Direktur Muslimah Voice Menolak Penghilangan Minyak Curah


TintaSiyasi.com -- Direktur Muslimah Voice Endah Sulistyowati menyatakan, penolakannya terhadap penghilangan minyak curah dan menolak kenaikan harga minyak goreng.

"Saya mewakili emak-emak jelas menolak penghilangan minyak curah dan kenaikan harga minyak goreng," tuturnya dalam Insight ke-109 Pusat Kajian dan Analisis Data: Gerah Gegara Minyak Curah? Jumat (3/12/2021) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Ia membagikan tip-tip bagi para ibu di negeri ini. Hal itu ia ungkapkan, seandainya kebijakan penguasa gegara minyak curah tetap diterapkan meski protes di sana sini terjadi.

"Jadi, ibu itu harus kreatif. Ibu bisa jadi ahli gizi, ahli ekonomi, juga ahli-ahli yang lain," katanya. Hal itu, katanya, menjadi sebuah tuntutan juga bagi para ibu agar kokoh hadapi kondisi karut marut perekonomian negeri ini. Terlebih lagi, ia katakan, pandemi entah kapan selesainya tidak dapat diketahui hingga dua tahun ini. 

"Jadi, kalau memang kondisi ini tidak bisa ditunda lagi dan harga minyak tetap tinggi, maka ibu harus memutar otak lebih bisa memanajerial keuangan dan gizi keluarga. Hal ini dilakukan karena harga tetap tinggi meski sudah diprotes sana-sini, peraturan menteri perdagangan diterapkan 2022," tuturnya.

Meski tidak semudah membalik tangan, ia menjelaskan, cara memutar otak tersebut tak bisa dihindari. Endah pun memberikan tips agar ibu di negeri ini tidak hanya berpikir solusi untuk diri dan keluarganya saja, tetapi juga update beragam permasalahan dengan solusi yang tepat.

Berikut penjabarannya. Pertama, ibu harus kreatif untuk mengolah makanan agar benar-benar tidak menghabiskan minyak yang berlebih. Kedua, ibu harus memanajerial keuangan lebih bagus lagi sehingga kebutuhan tercukupi. 

Ketiga, para ibu tidak boleh tinggal diam 'nrimo ing pandum' atau pasrah dengan semua apa yang dikatakan penguasa. Suara emak harus tetap disuarakan, katanya, agar kondisi seperti ini tidak terus berlangsung apalagi dalam kondisi pandemi.

Ia menegaskan, "Harus ada kebijakan yang lebih bijak utamanya mendengarkan suara di kalangan bawah. Selanjutnya, ibu dan penguasa juga menyiapkan generasi agar negeri ini tidak kehilangan generasi terbaiknya."

"Jadi, para ibu harus tetap survive di dalam keluarga-rumah tangga, masyarakat bahkan mampu menyuarakan suara-suara dari bawah itu ke ranah publik," pungkasnya.[]HN/Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar