Pengamat: Global War on Terrorism, Hakikatnya Perang Melawan Islam

TintaSiyasi.com -- Pengamat Politik Islam Dr. Riyan, M. Ag. menyebut bahwa The Global War on Terrorism, hakikatnya perang melawan Islam. “Jadi, The Global War on Terrorism itu sebenarnya pada hakikatnya adalah propaganda hitam (black propaganda). Jadi, kedok untuk menutupi maksud sesungguhnya, yaitu perang melawan Islam,” ungkapnya di acara Forum Diskusi Spesial Majelis Gaul: Menyikapi Isu Terorisme di Indonesia, Sabtu (27/11/2021) di YouTube Majelis Gaul.

Menurut Dr. Riyan, pada tahun 1979 CIA (Central Intelligence Agency) dari dua negara Amerika Serikat (AS) dan Inggris, menggunakan istilah terorisme dalam penggunaan kekerasan melawan kepentingan sipil guna mewujudkan target politik. 

"Jadi kalau sebenarnya kita menggunakan istilah ini sebenarnya tidak konsisten, karena Amerika Serikat (AS) menggunakan berbagai penghancuran, penjajahan dalam bentuk kekerasan tidak pernah sedikitpun di kategorikan sebagai terorisme,” tegasnya.

Ia pun menilai, kalau disimpulkan sebenarnya terorisme, sesungguhnya itu adalah cara spesifik atau istilah spesifik sebagai stigma kepada umat Islam dan gerakan Islam yang melawan kepentingan barat.

Dr. Riyan menjelaskan bahwa ada bukti 90 persen daftar terorisme dari kelompok Islam. Jadi menurutnya, tidak ada Amerika Serikat, Inggris apalagi Israel disebut sebagai terorisme. 

Ia menambahkan, bila Imam Samudera yang telah melakukan pemboman di Bali yang mengakibatkan ratusan orang tewas, akhirnya dia di hukum mati, maka bagaimana dengan Amerika Serikat (AS) yang menyerang Irak, menghancurkannya dengan alasan yang tidak ada faktanya apa hukumannya? Menurutnya, tidak ada, karena yang menentukan tafsir terorisme adalah Amerika Serikat (AS) yang memiliki kekuasaan dalam konteks ini negara-negara adidaya.

“Pertanyaanya adalah apakah memang itu benar? Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Amerika Serikat (AS) dengan jelas pada saat itu tahun 2005 menyamakan perang melawan terorisme saat ini dengan perang melawan komunisme. Baginya ideologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar abad baru kita,” ujarnya.

Dr. Riyan menjelaskan, di Inggris pada waktu itu, Tony Blair, di hadapan Konggres Partai Buruh menyebut bahwa Islam sebagai ideologi iblis, yang intinya ideologi iblis ingin mengeliminasi Israel, mengenyahkan dominasi Barat dari dunia Islam, menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum di bawah satu kekhilafahan untuk seluruh dunia dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal (Barat).

“Kalau dalam konteks yang lebih luas lagi, The Clash of Civilization tahun 1996 Huntington menyatakan “Bagi Barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalisme Islam tapi Islam itu sendiri. Dari sini kita bisa melihat pertanyaanya kenapa Islam di bidik?” ungkapnya.

Dr. Riyan menilai, negeri Islam adalah wilayah yang kaya sumber daya alam (SDA) dan strategis secara geopolitis, lebih dari 70 persen cadangan minyak dunia yang sangat vital itu ada di dunia Islam, belum lagi sumber daya alam (SDA) lain seperti emas, timah, tembaga, batubara, dan sebagainya. Menurutnya, menguasai dunia Islam berarti menguasai pasokan energi dan SDA lain serta menguasai posisi strategis dunia. 

Selain itu, menurut Dr. Riyan, peradaban Islam ini bukan hanya sekadar agama, tetapi juga peradaban (hadharah) yang lebih unggul. Menurutnya, peradaban Islam mempunyai konsepsi kehidupan yang khas dan unik, berbeda dengan sosialisme maupun kapitalisme baik di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan, maupun yang lain.

“Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menenteramkan jiwa,” pungkasnya.[] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar