Hukum Mengambil Buah yang Jatuh di Kebun yang Berpagar


TintaSiyasi.com -- Tanya :
Assalamualaikum wr wb.

Ada teman yang mengambil buah durian di kebon sekitar rumahnya yang sudah 10 tahun lebih tidak pernah diurus, dan tidak pernah didatangi. Tapi pagar pembatasnya masih ada. Apakah buah yang jatuh di kebun yang tidak diurus itu boleh diambil karena kalau tidak diambil akan busuk. Sementara pemiliknya tidak diketahui dimana tinggalnya. Dan masyarakat sudah terbiasa mengambil kalau ada durian yang jatuh. Mohon penjelasannya taz. (Mushonnif Huda, Semarang).

Jawab :

Wa alaikumus salam wr wb. 

Imam Nawawi dalam kitabnya Al Majmu' pernah menjelaskan hukum buah yang jatuh di kebun berpagar sebagai berikut : 

وحكم الثمار الساقطة من الأشجار حكم الثمار التي على الشجر إن كانت الساقطة داخل الجدار وإن كانت خارجة فكذلك إن لم تجر عادتهم بإباحتها فإن جرت فوجهان أحدهما لا يحل كالداخلة وكما إذا لم تجر عادتهم لاحتمال أن هذا المالك لا يبيح (وأصحهما) يحل لاطراد العادة المستمرة بذلك وحصول الظن بإباحته كما يحصل تحمل الصبي المميز الهدية ويحل أكلها.

(Imam Nawawi, Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab, Juz 9, hlm. 59).

Artinya : 

Pertama, jika buah durian itu jatuh di dalam pagar kebun, maka buah itu dihukumi tetap miliknya si pemilik kebun. [Jadi tidak halal diambil masyarakat sekitar].

Kedua, jika buah durian itu jatuh di luar pagar kebun, maka hukumnya sama dengan hukum sebelumnya [yaitu dihukumi tetap miliknya si pemilik kebun], jika tidak ada kebiasaan di masyarakat yang membolehkan mengambilnya.

Jika ada kebiasaan di masyarakat yang membolehkan mengambilnya, ada dua pendapat. Salah satunya menyatakan, hukumnya tidak halal, seperti hukum untuk buah yang jatuh di dalam pagar kebun, demikian juga hukumnya tidak halal jika tidak ada kebiasaan masyarakat yang membolehkannya. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan pihak pemilik kebun tidak membolehkan mengambilnya. 

Pendapat paling sahih dari dua pendapat tersebut, hukumnya halal [jika buah jatuh di luar pagar kebun], karena terdapat kebiasaan masyarakat yang terus terjadi dan terdapat dugaan bahwa pemilik kebun telah membolehkannya. Ini seperti seorang anak kecil yang mumayyiz yang membawa hadiah (untuk kita) maka halal memakan hadiah itu. (Imam Nawawi, Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab, Juz 9, hlm. 59).

Demikian jawaban kami. Wallahu a'lam.

Yogyakarta, 8 Desember 2021

Oleh: K.H. M. Shiddiq Al-Jawi
Ahli Fiqih Islam

Posting Komentar

0 Komentar