Toleransi Berbaju Moderasi, Islam Kaffah sebagai Solusi

TintaSiyasi.com -- Polemik ucapan selamat natal atau perayaan tahun baru masih menjadi kegaduhan di akhir tahun masyarakat Indonesia. Bahkan pemerintah atau MUI seakan melegalkan ucapan natal, menyemarakkan berbagai atribut natal serta perayaan tahun baru masehi. Hingga kini publik kian hari memaklumi hal tersebut sebagai rasa toleransi sesama umat beragama. Sedangkan yang kontra hal itu seakan hanya gigit jari atau hanya melampiaskan lewat cuitan di media sosial saja atau bahkan dicap sebagai radikalisme. Sungguh apa yang terjadi pada negeri mayoritas Muslim ini?

Yaqut Cholil Qoumas (Menteei Agama) menghimbau  para dai untuk turut membumikan gerakan moderasi beragama sebagai spirit untuk penguatan bangsa. Moderasi yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai kiblat perdamaian dunia. Yang mana mewujudkan islam rahmatan lil alamin yang mempraktikkan Islam wasathiyah (jalan tengah) yang akan menjaga kerukunan antar umat beragana (m.republika.co.id, 28/12/2021).

Ketika ramai promosi moderasi beragama seakan membuat gaduh publik. Publik seakan mulai rusuh dan hanyut akan ajakan menjadi Muslim yang cinta damai dengan jargon toleransi atau Muslim yang biasa saja. Sedang banyak juga yang mengkritik karena moderasi beragama tak sesuai dengan Islam, yakni toleransi yang kebablasan atau melanggar syariat Islam. Lalu kenapa hal tersebut terus digaungkan di negeri mayoritas Muslim ini? Apakah Moderasi Beragama adalah Ajaran Islam?

Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Hal itu tertuang dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama (2019).

Jika kita mengucapkan selamat natal berarti kita berharap keselamatan juga untuk Tuhan Yesus serta meyakini Yesus sebagai Tuhan. Walaupun tidak mengucapkan kata namun membuat spanduk ucapan natal atau mengadakan atribut natal seperti pohon natal sama saja kita meyakini bahwa tanggal 25 Desember adalah hari lahirnya Tuhan Yesus. 

Sedangkan dalam ajaran islam sendiri hanya mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Esa dan hanya mengakui Isa sebagai nabi utusan Allah. Sehingga secara tak sadar jika kita mengucap selamat natal berarti secara langsung murtad serta melanggar akidah Islam. 

Islam mengajarkan toleransi tanpa merusak akidah. Yakni dalam surat  Al Maidah ayat 73 yang artinya, "Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: 'Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga', padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih".

Sedangkan perayaan tahun baru sendiri dilihat dari sejarah lahirnya pada 1 Januari 45 SM (sebelum masehi), perayaan ini bukan dari Islam. Merayakan tahun baru berarti mengikuti perayaan orang kafir, inilah namanya tasyabuh. Tasyabuh pada perayaan orang kafir itu terlarang. Islam hanya mempunyai dua hari raya yakni Idul fitri dan Idul adha. Mengucapkan selamat tahun baru merupakan ucapan selamat yang tidak dibolehkan karena perayaannya tidak disyariatkan.

Sehingga hal tersebut dilarang, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut Yahudi dan Nasrani".

Selain itu, Allah melarang mengambil aturan Islam sebagian apalagi merubah pemahaman untuk kepentingan semata dasarnya yakni Al Baqarah 208. Sungguh hal itu kita akan melanggar hukum Allah. Seperti paham sekularisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Aturan Islam diambil hanya ritual saja serta dimodivikasi sesuai zaman atas dasar toleransi beragama. Sunggu na'as bisa mengundang murka Allah SWT.


Penerapan Islam Kaffah Wujud Toleransi Beragama

Toleransi dalam Islam disebut al-tasamuh. Pengamlannya seperti tertulis dalam Al-Qur'an surat Al Mumtahanan ayat 8-9. Dalam surat tersebut, Allah SWT berfirman agar setiap Muslim berperilaku baik kepada umat beragama lain selama tidak ada sangkut pautnya dalam agama. Selain itu, dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat 15, Allah SWT berfirman mengenai tetap berperilaku baik kepada keluarga atau saudara non Islam, walaupun mereka sempat mengajak untuk mempersekutukan Allah SWT.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab mengajarkan toleransi yang benar pada penakhlukan Yerusalem tahun 16 Hijriyah. Terkenal perjanjian toleransi yang bernama "Deklarasi al-'Uhda al-'Umariyyah" berarti jaminan keamanan khalifah atas warga Aelia.  Umar memerintahkan kaumnya untuk menghormati hak-hak setiap warga sipil yang mereka jumpai di sana. Meskipun tampil sebagai penguasa, konsistensi Umar tetap terjaga dan menghormati pemuka agama Kristen Ortodoks itu sebagai pihak setara.

Saat waktu shalat tiba, Umar menolak tawaran pemuka agama tersebut untuk shalat di gereja. Kemudian beliau keluar dari Gereja Qiyamah dan shalat di anak tangga. Lalu di situ dibangun sebuah masjid kecil. Ia menganjurkan agar azan tidak dikumandangkan di dalam masjid kecil karena dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas umat Kristen.

Sungguh toleransi beragama di masa tegaknya Khilafah Islam berjalan secara benar dan adil tanpa ada pelanggaran syariat. Justru jika sekarang gencarnya program moderasi beragama yang mana menjadikan dai atau generasi milineal sebagai ujung tombak penggerak melancarkan usaha tersebut dipastikan rezim islamfobia. Yakni benci dengan penerapan Islam kaffah serta takut akan tegaknya Islam kaffah. Hal itu tak lain hanya produk kapitalisme sekularisme yakni senjata penjajah merusak pola pikir umat Islam agar jauh dari penerapan Islam kaffah. Dengan rayuan dunia berupa  materi, jabatan serta kekuasaan yang diberikan adalah kunci keberhasilan penjajah membungkam rezim dan mencetak antek-antek penjajah. Sehingga gencarnya moderasi beragama saat ini sejatinya adalah senjata ganas merusak aqidah dan memecah belah umat beragama dan bangsa bumi pertiwi ini.

Sejatinya penduduk bumi pertiwi ini perlu berfikir dengan belajar dari kesalahan-kesalahan lampau dan kembali pada Islam sebagai solusi semua problematika umat. Agama warisan para pahlawan yang dulu syahid mempertahan bumi pertiwi dari kaum penjajah. Islam yang menjadi tonggak peradaban dan berjaya lebih dari 13 abad sejatinya perlu mengulang dan terus diperjuangkan. Oleh karena itu masalah moderasi beragama atau semua problematika umat yang tak pernah usai di dunia ini tentunya bisa diselesaikan. Tentu dengan penerpan islam secara kaffah di semua lini masyarakat dengan semangat gencar dakwah islam ala Rasulullah SAW sampai tegaknya daulah Islam yakni khilafah. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Suci Kumalasari
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Posting Komentar

0 Komentar