Dalam kitab الفتاوى الفقيه الكبرى
Ustaz Taufik menjelaskan pendapat Imam Al Haitami, fuqaha mazhab Syafi'i yang mengatakan, bid'ah itu ada dua yaitu bid'ah khasanah dan bid'ah syayyi'ah.

"Ikut-ikutan dalam hari raya Nasrani, makan, memberi hadiah, menerima hadiah dan lain-lain itu termasuk bid'ah paling buruk dan haram," jelasnya.

Keempat, dalam Hanabilah, mazhab Hambali, ustaz Taufik mengutip dalam kitab كشاف الكناع karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan, haram mengucapkan selamat dan belasungkawa (tahniah dan takziyah), dan juga mengunjungi mereka kecuali boleh mengunjungi kafir dzimmi dengan catatan diharapkan keislamannya.

Ini ada hadisnya riwayat dari Anas: Bahwasannya Rasulullah SAW mengunjungi Yahudi yang biasa berbuat baik dengan Rasul.

"Jadi, bukan berarti dengan non-Muslim itu bermusuhan, bukan. Rasul dengan Yahudi baik-baik saja, tetapi untuk urusan ini, Beliau tidak mau, namun untuk urusan yang lain seperti mengunjungi Yahudi yang sakit, Beliau kunjungi untuk menawarkan Islam. dan terbukti akhirnya si Yahudi pun masuk Islam," bebernya.

Ia melanjutkan, dalam mazhab Hambali sekadar nonton saja, tidak jadi pelaku dalam hari raya Yahudi, Nasrani dan selain mereka dari kalangan kaum kufar dihukumi haram.

Dalam kitab الإبداع في مضار الابتعاد dikatakan, siapa saja yang menginginkan untuk selamat dalam hal agama dan kehormatannya hendaklah mengurung di rumahnya pada hari raya tersebut.

"Kemudian melarang keluarganya dan siapa yang di bawah wewenangnya, untuk keluar pada hari itu, hingga tidaklah mereka itu bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani pada hari raya mereka," pungkasnya.[] Faizah

Posting Komentar

0 Komentar