India Dukung Saudi Larang Jemaah Tabligh, Intelektual Muslim: Udara Segar untuk Narasi Politik yang Rasis


TintaSiyasi.com -- Menanggapi pemberitaan dukungan  rezim India terhadap Saudi untuk melarang aktivitas Jemaah Tabligh, Intelektual Muslim India, Sir Aijaz Rasool menyatakan bahwa rezim India ibaratnya, kini sedang mendapat udara segar untuk narasi politiknya yang rasis. 

“Berita tersebut bukanlah sebuah kejutan bahwa pemimpin sayap kanan partai Hindu (BJP) mendukung keputusan ini (pelarangan Jemaah Tabligh oleh Saudi). Mereka (rezim India) akan mendukung segala hal yang mengarah untuk melawan Islam apalagi merasa ibarat sedang mendapat udara segar untuk secara umum demi kepentingan narasi politiknya yang rasis,” ungkapnya kepada TintaSiyasi.com, Jumat (17/12/2021). 

Ia mengatakan rezim India telah membangun narasi Islamophobia yang diterima oleh mayoritas partai di pemerintahan juga dalam kehidupan sosial masyarakat. Dan kenyataan tersebut seperti halnya yang kini sedang terjadi di dunia untuk melancarkan serangan terhadap Islam dan kaum Muslim. 

Terkait keberadaan Jemaah Tabligh di India dan hubungan mereka dengan rezim India sebelumnya, Sir Aijaz Rasool menuturkan bahwa Jemaah Tabligh diperbolehkan melakukan aktivitas dakwahnya di seluruh pelosok Negara India. Namun semua berbalik, tatkala gelombang wabah Covid-19 melanda India dengan sangat buruk, dan rezim Modi gagal menyelamatkan rakyatnya, lalu menjadikan Jemaah Tabligh sebagai kambing hitam dan memfitnahnya sebagai agen pembawa corona ke India. 

“Sebelumnya memang, Jemaah Tabligh bebas saja melakukan aktivitas dakwah mereka di India. Tetapi sejak munculnya gelombang pandemi Covid-19 yang menyebar ke suluruh wilayah negara ini, Jemaah Tabligh berada di bawah pantauan pemerintah. Lalu difitnah sebagai agen pembawa virus corona masuk ke India. Inilah kenyataannya, ditengah-tengah kegagalan rezim Modi menyelamatkan nyawa rakyatnya, rezim mencoba menutupinya dan menjadikan Jemaah Tabligh sebagai kambing hitam,” jelasnya. 

Menurutnya, imbas perlakuan pemerintah India terhadap Jemaah Tabligh dirasakan oleh umat Islam secara umum. Sebagai seorang Muslim yang berdomisili di sana, ia mengakui kenyataan situasi hidup di India pasca Jemaah Tabligh dipantau rezim Modi, menjadi lebih mengerikan. 

“Hidup menjadi seorang Muslim di India saat ini, berada ditengah kondisi dan lingkungan yang lebih mengerikan. Inilah dampak pasca pemerintah mengkambinghitamkan Jemaah Tabligh,” tambah dia. 

Sir Aijaz Rasool menyebutkan sejak munculnya BJP sebagai penguasa di India, serangan keji dan kejam terhadap umat Islam tidak pernah berhenti hingga kini. Sebab menurutnya, kebijakan yang diciptakan oleh rezim India adalah untuk menghabisi dan menyapu bersih kaum Muslim dan segala identitasnya dengan segala cara. 

“Sejak Bharatiya Janata Party (BJP) muncul berkuasa, tidak pernah lagi berhenti adanya serangan-serangan keji dan kejam yang menimpa  umat Islam di India. Harus diakui bahwa kebijakan yang diciptakan rezim BJP adalah untuk menghabisi dan menyapu bersih kaum Muslim dan segala identitasnya dengan segala cara,” tuturnya. 

Perlakuan tidak adil terhadap umat Islam dengan cara demikian sebut dia adalah bentuk pemahaman HAM rezim India seperti halnya yang dipahami oleh Negara-negara lain semisal Inggris, Amerika, China, Rusia, dan Israel. Sebab sekalipun ada kerjasama antara India dan Amerika dalam hal politik dan militer, tidak lantas membuat India mampu ditekan oleh Amerika dan juga dunia internasional. Bakan mereka tidak peduli. 

Ia lanjut mengatakan, rezim India tidak perlu khawatir akan adanya serangan balik dari negeri Muslim. Karena mereka tahu bahwa kebjiakan yang berlaku di negeri Muslim hanyalah kebijakan sebagai agen-agen kolonial. 

”Adapun kerjasama politik dan militer dengan AS, tidak pernah ada kepedulian terhadap hal ini. Tidak ada tekanan dunia internasional terhadap India. Sehingga, pemerintah India tidak  perlu merasa khawatir kalau akan ada serangan balik dari negeri Muslim. Mereka tahu bahwa kebijakan yang berlaku di negeri Muslim adalah kebijakan sebagai agen-agen kolonial,” tutupnya.[]M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar