Adjustment Rate Bikin Rakyat Pesimis

TintaSiyasi.com -- Harapan kesejahteraan rakyat di tahun 2022 kian suram. Bukan karena pesimis tetapi fakta menunjukkan berbagai permasalahan yang menimpa negeri ini yang tak kunjung usai. Mulai dari masalah semrawutnya dunia pendidikan, penghapusan kelas rawat inap BPJS, kekerasan seksual dan permasalahan lainnya yang sampai di penghujung akhir tahun 2021 ini masih menunggu untuk dicarikan solusi.

Apalagi ditambah rencana pemerintah menaikkan tarif listrik di tahun 2022. Membuat masyarakat pesimis, kesejahteraan akan semakin membaik di tahun 2022 nanti. Seperti kita ketahui pemerintah berencana menaikkan tarif listrik untuk 13 golongan pelanggan non subsidi  pada 2022 mendatang dengan skema adjustment rate (tarif penyesuaian).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut jika kondisi pandemi Covid-19 membaik, maka kemungkinan besar adjustment rate ini akan diterapkan kembali sesuai aturan awal pada 2022. Besaran kenaikan tarif belum ditetapkan karena akan disesuaikan dengan kondisi perekonomian seiring pandemi Covid-19 yang membaik.

Menanggapi rencana kenaikan tarif listrik tersebut, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Agus Suyanto mengatakan, rencana mengenai adjustment rate ini memang sudah lama didengungkan. Penyesuaian tarif menurut Agus, menjadi hal yang wajar dan dapat diterima ketika dibarengi dengan layanan yang ditingkatkan oleh penyedia layanan, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN). "Pemerintah harus meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan, apabila ada penyesuaian tarif listrik ini. Dengan begitu, dapat diterima oleh masyarakat," ucap Agus. Ia juga mengungkapkan, ini kan bentuknya adalah adjustment rate jadi nanti saat diumumkan naik dan turun harus fair jangan sampai hanya naiknya saja yang diumumkan.

Rencana pencabutan subsidi ini tentu membuat masyarakat semakin resah. Harapan kesejahteraan di tahun 2022 pun pupus. Kondisi ekonomi yang terpuruk karena Covid-19 belum tersolusikan sehingga masyarakat harus berjuang sekuat tenaga agar ekonomi keluarga tetap jalan meski pada faktanya jauh dari kata sejahtera.

Kecemasan masyarakat terhadap kenaikan tarif listrik adalah wajar. Karena listrik termasuk kebutuhan pokok masyarakat. Jadi ketika tarif listrik naik tentu akan berimbas kepada kenaikan harga yang lainnya dan akan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Kenaikan tarif listrik secara nyata membawa dampak  terhadap kelangsungan hidup rakyat, sehingga sudah seharusnya menjadi perhatian penguasa. 

Karena penguasa tidak hanya melakukan kesalahan dengan mengambil kebijakan menaikan tarif listrik saja. Tetapi lebih dari itu, hal yang paling mendasar kesalahan negara yaitu negara hanya memainkan peran dirinya sebagai pedagang yang menjual layanan energi yang bersumber dari kepemilikan umum kepada rakyatnya sendiri.

Dan mengapa hal ini terjadi? Tidak lain karena negara telah menerapkan sistem kapitalisme yang menjadikan negara tidak lagi memprioritaskan pelayanan terhadap rakyatnya tetapi justru mengedepankan para investor swasta yang diajak kerjasama.

Sistem kapitalisme memandang kebutuhan energi bukanlah tanggung jawab negara untuk rakyatnya, meskipun secara fakta kebutuhan manusia akan energi adalah kebutuhan pokok yang menjamin kelangsungan hidup manusia tetap berjalan.

Berbeda dengan sistem Islam, negara akan mengelola sebaik-baiknya sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum dan mendistribusikannya kepada rakyat secara keseluruhan sesuai kebutuhan. Karena negara menempatkan diri sebagai pelayan bagi rakyatnya.

Dalam Islam, listrik yang digunakan sebagai bahan bakar termasuk kategori api yang merupakan barang publik. Dan pengelolaan barang publik hanya diwakilkan kepada negara untuk kemaslahatan umat. Sehingga jelas tidak boleh diserahkan kepada swasta baik domestik atau asing. Sedangkan untuk mekanisme distribusinya diserahkan sepenuhnya kepada negara. Rasulullah SAW bersabda: 

"Manusia berserikat pada tiga hal: air, api, dan Padang gembalaan." (HR. Muslim dan Abu Daud).

Jadi ketika negara menggunakan aturan kapitalisme maka masalah listrik juga tidak akan tersolusikan, karena negara akan berpijak bagaimana mencari keuntungan bukan pelayanan.

Sudah seharusnya umat menyadari hal tersebut dan kembali kepada aturan Islam dan menerapkan aturan Islam tersebut secara menyeluruh. Sehingga tidak hanya masalah listrik saja yang terselesaikan tapi berbagai masalah yang mendera negeri ini akan dapat terselesaikan. Wallahu a'lam. []


Oleh: Zulia Adi K., S.E.
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar