Hijabku Seruan Semesta

TintaSiyasi.com -- Ketika Anda melewati sebuah gang terdapatlah dua makanan yang menggiurkan lidah. Yang pertama sapi panggang yang dibungkus, dan yang kedua sapi panggang yang terbuka. Soal harga, dan cara pembuatan kedua makanan tersebut juga sama.

Tanpa berpikir panjang Anda pun akan memilih makanan yang terbungkus rapi. Sebab apa, makanan yang terbungkus tadi pasti memiliki kualitas yang baik dalam segi kesehatan. 

Sama halnya dengan masalah wanita berhijab. Seburuk apapun sifat lelaki pasti menginginkan wanita yang baik. Apakah wanita baik hanya bisa dilihat dari kepiawaiannya dalam bekerja? Wanita karir dan sebagainya? 

Hal itu pasti bukanlah standarisasi dari wanita shalihah. Hal terpenting untuk menjadi wanita shalihah adalah dengan mulai melibatkan diri dalam hal bersegera menjemput seruan menutup aurat yang terdapat dalam QS Al Ahzab: 59.

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuhnya, yang demikian itu agar mereka tidak diganggu fan mudah dikenali. Sesungguhnya Allah Meha Pengasih, Maha Penyayanh." (QS Al Ahzab: 59).

Seruan tersebut tidak hanya berlaku di zaman Rasul saja, sebab jika diri kita adalah seorang Mukmin maka hal ini menjadi salah kewajiban untuk wanita Muslimah sebagaimana kewajiban terhadap rukun Islam. Meyakini adanya Allah dan Rasulnya, melaksanakan shalat, berpuasa pada bulan Ramadhan, berzakat dan naik haji bagi yang mampu. 

Kedudukan menutup aurat tadi bukan hanya seperti naik haji bagi yang mampu, karena dalilnya jelas. Jangan sampai wanita beranggapan dengan mengatakan saya belum mampu berhijab karena tidak memiliki pakaian, perbuatan saya belum baik, orang tua tidak mengizinkan, atau merasa terkekang oleh balutan hijab syar'i tadi. 

Ada juga yang mengatakan bahwa pakaian syar'i itu membuat wanita tidak bisa bekerja diluar rumah, sebab kebanyakan lembaga dan lapangan pekerjaan menuntun wanita untuk mengeploitasi kelebihannya termasuk menjajakan sebagian anggota tubuhnya demi mendapatkan rupiah. Naudzubillah..

Kendati demikian, bukan berarti wanita bebas berperilaku layaknya wanita jahiliyah dahulu bahkan lebih rendah lagi. Ada banyak kasus yang selalu bermula dari kelalaian wanita berhijab membuat dirinya jadi sasaran kekejaman zaman. Wanita itu kan perhiasan, jadi sudah bisa ditebak bahwa semua inci dari anggota tubuhnya merupakan keindahan yang bisa membuat mata semua orang merasa tertarik baik untuk disentuh maupun dipertontonkan. 

Jika sudah berhijab apakah wanita cukup berdiam diri di rumah? Islam begitu memuliakan wanita, baik wanita maupun pria memiliki kewajiban dalam hal menuntut ilmu. Dengan demikian, balutan hijab syar'i tadi bukan alasan bagi wanita untuk enggan menuntut ilmu. 

Karena menuntut ilmu merupakan kewajiban, semua orang maka wanita juga berhak mendapatkan ilmu. Ilmu inilah yang akan menuntunnya dalam mengolah emosi, cara berpakaian, bersikap, bertutur kata, dan mendidik generasinya dalam hal ini keturunannya.

Demikianlah, sebahagian daripada bentuk penjagaan Allah kepada wanita agar dirinya tidak dilecehkan dan tidak serta-merta menjadi sumber mala petaka akibat kelalaiannya dalam mengenakan hijab syar'i. Wallahu 'alam bishshawab. []


Oleh: Irna Sari Dewi
(Pegiat Literasi Papua)

Posting Komentar

0 Komentar