Agama Tak Hadir di Draf Peta Jalan Pendidikan, Racun Moderasi Beragama?


TintaSiyasi.com -- Awal Maret 2021 lalu Kemendikbud Ristek mengeluarkan draf Peta Jalan Pendidikan yang memuat visi pendidikan 2035. Draf tersebut mengundang kontroversi sebab tidak memuat frasa agama pada visinya. Ormas Islam, Komisi Pendidikan di Parlemen Pusat, hingga politikus parpol pun mempertanyakan hilangnya frasa agama di Peta Jalan Pendidikan.

Pada draf Peta Jalan Pendidikan disebutkan visi pendidikan 2035 adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyoroti bunyi kalimat di visi pendidikan 2035. Menurutnya, hilangnya frasa agama membuat Peta Jalan Pendidikan  bertentangan dengan konstitusi yaitu UUD 1945 Pasal 31 ayat 5. Yang berbunyi:
"Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia".

Jelas konstitusi memuat kata agama, sehingga draf Peta Jalan Pendidikan menyelisihi konstitusi. Apa yang terjadi pada peserta didik jika agama dihapus?
Hal senada disampaikan oleh PPP. Partai politik berlambang Ka'bah itu menilai Kemdikbud melanggar konstitusi sebab tak memuat frasa agama pada draf Peta Jalan Pendidikan. Anggota DPR dari Fraksi PKS, Muzzamil Yusuf meminta agar draf Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 dicabut.

MUI telah menyurati Kemdikbud agar memperbaiki draf Peta Jalan Pendidikan dan memasukkan agama pada visi pendidikan 2035. Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, setuju dengan kritik yang disampaikan oleh Muhammadiyah. Wakil ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, mewanti-wanti agar tidak alergi pada agama.

Maret 2021, mengutip dari Tempo.co (10/03/2021), Nadiem merevisi draf Peta Jalan Pendidikan dan memastikan kehadiran frasa agama. Apakah cukup untuk menyelesaikan karut marut dunia pendidikan?


Sistem Sekuler dan Moderasi Beragama

Semua bisa melihat betapa buramnya potret pendidikan Indonesia. Degradasi moral yang parah, penyalahgunaan narkoba, tawuran, seks bebas, aborsi, LGBT, bullying, terlibat tindak kriminal, dan bunuh diri. Miris.

Ironis dengan definisi pendidikan yang termaktub dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Artinya, sudah tercantum cita-cita menjadikan manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Namun faktanya, kerusakan generasi semakin terus terjadi dari tahun ke tahun. Seakan peletakkan frasa keagamaan di sana hanyalah pajangan atau formalitas. Besar kemungkinan hal yang sama pun terjadi pada nasib frasa agama di Peta Jalan Pendidikan. 

Agama diakui, namun disingkarkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemerosotan moral dan berbagai perilaku menyimpang meniscayakan si pelaku menanggalkan agama dalam kehidupannya. Ini yang disebut sekularisme.

Sekularisme merupakan asas ideologi kapitalisme yang saat ini mengatur kehidupan manusia. Selain sekularisme, ideologi ini mengusung liberalisme, paham kebebasan. Kebebasan tanpa batas. Jelas tak mau dibatasi dengan aturan apapun, termasuk agama. 

Dan demi memuluskan ide liberalisme, dibuatlah istilah baru yaitu moderasi beragama. Artinya, beragama dengan mengambil jalan tengah. Melunakkan agama agar sesuai dengan liberalisme. Tentu agama yang dimaksud hanyalah Islam. Sebab Islam adalah satu-satunya agama yang lengkap pengaturannya. Tidak hanya masalah ibadah dan akhlak, termasuk sistem pergaulan, pendidikan, sanksi, ekonomi hingga negara.

Dengan kesempurnaan aturan tersebut, maka Islam bukan agama biasa. Islam adalah ideologi. Bagi kapitalisme, ideologi Islam menjadi saingan terberatnya. Maka, demi eksistensi ideologi kapitalisme, dibuatlah berbagai rencana strategis di berbagai sendi kehidupan di negara-negara yang mengadopsi ideologi ini, termasuk Indonesia.

Tak hadirnya frasa agama di draf visi Peta Jalan Pendidikan diduga kuat karena ide sekularisme dan moderasi beragama. Mempersiapkan generasi yang sekuler dan moderat demi mengadang kebangkitan Islam. 


Islam, Agama Tak Sekadar Tercantum

Sistem pendidikan islam bertujuan menjadikan peserta didik berkepribadian Islam. Artinya berpola pikir Islam dan bertingkah laku Islam. Sejalan antara pola pikir dan pola sikap dengan standar akidah dan terikat pada syariat Islam. 

Lahirlah generasi yang pribadinya kuat, yang mampu menjalani hidup dan mengurai setiap persoalan tanpa membuat masalah baru. Sebab telah jelas baginya standar dan tujuan hidup. Sehingga dia mampu mengarungi kehidupan tanpa rasa gamang dan takkan berbuat semaunya demi menyalurkan kegamangannya. 

Peraturan dalam kehidupan justru lahir dari akidah Islam. Jadi agama tak sekadar tercantum. Justru agama Islam yang menjadi wadah lahirnya berbagai peraturan hidup manusia. Sehingga wajar jika Allah SWT memerintahkan untuk berislam kaffah, masuk Islam secara keseluruhan (lihat QS. Al-Baqarah ayat 208). Hanya mencukupkan diri bersama Islam, sebab sudah dijamin kesempurnaan Islam oleh Allah SWT (lihat QS. Al-Maidah ayat 3). Gelar umat terbaik serta keberkahan hidup pun akan dimiliki umat yang menjadikan Islam kaffah sebagai aturan hidup. Wallahu a'lam. []


Oleh: Mahrita Julia Hapsari
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar