Kejayaan Islam vs Runtuhnya Islam

TintaSiyasi.com -- Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, tapi Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekitarnya. 

Ketika Nabi Muhammad SAW mendirikan Daulah Islam di Madinah, syariat Islam yang mengatur tiga hubungan tadi diterapkan secara sempurna. Sejak saat itu kehidupan jahiliyah berubah menjadi kehidupan yang cemerlang dan sejahtera.  Islam  memasuki masa kejayaannya. 

Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107).

Sesuai janji Allah tersebut,  kedatangan Islam yang dibawa Rasulullah mampu mengapus kerusakan, kejahatan, penderitaan, kesesatan dan kebodohan. Para sahabat yang awalnya mendapat berbagai penyiksaan, penganiayaan, penderitaan bahkan kelaparan, setelah Islam tegak di Madinah, mereka mulai merasakan betapa sejahteranya kehidupan dalam naungan Islam. 

Kerukunan dan  persaudaraan terjalin dengan sangat indah tanpa ada perseteruan dan perebutan kekuasaan. Kesesatan sirna, fakir miskin mendapatkan tempat singgah yang layak dan makanan yang cukup, pendidikan dan kesehatan juga terjamin dengan cuma-cuma, para wanita terjaga kehormatannya dan sangat dimuliakan. 

Ketika Rasulullah SAW wafat, kepemimpinan Islam tak berhenti begitu saja. Namun terus berjaya di bawah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan Kekhilafahan Ummayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Pada masa Khulafaur Rasyidin, Islam makin tersebar luas hingga menguasai Jazirah Arab. Kekuasaan ini terus meluas hingga menguasai 2/3 dunia dan berjaya selama kurang lebih 13 abad. 

Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah Islam mengalami puncak kejayaan. Dengan jaminan pendidikan yang cuma-cuma serta fasilitas yang sangat memadai dari negara, disertai ruh Islam yang terus ditanamkan di benak kaum Muslim saat itu, Islam melahirkan para ulama dan ilmuwan handal. Penemuan dan jejak keilmuannya dapat kita rasakan dan manfaatkan hingga sekarang. 

Bukan hanya kaum Muslim yang merasakan indahnya hidup dalam naungan Islam, non-Muslim pun turut merasakannya. Mereka  juga mendapat perlindungan dan keamanan yang sama dengan orang Muslim dari negara Khilafah. Sebagaimana pernyataan Will Durrent yang bertutur dengan jujur:

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapa pun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi." (The Story of Civilization). 

Khilafah adalah sistem pemerintahan yang diwajibkan dalam Islam. Imam Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Qurthubi (1/264) menyatakan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya yang demikian itu (Khilafah) di antara umat dan para imam, kecuali yang diriyawatkan dari Al-Asham, yang memang asham (tuli) dari syariah (laa khilaafa fi wujubi dzaalika baina al-ummah wa laa baina al-aimmah illa maa ruwiya ‘an al-asham haitsu kaana ‘an asy-syariah asham...). 

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim (12/205) berkata, “Ulama sepakat bahwa wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang khalifah.” (ajma’uu ‘alaa annahu yajibu ‘ala al-muslimin nashbu khalifah). 

Imam Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniyah halaman 5 berkata, ”Mengadakan akad Imamah bagi orang yang melaksanakannya di tengah umat, adalah wajib menurut ijma’.” (aqdul imamah liman yaquumu bihaa fi al-ummah waajibun bil ijma’). 

Syeikh Abdurrahman Al Jaziri berkata (w. 1360 H), ”Telah sepakat para imam (yang empat; Abu Hanifah. Malik, Syafi’i, dan Ahmad) bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu; dan bahwa tak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam yang menegakkan syiar-syiar agama dan melindungi orang-orang yang dizhalimi dari orang-orang zhalim; dan bahwa tak boleh kaum Muslim pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam, baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Abdurrahman Al Jaziri, Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, V/416). 

Namun sejak runtuhnya khilafah pada tahun 1924, kondisi umat Islam terbengkalai. Umat secara paksa dijauhkan dari syariat Islam yang sempurna, kerusakan dimana-mana, masa kejahiliyahan terulang, kemiskinan dan kemaksiatan kembali merajalela, syariat Islam hanya sebatas hubungan manusia dan pencipta. 

Kondisi tersebut sebagimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 120, bahwa orang kafir tidak akan ridha hingga kaum Muslim mengikuti millah mereka. Maka sampai kapan pun mereka akan membuat strategi agar Islam dalam nuangan khilafah tidak kembali bangkit. Oleh karena itu, hingga saat ini seruan pemisahan kehidupan dari ajaran Islam yang sesungguhnya terus diaruskan. Dengan membuat tuduhan seolah-olah Islam adalah agama yang keras dan harus dijauhkan, seperti tuduhan terorisme dan radikal kepada orang Islam yang berusaha menerpakan syariat Islam secara sempurna. 

Namun, dua tuduhan tadi sejatinya sudah tidak laku lagi. Umat  mulai sadar bahwa Islam tidak sebahaya yang mereka tuduhkan. Saat ini, musuh-musuh Islam menderaskan moderasi Islam sebagai senjata dalam menggiring umat untuk tidak terlalu ekstrim dalam mempelajari dan menerapkan syariat Islam. 

Paham moderasi Islam secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat. Ini merupakan istilah politis yang memiliki maksud dan tujuan politik tertentu. Moderat adalah paham keagamaan (Islam) yang sesuai selera Barat. Sikap keagamaan moderat yakni: Menerima legitimasi Israel; Memiliki pemikiran bahwa syariah bukanlah dasar hukum Islam; Kaum Muslim tidak harus menjadi satu-kesatuan dalam naungan Khalifah; Mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat. 

Sikap tersebut tercermin dalam sejumlah fakta berikut. Porsi pelajaran agama dibatasi, berzina tidak dikenai delik asal atas dasar persetujuan, umat Islam dibolehkan merayakan Natal atas dalih toleransi beragama, doa tak perlu pakai bahasa Arab karena katanya Allah SWT bukan orang Arab (Republika.co.id, 01/12/2021). 

Na'udzubillah. Sangat jelas sudah kondisi umat yang makin terpuruk dan jauh dari tuntunan syariat Allah dengan adanya paham moderasi ini. Islam yang seharusnya menjadi rahmat dan menyejahterakan umat tidak bisa lagi dirasakan. Karena itu, penting bagi kita untuk memperjuangkan kembali tegaknya khilafah. Hanya khilafah yang bisa menerapkan syariat Islam secara sempurna, yang dengannya kita akan merasakan kesejahteraan dan rahmat dari Allah SWT.  Wallahu a'lam. []


Oleh: Nur Itsnaini Maulidia
(Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar