Pro Kontra RUU TPKS, Ketua FDMPB: Ini Mengonfirmasi Kegagalan Produk UU Demokrasi Sekuler


TintaSiyasi.com -- Menyikapi pro kontra Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra,M.M. menyebut bahwa mengonfirmasi kegagalan produk Undang-Undang (UU) dari demokrasi sekuler. 

“Jadi, ini betul mengonfirmasi kegagalan produk undang-undang yang lahir dari demokrasi sekuler,” ungkapnya dalam FGD#25 FDMB: RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS); Urgensi dan Solusi?, Sabtu (18/12/2021) di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa. 

Menurutnya, liberalisme dan sekulerisme adalah ideologi satu diantara tiga ideologi Islam dan komunisme. Menurutnya, kekularisme dan liberalisme mengajarkan paham tentang Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai basis kebebasan seseorang untuk melakukan kebebasan bertindak berekspresi. 

Oleh karena itu, ia mengatakan, Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), paradigmanya Hak Asasi Manusia (HAM) ala Barat, sementara menurutnya nilai-nilai Pancasila dan Agama yang menjadi basis hukum di negeri ini, tidak terpenuhi. 

“Maka di Barat itu, kebebasan seksual diberi kebebasan sebegitu luas, yang penting suka sama suka, kemudian tidak mengganggu orang lain, itu kan prinsip-prinsip demokrasi sekuler,” ujarnya. 

Menurutnya, ketika paradigmanya sekulerisme, maka undang-undangnya menjadi absurd dan ruwet, setidaknya akan melahirkan kontroversi di masyarakat. 

“Justru akan mendapat masalah itu sendiri bukannya menyelesaikan masalah, justru akan mendapat masalah itu sendiri,” ujarnya. 

Ia menilai, politik dan hukum idealnya berbasis kepada paradigma yang benar, karena menurutnya, dengan paradigma yang benar akan menghasilkan hukum yang benar juga, kebenaran datangnya dari yang maha benar Allah SWT dan Allah SWT juga yang menciptakan manusia baik Muslim maupun non-Muslim. 

“Nah sementara dalam konteks Islam sudah jelas semua Undang-Undang yang lahir dari demokrasi yang berbasis paradigma HAM dimana kebebasan itu begitu diumbar kebebasan berekspersi, berpendapat dan berperilaku beragama dan seterusnya," imbuhnya

“Maka alih-alih menjadi solusi justru demokrasi sekuler inilah sebenarnya yang menjadi sumber kehancuran di negeri ini, banyaknya pelanggaran-pelanggaran amoralitas di negeri ini justru berangkat dari kebebasan berekspresi itu yang kemudian dilindungi oleh HAM,” ujarnya. 

Ahmad mengatakan, Allah SWT juga yang paling tahu tentang kebutuhan-kebutuhan manusia ketika Allah SWT menutup pintu-pintu kemaksiatan membuka pintu-pintu kebaikan, Allah SWT membuat aturan-aturan tentang hubungan manusia laki-laki dan perempuan. 

Ia menilai, paradigma agama semestinya menjadi spirit bagi bangsa ini, apa lagi mayoritas Muslim. Menurutnya, dengan perubahan paradigma masyarakat yang benar ini semoga kedepan akan lahir hukum-hukum yang jauh lebih baik yang melindungi dan juga adil sebagaimana Allah SWT juga maha melindungi hambanya dan Allah SWT maha adil.

“Yuk kita kawal bangsa ini, demi cinta kita kepada negeri ini, tentu juga dengan nilai-nilai yang lebih baik yang bukan sekuler tetapi yang Islami,” tutupnya. []Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar