Kembalikan Marwah Kampus dengan Islam

TintaSiyasi.com -- Arti pendidikan yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 menyebutkan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Tujuan pendidikan ini terancam gagal saat Mendikbudristek Nadiem Makarim meneken Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 yang dinilai sangat progresif dalam hal pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang berperspektif korban, salah satunya karena mengatur soal consent atau persetujuan. Pasal 5 Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 menimbulkan makna legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan. Artinya ini membuka peluang terjadinya perzinahan dalam pendidikan saat kedua belah pihak saling menyetujui perbuatan asusila dan seks bebas.

Poin penting yang semestinya menjadi alarm bersama adalah bahwa kasus kekerasan seksual di kampus ini muncul akibat pola pikir liberal (serba bebas). Coba kita pikir, pada saat yang sama, kampus sering kali terpojok dengan tudingan sarang radikalisme. Padahal, tidak pernah ada bukti riil terkait praktik radikalisme itu sendiri.
Selama ini, radikalisme kampus hanya “game of naming” agar seolah-olah kalangan mahasiswa/i yang menekuni forum kajian Islam terkesan eksklusif dan antipergaulan ala kawula muda. Justru sekularisasilah yang telah menjatuhkan kehormatan kampus, sampai beberapa waktu lalu ada seorang penggawa negara yang menyebut kampus sebagai tempat tercetaknya para koruptor.

Sudah cukup kampus tercoreng ketika mendapat cap sebagai tempat pencetak para tikus berdasi. Mereka pandai, punya jabatan, tetapi sayangnya korupsi. Jangan makin mencoreng kehormatan kampus dengan label sarang pergaulan bebas. Oleh sebab itu, mengembalikan kehormatan kampus sebagai institusi penyubur ilmu adalah upaya agar keberkahannya dapat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Pendidikan sekuler detik ini telah membuktikan format gagal mencetak intelektual cemerlang. Proses sekularisasi yang setia mengiringi perputaran roda kapitalisme telah melahirkan pragmatisme pendidikan. Tak pelak, hal ini menghadirkan output pendidikan yang materialistis sehingga makin menjauhkan misi pendidikan sahih sebagai instrumen ketakwaan dan pencetak generasi berkepribadian Islam.

Tujuan menuntut ilmu semestinya dalam rangka ibadah dan mencari hidayah Allah SWT. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sistemis mewujudkan generasi yang bertakwa, taat pada aturan Allah. Tentu saja bukan untuk menghasilkan generasi lemah iman, miskin moralitas, minim girah Islam. Hanya dengan format pendidikan sahih Islam, ilmu pengetahuan yang diperoleh pun akan mendatangkan keberkahan.

Islam memosisikan ilmu pengetahuan beserta institusi pendidikan dengan sangat mulia. Allah SWT berfirman, “ … niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadalah [58]: 11).

Hakikatnya kehormatan kampus adalah sebagai institusi pendidikan hakiki, penyedia dan pelaksana fungsi penjagaan bagi ideologi dan tsaqafah sahih bagi generasi pembelajar dan terpelajar. Keduanya (ideologi dan tsaqafah) adalah tulang punggung peradaban dan kelangsungan hidup umat. Maka tidak selayaknya kampus terfasilitasi kebijakan yang sarat pemikiran dan nilai-nilai liberal. Dengan demikian, kampus harus mengambil peran dengan cara menyelenggarakan pendidikan yang tujuan dan hasilnya akan bermanfaat untuk membangun peradaban gemilang.

Dengan demikian, tindakan memosisikan pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai komoditas ekonomi sebagaimana yang kapitalisme lakukan sama saja menghinakan pendidikan sekaligus memperbudak intelektual di dalamnya. Na’udzu billaahi tsumma na’udzu billaahi. 

Jika kampus tidak mampu mencetak kader-kader masa depan yang berbudi dan berkualitas, hal ini bertentangan dengan harapan dari proses kaderisasi pemimpin masa depan bangsa. Jika kampus sebagai pusat peradaban masyarakat modern sudah tercemar dengan arus budaya dan pemikiran liberal, ia akan mengalirkan racun dan permasalahan bagi masyarakat di sekitarnya. Potensi pencemaran ini bukan hanya terjadi akibat dari menyuburnya pemikiran liberal, tetapi sistem yang melandasi itu semua, yakni kapitalisme sekuler.

Ketika rumusan masalah kekerasan seksual tidak tepat, solusi yang ada juga tidak akan benar. Oleh karena itu, pencegahan yang paling pas dan solutif dalam mengatasi kekerasan seksual adalah mencampakkan ideologi kapitalisme sekuler lalu menerapkan sistem alternatif lain sebagai penggantinya.

Islam bukan hanya agama ritual. Islam adalah konsep kehidupan yang memiliki seperangkat sistem yang mengatur kehidupan individu, masyarakat, dan negara. Dalam lintas sejarah, sistem Islam terbukti mampu mencetak manusia berkepribadian mulia dan melahirkan ilmuwan hebat yang berdedikasi tinggi. 

Kampus-kampus yang berdiri pada masa Islam berhasil menjadi mercusuar peradaban dengan segudang prestasi dan ilmu. Pencapaian ini belum pernah mampu terwujud oleh peradaban mana pun.

Dengan penerapan sistem Islam kaffah, tujuan mulia pendidikan dapat tercapai; kampus akan menjadi pusat riset dan keilmuan bagi para pencari ilmu, yakni insan-insan mulia yang mempersembahkan ilmunya untuk kepentingan umat manusia, bukan menjadi insan yang terbelenggu dengan kepentingan korporasi demi mengejar prestasi dan nilai materi semata. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Ai Oke Wita Tarlina, S. Pt.
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar