Prof Fahmi: Kita Terimbas Revolusi Industri 4.0


Topswara.com -- Intelektual Muslim dan Pakar Peradaban Prof. Dr. -Ing Fahmi Amhar mengatakan umat saat ini terimbas Revolusi Industri 4.0. 

“Saya mau melihat bagaimana kita terimbas sangat besar dengan kemajuan teknologi disebut sekarang itu dengan Revolusi Industri 4.0 bahkan sudah maju lagi ke revolusi society 5.0. Dan sekarang kita sedang memasuki  gegap gempita Revolusi Industri 4.0 secara  cerdas ada data dan sebagainya,” tuturnya di YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa  yang bertajuk [LIFE] FGD ke-25 FDMB-RUU Tindak Pidana kekerasan Seksual (TPKS); Urgensi dan Solusi?, Sabtu (18/12/2021). 

Ia menjelaskan, transisi yang dihadapi manusia saat ini, terbagi ke dalam kuadran mesin sentris, tergantung mesin. Hal itu sangat terdampak oleh Revolusi Industri 4.0. Pekerjaan-perkerjaan yang perlu tenaga ahli misalnya bahasa, penerjemahan perlu tenaga ahli, sebagaian besar telah diganti oleh mesin. 

"Yang tidak terlalu mesin sentris, sepertinya masih bisa dilakukan manusia dan memerlukan manusia. Disektor ini, disektor ketiga Human Society. Tapi di kudaran empat Human Interaction ini terdampak. Jadi yang tidak terdampak cuma kuadran tiga," ujarnya. 

Fahmi mengungkapkan bahwa tahun 1990  pernah ada depresi besar yang menyebabkan banyak orang-orang, yang sebenarnya punya skill atau job seperti, teknisi insinyur, pegawai  bank itu kena dampak. Waktu itu dipertengahan dari Revolusi Industri II. Banyak  sekali mekanis dibuat otomatis tapi belum seperti sekarang, tapi berdampak bagi mereka. sehingga kemudian ada depresi besar. 

“Jadi profesi yang aman itu menurut hemat saya, yang aman itu seluruh profesi yang tidak ada dalam algoritmanya yang melibatkan kreatifitas dalam Problem Solving, profesi yang melibatkan kecerdasan emosi (melayani anak, melayani orang tua, mejaga orang sakit) dan profesi yang melibatkan kecerdasan sosial (aktifis LSM, diplomat, negarawan, dan profesi yang melibatkan kecerdasan spiritual),” ungkapnya. 

Menurutnya, hal tersebut menunjukkkan suatu kenyataan kalau masyarakat kedepan ingin aman. Itu harus fokus kepada hal-hal yang memang tidak mungkin otomatisasi. Hal yang tidak mungkin diotomatisasi itu antara lain adalah keluarga, menyayangi anak, mendidik anak, melayani orang tua. (Birrul Walidaini dan Tarbiyatul Aulad

“Maka kita tidak bisa bayangkan bahwa masyarakat kita ke depan ini akan selamat, akan digilas oleh Revolusi Industri. Nanti fungsi-fungsi mereka akan digilas oleh robot dan kita tidak punya masa depan,” tegasnya. 

Ia mencontohkan, bahwa liberalisasi  seksual yang ada di negara-negara maju saat ini,  termasuk Jerman keluarga mereka itu hancur.  Institusi keluarga tidak membuat mereka tertarik. Karena untuk apa punya keluarga, kalau tujuannya adalah kebutuhan biologis yang bisa didapatkan dengan cara di luar keluarga. Kalau tujuannya itu keamanan ekonomi sekarang ada asuransi. Kalau tujuannya  pendidikan,  itu juga negara sudah menjamin. 

“Anak-anak di sana itu tidak merasa orang tua yang sekolahin. Anak-anaknya itu merasa ya negara yang menjamin. Orang tuanya tidak berharap anaknya akan akan merawat mereka di negara mereka nanti di hari tua. Akibatnya mereka itu merasa tidak perlu punya anak. Padahal ingin juga punya pelampiasan biologis mereka akhirnya  institusi keluarga ini menjadi rusak,” jelasnya. 

“Sekarang itu mereka sudah sekarang mulai khawatir karena angka pertumbuhan mereka negatif. Seandianya  tidak ada pengungsi dari Suriah yang datang ke Eropa itu banyak negara di Eropa yang di Jerman, Prancis, Swedia dan sebagainya itu negatif. Sehingga mereka sudah memperkirakan 2100 sudah enggak ada lagi ras Eropah yang asli punah,” pungkasnya.[] Sri Nova Sagita/Rasman

Posting Komentar

0 Komentar