Peran Ulama Dikebiri dalam Sistem Kapitalisme

TintaSiyasi.com -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam sambutan pembukaan Muktamar Nasional ke 25 Rabithah Alawiyah, mengajak seluruh ulama tidak terjebak dalam kekuasaan. Beliau berharap para ulama mengutamakan perbaikan akidah dan ekonomi umat. "Saya berharap kita tidak terjebak pada aspek kekuasaan, karena kekuasaan itu bukan kewenangan kita. Kekuasaan adalah kewenangan Allah," ujarnya dikutip dari antara.com, Sabtu (4/12/2021).

Ulama bagaikan pelita di tengah gelap. Ulama ditempatkan dalam Islam pada kedudukan mulia. Ulama adalah pewaris para Nabi. Ulama lah yang paling taat pada syariah, paling takut pada Allah dan Rasulnya.

Mirisnya hari ini, ketika ulama berkecimpung dalam politik praktis ala demokrasi, maka peran tadi akan dikebiri. Karena hakekatnya demokrasi adalah sistem yg rusak dan merusak. Menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Saling jegal, saling fitnah,  memanipulasi data, suara, hingga dalil syara. Ulama hari ini menjadi "stempel penguasa". Fatwanya menjadi pembenar dan pendukung kebijakan dzalim. Mengopinikan moderasi beragama, menabrak syariah, dan menghalangi tegaknya khilafah. 

Sejalan dengan lepasnya umat dari sistem Islam, umat terjerumus dalam kubangan sistem sekuler demokrasi, kepemimpinan tak lagi berdimensi akhirat tapi justru kental dengan wajah rakus dan jumawa.

Sangat jauh berbeda dengan Islam. Sistem Islam yaitu Khilafah Islam memiliki mekanisme yang membuat Kekuasaan menjadi sesuatu yang tidak menggiurkan. Justru malah menakutkan. Kekuasaan (Kepemimpinan) tidak bernilai istimewa sehingga tak banyak orang berlomba-lomba meraihnya seperti dalam sistem demokrasi.

Dari riwayat dari Abu Dzar al-Ghifari ra. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا

Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Sahih, HR. Muslim no. 1825).

Hari ini Umat mencari dan membutuhkan ulama dengan perannya mencerdaskan umat dengan tsaqafah Islam. Menjelaskan bahwa sumber masalah hari ini dan solusinya adalah Islam. Ulama yang membimbing umat dan penguasa untuk melaksanakan perannya secara optimal sesuai Islam. Mengomando umat dan menyerukan penguasa untuk bersama mewujudkan sistem politik dan pemerintahan Islam, yaitu Khilafah Islam yang akan menerapkan hukum Allah. Dengan penerapan syariah secara kaffah dalam naungan khilafah, menjadikan Allah ridha dan menurunkan berkahnya dunia dan akhirat. Menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Septiana Kharisma
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar