Tak Ada Habisnya, Penistaan Agama Terulang Lagi

TintaSiyasi.com -- Menutup tahun 2021, penistaan agama Islam kembali lagi terjadi, baru-baru ini media sosial diramaikan dengan tagar #TangkapJosephSuryadi. Tagar ini muncul setelah Joseph Suryadi diduga melakukan penistaan agama.

Sejumlah akun Twitter yang menyerukan tagar tersebut, mengunggah foto yang dianggap sebagai penistaan agama oleh Joseph Suryadi. Foto tersebut berupa foto tangkapan layar dari sebuah grup WhatsApp itu memuat sebuah gambar karikatur lelaki bergamis menggandeng perempuan kecil, dengan disertai kalimat tak pantas terkait Aisyah dan Nabi SAW. Tulisan itu juga mengaitkan Nabi SAW dengan HW, terdakwa kasus pemerkosaan terhadap 12 santriwati di sebuah pondok pesantren di Bandung.

Setelah dugaan penistaan agama ini ramai di media sosial, Joseph pun diperiksa oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Selasa (14/12) kemarin. Penyidik Ditreskrimus Polda Metro Jaya menetapkan Joseph Suryadi sebagai tersangka kasus penodaan agama. Joseph Suryadi kini resmi ditahan di Rutan Polda Metro Jaya dengan ancaman hukuman enam tahun penjara. Mengapa penistaan agama Islam terus berulang?

Mungkin belum hilang ingatan kita dengan penistaan agama yang dilakukan Jozeph paul Zhang beberapa waktu yang lalu, begitu juga dengan M.Kece yang tak tahu akhir cerita hukumannya seperti apa. Dan kali ini penistaan itu terjadi lagi, pelakunya berbeda tapi yang dinista tetap Islam dan ajarannya. Apa dan bagaimana  tindakan hukum selanjutnya? Karena melihat dari kasus yang sudah-sudah, tidak ada penyelesaian yang jelas. 

Di Indonesia, penistaan agama diatur dalam KUHP-nya. Dalam KUHP pasal 156(a) dikatakan bagi setiap orang yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia atau dengan maksud supaya orang tidak menganut agama apa pun. Pelanggaran Pasal 156(a) dipidana penjara selama-lamanya lima tahun.

Apakah penjara enam tahun memberikan efek jera? Jawabannya tidak karena enam tahun itu pun bisa dinegosiasikan lagi, kalau pun masuk bui akan ada pengurangan masa hukuman, maka tak heran penistaan agama akan selalu muncul karena lemahnya sanksi hukum yang ditetapkan. 

Di sinilah peran negara dibutuhkan, negara yang mendapat amanah untuk mengurus sekaligus menjaga rakyat dan akidahnya. Negara  haruslah  tegas dalam bersikap dan bertindak ketika ada kasus yang melecehkan agama. Tidak hanya sebatas penangkapan dan hukum penjara saja namun perlu ada sanksi keras agar menimbulkan efek jera sehingga orang akan berpikir sejuta kali jika ingin melakukan penistaan terhadap agama apapun.

Kehidupan kapitalisme yang salah satu pilarnya adalah kebebasan akhirnya menghasilkan orang-orang yang selalu mencerca Islam dan ajarannya. Termasuk penghinaan terhadap  Allah serta Rasul-Nya. Hukum manusia yang dibuat sebagai sanksi  penistaan agama terkesan ringan. Karena untuk urusan agama tidak ada yang berkepentingan di situ. Bandingkan jika yang dinista adalah kepala negara, jangankan dinista, rakyat mengekspresikan kritiknya kepada pemerintah saja sudah pasti akan di beri hukum seberat-beratnya. Maka tak heran kasus penistaan agama pasti akan ada lagi dan lagi selama yang digunakan untuk menjerat pelaku adalah hukum buatan manusia. Apakah ada hukum yang bisa menghentikan kasus-kasus penistaan agama?

Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 12, “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, supaya mereka berhenti”.

Imam Al-Qurthubi berkata, “Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya membunuh setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir”.

Mencerca (ath-tha’nu) adalah menyatakan sesuatu yang tidak layak tentang Islam atau menentang dengan meremehkan sesuatu yang termasuk ajaran Islam, karena telah terbukti dengan dalil yang qath’i atas kebenaran pokok-pokok ajaran Islam dan kelurusan cabang-cabang ajaran Islam.
 
Imam Ibnu Al-Mundzir berkata, “Para ulama telah berijma’ (bersepakat) bahwa orang yang mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam harus dibunuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah imam Malik (bin Anas), Laits (bin Sa’ad), Ahmad (bin Hambal) dan Ishaq (bin Rahawaih). Hal itu juga menjadi pendapat imam Syafi’i.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/82).
 
Begitulah Islam dengan tegas memberikan hukuman terhadap pelaku penista agama. Hukum Islam bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan penerapan hukum Islam hanya pada sistem pemerintahan Islam, Daulah Islamiyah.

Jadi apakah ada hukuman yang bisa menghentikan kasus penistaan agama? Jawabannya adalah ada yaitu dengan menerapkan sistem Islam, bukan hanya dari segi hukum namun di semua aspek kehidupan baik itu sosial budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Ema Darmawaty
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar