FAKKTA: Ketika Ingin Jadi Negara Mulia dan Mandiri, maka Kembali pada Syariat Islam

TintaSiyasi.com -- Muhammad Ishak, Peneliti Forum Analisis Kebijakan dan Transparansi Anggaran (FAKKTA) menegaskan, ketika ingin menjadi negara mulia, mandiri, dan independen, maka kembalilah pada syariat Islam. 

"Mau tidak mau ketika kita ingin kembali mulia, mandiri, serta independen dengan melepaskan ketergantungan impor pangan, melepaskan sumber daya alam dari penguasaan investor asing, maka harus kembali pada syariat Islam. Bukan hanya bahagia di dunia tapi juga di akhirat," tegas Ishak dalam Insight ke-115 PKAD: Ekonomi Rakyat dan Sosial Keagamaan Masyarakat, Jumat (17/12/2021) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Menurutnya, agar masyarakat dan seluruh komponen negeri ini menjadi negeri yang kembali mandiri, independen, hingga bahagia dunia dan akhirat, hendaknya bukan sekadar ubah rezim, tapi juga ganti sistem kehidupannya.

Ia merefleksikan kondisi perekonomian 2021 negeri ini. Ada lima fakta yang berhasil dikumpulkannya sebagai refleksi ekonomi Indonesia hingga tawaran solusinya. "Refleksi itu memantulkan, jadi saya akan menyampaikan lima refleksi berkaitan dengan perekonomian pada 2021 di negeri ini," jelasnya.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih melambat. Kedua, tingkat kemiskinan masih tinggi sekali. Ketiga, tingginya utang negeri ini. Keempat, ketergantungan terhadap impor pangan masih tinggi padahal sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Kelima, peran swasta dalam sektor pertambangan masih dominan di negeri ini.

Ishak menjelaskan, persoalan yang dihadapi negeri ini bukan sebatas persoalan individu. Tapi, persoalan negeri ini buah dari sistem kehidupan liberalisme yang dilakukan para penguasanya.

"Persoalan yang kita hadapi termasuk buah dari sistem ditambah dengan penguasa yang korup, apatis terhadap rakyatnya. Penguasa lebih mementingkan diri sendiri, kelompoknya. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri mengatasi masalah hidupnya," bebernya.

"Adapun perdagangan dunia dikontrol WTO (World Trade Organization), yakni organisasi perdagangan dunia yang mendorong adanya liberalisasi perdagangan di negeri ini. Misalnya, maraknya impor pangan mulai dari garam, kedelai hingga gula," tambahnya.

Ishak menekankan, mengganti rezim bukan solusi atas persoalan negeri ini sesuai lima hasil refleksi perekonomian yang telah dirincinya tadi.

"Permasalahan kehidupan di negeri ini dipengaruhi oleh sistem baik level negara maupun global. Bukan sekadar ubah rezim karena rezim pelaksana aturan. Mau tidak mau kita harus kembali pada syariat Islam. Di mana saja ada syariat Islam pasti di situ ada kemaslahatan-kebaikan. Ketika kita meninggalkan Islam pasti ada kemudaratan-kerusakan," pungkasnya.[] HN/Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar