Dr. Riyan: Semangat! Teruslah Berdakwah, Back Up Kita Adalah Allah

TintaSiyasi.com -- Penulis buku Political Qoutient Dr. Riyan, M. Ag. mengajak agar terus semangat berdakwah, karena penopang (back up) seorang Muslim adalah Allah SWT.

"Teruslah bersemangat dakwah karena back up kita adalah Allah SWT. Semangat!" tuturnya dalam Siyasi: Menjadi Negarawan Islam Paripurna, Senin (13/12/2021) di YouTube ngaji shubuh. 

Poin penting yang ingin ia tekankan adalah, "Di mana pun kita berada, kita punya Allah SWT. Adapun keimanan yang harus tertanam dalam diri kita. Rasul yang mulia itu mengawali dakwah dari dirinya seorang."

"Pelaku penggerak perubahan itu pasti dimulai hanya dari sedikit orang. Artinya apa? Jangan khawatir, merasa takut, cemas, dan ragu dengan orang yang sedikit," tambahnya. 

"Kenapa? Karena dalam kondisi seperti itu tidak ada hal yang lebih mulia selain untuk kemudian memegang kebenaran. Bagaimana ketika kemudian umat Islam jumlahnya lebih dari 1,8 miliar, tetapi di dalamnya tidak diterapkan syariat Islam secara kaffah, tidak diterapkannya Khilafah Islam. Ketika kita melihat dakwah itu belum mendapatkan dukungan secara maksimal, maka, tetaplah terus berdakwah, istiqamah dalam dakwah," jelasnya.

"Konsekuensi dakwah itu hanya ada dua. Kalau tidak ditolak ya diterima. Kalau diterima alhamdulillah, pun jika ditolak, Allahu Akbar! Jadi, semuanya baik tidak ada masalah," cetusnya. 

Kalau ada pendukung dakwah dianggap masih sedikit, maka ia menjelaskan, tidak ada masalah terus saja berdakwah. "Karena nanti yang akan dihisab dari kita adalah, apa yang dilakukan, bukan masalah dakwah kok cuma sedikit, akan tetapi yang ditanya kamu dakwah atau tidak? Dakwahlah terus," serunya.

Dakwah Kolektif

Dakwah yang menjadi topik pembicaraan hari ini, menurutnya adalah dakwah yang sifatnya kolektif berjamaah, bukan dakwah individu. "Dakwah yang bersifat kolektif itu dilakukan setiap masa di setiap waktu dengan mencontoh dakwah rasul dan para sahabat," bebernya. 

Ia mengungkapkan hadis Rasul Muhammad SAW yang bisa dijadikan motivasi untuk berdakwah. "Yang artinya, orang-orang yang istiqamah di dalam agama dan sunahku, di zaman yang mungkar, itu seperti memegang bara api yang panas. Tetaplah istiqamah,  walaupun itu berat," serunya. 

Sebagaimana dalam kutipan hadis riwayat Tirmidzi. “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ia menjelaskan, sekalipun di tengah banyak orang yang mencela, membuat stigma, mempersekusi, penggiringan opini yang negatif. Bahkan, ada yang lebih parah daripada itu, katanya, sebagai seorang pengemban dakwah harus tetap tegar.  

"Kenapa? Karena kemuliaan adalah tetap kemuliaan, mutiara tetaplah mutiara, dakwah adalah kebenaran, maka kebenaran tidak bisa ditutupi. Di sisi yang lain kenapa kita harus terus berdakwah? Karena dakwah memiliki pahala yang begitu luar biasa di hadapan Allah," terangnya.

"Berapa pahalanya? Balasannya untuk orang istiqamah berdakwah itu adalah mendapat  pahala 50 orang sahabat Rasul. Seperti Abu Bakar as-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan seterusnya, semua adalah orang-orang besar dan mulia," paparnya. 

"Ketika dakwah hari ini, kita tidak pernah melihat Rasul, kita tidak pernah berjumpa dengan para sahabat, maka Rasul mengatakan, pahala orang-orang yang istiqamah itu, setara 50 kali daripada sahabat. Masya Allah," ucapnya. 

Ia menegaskan, terus saja berdakwah. Bila pendukungnya sedikit, katanya, ajak dan perbanyak terus. Sehingga, dengan keistiqamahan itu, kemudian akan terwujud apa yang dikatakan oleh Khalid bin Walid pada saat Perang Mu'tah. Yaitu, jumlah pasukan kaum Muslim yang sedikit dibandingkan dengan jumlah musuh. Khalid mengatakan: "Betapa sedikitnya jumlah pasukan Romawi, dan betapa banyak jumlah kita! Kekuatan sebuah pasukan tidak dinilai dari jumlahnya, tetapi dinilai dari pertolongan Allah padanya, dan kelemahan pasukan ada pada saat Allah meninggalkannya."

"Maknanya jumlah kita itu tetap besar,  kalau kita tetap ada dalam ketakwaan kepada Allah SWT. Sebaliknya jumlah yang kelihatan besar itu pada hakikatnya adalah kecil di mata Allah,  karena tidak ditolong oleh Allah SWT. Begitu juga ketika Perang Badar, jumlah pasukan kaum Muslim hanya 313 orang, sedangkan pihak musuh ada 1000 orang," bebernya.  

Ia menambahkan, dukungan yang sedikit itu, tidak membuat berkecil hati. "Dengan jumlah yang sedikit, dibandingkan jumlah masyarakat saat ini, justru menjadi motivasi kita untuk menyampaikan kebenaran Islam tanpa ada rasa berat," tandasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar