Ainul Mizan Jelaskan Makna Kebahagiaan dalam Islam dan Kapitalisme


TintaSiyasi.com -- Peneliti Lanskap Ainul Mizan menjelaskan makna kebahagiaan. "Mengukur kebahagian itu dilihat dari makna kebahagiaan dan ideologi yang dimiliki manusia," katanya dalam Insight ke-122 Pusat Kajian dan Analisis Data bertajuk Cek! Indeks Kebahagiaan Warga Indonesia: Hasilnya? Senin (3/01/2022) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

"Dari sinilah bahagia masing-masing orang berbeda," tambahnya. 

Menurutnya, warga negara Indonesia masih tidak bahagia, karena tidak menjadikan Islam sebagai tolok ukurnya. Kebahagian dalam Islam ketika memiliki keimanan yang benar dan taat kepada Allah SWT, kata Mizan mengambil dari Al-Qur'an Surah Thaha ayat 124.

Berbeda dari sudut pandang kapitalisme sekuler, katanya, kebahagiaan adalah meraih materi yang sebesar-besarnya. Mizan juga menggambarkan, indeks kesejahteraan jika dilihat dari pengangguran terbuka sebesar 9,1 juta, menunjukkan penduduk indonesia tidak bahagia.

"Begitu pula dengan kejahatan, narkoba, pencurian, penggelapan, curanmor (pencurian motor) yang selalu meningkat, membuat rasa tidak aman sehingga tidak bahagia," tegasnya.

"Tidak bahagia pula jika dilihat dari makna hidup, ingin bertakwa secara utuh, akan tetapi dikaburkan dengan kriminalisasi sebagian ajaran Islam," tambahnya. 

Menurutnya, ada anomali atau paradoks antara survei kebahagiaan dengan kenyataan. Sehingga, perlu ada penuturan kepada masyarakat tentang khasanah Islam yang mampu melahirkan kesejahteraan dan kebahagian dunia hingga akhirat.[] Hanif/Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar