Terbongkar! Begini Strategi Rand Corporation dalam Pembunuhan Karakter Ulama


TintaSiyasi.com -- Membongkar strategi Rand Corporation, salah satu lembaga think tank dan konsultan militer Amerika Serikat (AS) yang dituangkan oleh Cheryl Bernard dalam dokumen penting Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategy, Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, S.H., M.H. mengatakan, dalam melakukan pembunuhan karakter terhadap ulama Cheryl Bernard menyarankan empat hal sebagai berikut. 

Pertama: Delegitimize individuals and positions associated with extremist IslamIslam (mendelegitimasi individu dan kelompok yang terkait dengan tuduhan Islam ekstremis). "Serangan terhadap individu atau karakter dari tokoh-tokohnya. upaya ini dilakukan agar meminimalisir dukungan publik terhadap tokoh-tokoh (yang dituduh) fundamentalis, keras, radikal tersebut," beber Chandra.

Kedua: Challenging and exposing the inaccuracies in their views on questions of Islamic interpretation (membandingkan dan mengungkap ketidaksesuaian pandangan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah diinterpretasi dalam pandangan Islam). "Seperti contoh ini, ketika terdapat ulama yang menjelaskan keharaman mengangkat pemimpin kafir, syariah dan khilafah. Mereka (Barat) akan mengadu (challenging) tafsiran tersebut dengan berbagai tafsiran (ala mereka) (untuk) dimunculkanlah tokoh-tokoh yang sependapat dengan mereka," tuturnya.

Ketiga: Exposing their relationships with illegal groups and activities (mengekspos hubungan ulama yang sudah jadi target mereka dengan kelompok dan aktivitas ilegal). "Memunculkan ke hadapan publik untuk mengaitkan ulama dengan kelompok yang dicap teroris, radikal, ekstremis. Tujuannya apa? Tidak lain supaya agar dijauhi masyarakat," katanya.

Keempat: Encouraging journalists to investigate issues of corruption, hypocrisy, and immorality in fundamentalist and terrorist circles (mendorong jurnalis untuk menyelidiki isu korupsi, kemunafikan, dan imoralitas di kalangan fundamentalis dan teroris). "Media didorong untuk mencari-cari kesalahan dan kelemahan para tokoh yang dituduh fundamentalis radikal, ekstremis, seperti korupsinya, kemunafikannya dan tindakan-tindakan tidak bermoral lainnya," bebernya. 

Chandra mengatakan, ketika ulama ditangkap, ditahan, dan dibunuh karakternya dengan berbagai macam tuduhan. Misalnya, preman berjubah, ustaz keras, radikal, tuduhan chat mesum, ekstremis, militan, pembuat gaduh, teroris, dan lain-lain, ia tegaskan, untuk saat ini ia kira bukan lah hal yang baru.

Sebagai seorang Muslim yang mengaji, ia sering mendengar ustaz menyampaikan hadis: Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Dan hadis: Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.

"Keberanian ulama menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa, banyak ditulis dan diabadikan dalam berbagai literatur. Dalam literatur sejarah kita sering juga sering mendengar ulama yang juga berani memotivasi rakyat," ujarnya.

Tidak hanya di situ, ia mengatakan, ada pula ulama yang berani mengangkat senjata melawan Pemerintah Hindia Belanda dan tak sedikit di antara mereka dibunuh, dipenjara, dan difitnah dengan berbagai tuduhan. "Hampir di seluruh dunia, melakukan hal serupa (pembunuhan karakter) terhadap ulama," tandasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar