Muslimah, Kapankah Kemuliaan Akan Engkau Raih?

TintaSiyasi.com -- Tahun 2021 banyak bermunculan kasus-kasus kekerasan seksual yang menyita perhatian publik. Diawali dengan kasus meninggalnya seorang mahasiswi di dekat makam Ayahnya, yang mana mengungkap rentetan kejadian memilukan yang dialami mahasiswi ini.

Dikutip dari detikNews, Jumat 10 Desember 2021--Novia ditemukan warga dalam kondisi tewas di sebelah makam ayahnya di Makam Umum Sugihan, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Kamis (2/12) sekitar pukul 15.30 WIB. Mahasiswi Universitas Brawijaya Malang ini nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun jenis potasium yang dicampur teh.

Aksi nekat Novia diduga karena masalah asmara dengan kekasihnya, Bripda Randy Bagus, anggota Polres Pasuruan. Mereka berpacaran sejak Oktober 2019. Novia ternyata dua kali hamil dengan Randy. Bukannya menikah, mereka justru menggugurkan kandungan menggunakan obat pada Maret 2020 dan Agustus 2021.

Dilanjutkan dengan terungkapnya kasus pemerkosaan yang menimpa sejumlah pelajar di Bandung. Dikutip dari CNN Indonesia--Pimpinan salah satu pesantren di Kota Bandung, HW, mencabuli beberapa santrinya hingga melahirkan sembilan bayi. Sementara, dua calon bayi hasil pencabulan HW kini masih dalam kandungan.

"Totalnya ada sembilan bayi telah dilahirkan korban akibat perbuatan terdakwa HW. Waktu pra-penuntutan itu masih delapan, ketika persidangan ini digelar ada sembilan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Riyono di Bandung, Rabu (8/12).


Sampai Kapan Kekerasan Seksual Terjadi?

Menyedihkan dan sangat menyayat hati kasus kekerasan seksual yang menimpa kaum Muslimah di negeri mayoritas Muslim terbesar ini. Dan sangat memilukan ketika orang terdekat kita, justru menjadi pihak yang mengoyak kehormatan dan menjatuhkan pada jurang kemaksiatan.

Karena banyaknya kasus kekerasan seksual misalnya di lingkungan kampus, maka ada sebagian kalangan yang mendesak untuk segera disahkan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Ketika kita cermati Permendikbud ini, maka akan ditemukan sejumlah pasal yang dinilai banyak kalangan, terutama para tokoh dan ormas-ormas Islam, seperti MUI Pusat, yang justru melegalkan seks bebas. Kesimpulan ini didapat karena adanya frasa ‘tanpa persetujuan korban’ yang menjadi pemicu penolakan terhadap peraturan tersebut. Jika peraturan diatas jadi disahkan, tentu saja akan menjadi jalan tol yang makin membebaskan aktivitas perzinaan dan membahayakan generasi penerus bangsa.


PR Bersama

Benar bahwa masalah kekerasan seksual ini menjadi PR kita bersama yang harus dituntaskan sesegera mungkin. Semua pihak mesti berbenah dan muhasabah diri, mengapa kasus kekerasan seksual tak kunjung usai, padahal sudah dilahirkan banyak kebijakan dengan tujuan untuk melindungi kaum hawa.

Ingatkah kita dengan firman-Nya yang selalu kita lafadzkan setiap shalat? Allah SWT berfirman yang artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik Hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon Pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus." (TQS. Al Fatihah ayat 2-6).

Kita selalu berjanji kepada Allah untuk menyembah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Namun, betapa jauhnya tingkah laku kita dengan semua panduanNya. Betapa banyak aurat laki-laki dan perempuan yang terlihat, betapa banyak pandangan yang mengumbar nafsu kemaksiatan, dan betapa banyak orang-orang yang enggan beramar makruf nahi munkar dengan dalih sungkan dan malu karena mencampuri urusan orang lain. Dan bukti nyata jauhnya negeri ini dari panduanNya adalah dengan diabaikannya hukum-hukum Islam terkait sanksi tegas pada pelaku kekerasan seksual yang terbukti membuat jera. Astaghfirullah, entah apa yang akan kita ucapkan ketika kelak berdiri di pengadilannya Allah SWT.

Kasus Novi dan para santriwati hanya dua dari sekian banyak kasus kekerasan seksual yang seharusnya membuka mata hati dan pikiran kita bersama untuk kembali pada syariah-Nya secara menyeluruh, yang akan memuliakan baik kaum perempuan maupun laki-laki. Wa ma taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib. []


Oleh: Dahlia Kumalasari
Pendidik

Posting Komentar

0 Komentar