Awal Tahun 2022, Penistaan Lagi!

TintaSiyasi.com -- Tahun baru 2022 baru memasuki awal bulan, akan tetapi lagi dan lagi penistaan Agama kembali terulang.
Kegeraman umat Islam belum berakhir akan kasus yang sama di tahun 2021, nyatanya kaum munafik tidak ingin memberikan ruang ketenangan untuk umat Islam dengan kembali menistakan agamanya.

Sebut saja Ferdinand Hutahaean sebelumnya dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh DPP KNPI karena cuitan di Twitter yang diduga bermuatan ujaran kebencian mengandung unsur SARA. "Saya minta dicabutlah semua laporan itu dan kita maafkan (Ferdinand), kita dialog," Sabtu (9/1).

Kapitra meminta masyarakat memaafkan perbuatan Ferdinand yang mengaku mualaf sejak 2017 itu. Bagi Kapitra, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk membina Ferdinand guna menguatkan keislaman, begitu menurut Ketua Yayasan Keadilan Masyarakat Mandiri itu. "Ada pengakuan jujur, kita maafkan sebagai umat Islam, apalagi dia juga bagian dari umat Islam, karena dia baru mualaf, baru mengerti Islam. Kita umat Islam harus membimbingnya," ujar Kapitra.

Penistaan terhadap agama Islam terus berulang karena banyak Muslim dan tokoh-tokohnya memilih diam. Mereka berfikir bahwa diam dan bersabar bentuk dari kebaikan agar tidak menyebabkan kegaduhan. Padahal bungkamnya umat Islam membuat si penista semakin menjadi-jadi. Dan tanpa disadari, saat agama Allah dinistakan tetapi mereka masih terdiam, sesungguhnya mereka berdosa karena sudah membiarkan kemungkaran.

Mereka seharusnya ingat akan sindiran Imam Asy-Syafii kepada orang yang diam saat agamanya dihina:

مَنِ اسْتُغْضِبَ فَلَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ

"Siapa yang dibuat marah namun tidak marah maka ia adalah keledai." (Hilyatul Awliya’, 9/143).

Bahkan ulama besar Buya Hamka pun mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika agamanya dihina, "Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan".

Pada zaman Nabi SAW ada seorang pria yang amat marah kepada istrinya karena terus menerus menghina Nabi SAW. Akhirnya, sang suami membunuh istrinya tersebut. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi SAW dan pria ini mengakui perbuatannya, beliau bersabda: "Saksikanlah bahwa darah perempuan yang tertumpah itu sia-sia (tidak ada tuntutan)." (HR. Abu Dawud).

Mentri Agama pun lebih membela si pelaku dengan dalih "agar tidak menimbulkan kegaduhan" seperti yang di kutip di artikel fajar.com, “Saya mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru menghakimi Ferdinand. Kita tidak tahu apa niat sebenarnya Ferdinand memposting tentang ‘Allahmu Ternyata Lemah’ itu,” kata Yaqut di Jakarta, Jumat 7 Januari 2022 kemarin.

Yaqut memaklumi cuitannya Ferdinand karena status mualafnya. Sehingga Yaqut sarankan ada tabayun. “Termasuk dalam hal akidah. Jika ini benar maka Ferdinand membutuhkan bimbingan keagamaan, bukan cacian. Untuk itu, klarifikasi (tabayun) pada kasus ini adalah hal yang mutlak,” kata Yaqut.

Padahal jelas-jelas itu sebuah penistaan. Maka wajar jika orang-orang seperti ini subur di negeri ini, selain pemerintahnya yang abai juga sistem negara kita yang berbasis sekularisme liberalisme akan selalu memberikan panggung kepada orang-orang yang mendengki dan terus menyerang Islam. Mereka dilindungi oleh peraturan dan bersekongkol dengan mereka. 

Agama Islam akan terus menjadi sasaran atas kejahilan mereka selama agama ini tidak mempunyai junnah atau pelindung, dan satu-satunya pelindung yang memberikan ketentraman dan kenyamanan untuk umat ini hanya satu yaitu Daulah Islamiyah yang hukumnya senantiasa memberikan efek jera untuk orang-orang munafik penista agama.

Seperti pada masa Khalifah Sultan Abdul Hamid II yang sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya voltaire yang menista kemuliaan Rasulullah SAW. Saat itu Khalifah langsung mengultimatum kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut. Khalifah memberikan ancaman dan pementasan itu akhirnya dibatalkan.

Inilah bukti ketegasan Islam dalam menangani kasus penista agama, dan inilah yang sesungguhnya umat Islam rindukan, adanya pelindung agung, itulah khilafah. []


Oleh: Nanis Nursyifa
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar