Bayi Online, Rusaknya Nasab Keluarga

TintaSiyasi.com -- Beberapa waktu lalu ada seorang wanita di Inggris yang menginginkan memiliki anak kembali setelah sebelumnya telah memiliki satu anak. Stephanie Taylor, nama wanita tersebut, memutuskan untuk membeli sperma karena saat itu sedang tidak memiliki pasangan. Alih-alih mencari suami, dia justru memutuskan untuk melakukan inseminasi buatan (kompas.com, 21-09-2021).

Layaknya membeli barang, dia mulai mencari sperma sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Hanya dalam waktu satu hari, sperma yang dia inginkan pun didapatkan secara mudah melalui online. Untuk memudahkan dan memperingan secara biaya, Stephanie melanjutan membeli alat inseminasi buatan di situs online. Setelah memahami tutorial inseminasi buatan dengan alat tersebut, maka dia praktikkan ke dirinya sendiri. 

Dua pekan pasca inseminasi buatan secara mandiri, dia dipastikan hamil pada upayanya yang pertama. Sembilan bulan kemudian lahirlah bayi keduanya yang dia gambarkan sebagai keajaiban dan "bayi online nyata". Stephanie Taylor mengatakan, dia bangga dengan kelahiran putra keduanya itu, dan percaya jika tidak memiliki akses ke internet dia tidak akan memiliki anak kedua. 


Memahami Fitrah Naluri pada Manusia

Rasa ingin memiliki anak bagi seorang perempuan tidaklah salah karena hal ini merupakan sunatullah. Seperti yang dirasakan serta diinginkan oleh Stephanie bisa dikatakan sebagai hal yang normal dan tidak bisa disalahkan. Namun menjadi tidak benar ketika mendapatkan anaknya dengan cara yang tidak mengikuti syariat Sang Pencipta.    

Secara fitrah, manusia memiliki  naluri ingin melestarikan jenis (gharizah nau). Naluri melestarikan jenis ini salah satunya nampak dari munculnya rasa kasih sayang sayang kepada anak. Allah SWT sebagai Sang Pemberi Naluri sudah memberikan syariat bagaimana cara yang tepat untuk menyalurkan naluri tersebut. Syariat-Nya ini bertujuan untuk menjaga kemuliaan manusia. Pengaturan untuk melestarikan jenis telah Allah tetapkan melalui syariat pernikahan. Pernikahan yang mempertemukan dua jenis manusia dianggap sah jika memenuhi syarat-syarat pernikahan dan telah diikat dengan akad yang syar’i. 

Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (TQS Ar Ruum ayat 21).

Islam pun menyukai bahkan menganjurkan agar keluarga Muslim untuk mempunyai banyak anak. Tentu anak yang dilahirkan adalah anak dari pernikahan yang sah. 

Salah satu dalilnya adalah firman Allah SWT, “…dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu (yaitu anak).” [TQS Al-Baqarah ayat 187].

Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Anas bin Malik dan lain-lain Imam dari kaum Tabi’in menafsirkan ayat di atas dengan anak. Tafsir Ibnu Jarir dan Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mencari anak dengan jalan bercampur  (jima’) suami istri apa yang Allah telah tentukan untuk kamu. Cukuplah ayat di atas sebagai dalil yang tegas dan terang bahwa Islam memerintahkan mempunyai anak dengan jalan nikah dan bercampur suami-istri. 

Rasulullah SAW bersabda, “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu).” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar].

Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat.” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik].

Ada sebuah doa yang dianjurkan Nabi yang mulia SAW kepada Anas bin Malik, “Ya Allah! Banyakanlah hartanya dan (banyakanlah) anaknya dan berkahilah apa yang engkau telah berikan kepadanya.” [Hadis shahih riwayat Bukhari 7/152, 154, 161, 162 dan Muslim 2/128].

Pernikahan akan melahirkan anak-anak yang memiliki nasab atau garis keturunan yang jelas. Ada banyak hukum syara setelah adanya pernikahan, di antaranya adalah hukum mahram, perwalian, hadhanah, dan waris. Jika dari pernikahan sudah tidak mengikuti aturan Allah, maka hukum syara turunannya akan banyak dilanggar.   Pelanggaran ini pastinya akan mendapatkan dosa dan sanksi dari Allah SWT. Maka sudah seharusnya bagi setiap muslim agar mengikuti aturan Islam sehingga akan terjaga kehormatan dan kemuliannya sebagai manusia. Manusia yang tunduk dan taat pada aturan penciptanya. []


Oleh: Erlina YD
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar