Wacana Radikalisme Diatasi seperti Era Soeharto, Sejarawan Ini Sentil KSAD Jendral Dudung



TintaSiyasi.com-- Menanggapi pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman soal radikalisme akan diatasi dengan pemberlakuan aturan seperti zaman Soeharto (Presiden pertama Republik Indonesia), Sejarawan Moeflich Hasbullah memaparkan sentilannya. 

"Dear Pak Dudung. Silakan Pak Dudung berlakukan. Yang sudah terjadi, Pak Hartonya menua, meninggal dunia dan meninggalkan jejak buruk otoriter, sementara 'radikalisme'-nya tidak pernah hilang," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (24/11/2021).

Pak Moeflich, sapaan akrabnya, memberi tanda petik dikata radikalisme, karena bukan makna sebenarnya. Ia menyadari, selama ini radikalisme senantiasa dialamatkan kepada Islam. "Jangankan Pak Dudung, negara raksasa AS (Amerika Serikat) dan Cina saja, jika memerangi 'radikalisme' (maksudnya pasti Islam), AS dan Cina-nya kelak akan bubar atau musnah, dan 'radikalisme' masih akan tetap hidup," bebernya.

Dalam sejarah, ia melihat, 'radikalisme' lebih tua dari usia negara-negara yang pernah berdiri dan sudah ditelan sejarah. "Memerangi 'radikalisme' selalu akan menjadi pekerjaan sia-sia. Mengapa? Karena selama ini kita memerangi akibat bukan sebab, memerangi dampak bukan sumber, mengobati sakit bukan menghilangkan kebiasaan buruk yang mendatangkan penyakit," tegasnya. 

Ia menegaskan, selama ini radikalisme dijadikan proyek dalam memerangi Islam. "Apalagi radikalisme sebagai proyek, rakyat sudah banyak mengetahuinya, sehingga tak percaya radikalisme benar-benar sebuah fakta," jelasnya. 

Bila pun dipercaya hal itu realitas, katanya, radikalisme masalahnya bukan di 'radikalisme'-nya, tapi di akar-akarnya, yakni ketidakadilan sosial, ketidakadilan hukum, ekonomi dan politik. "Selama itu semua ada, radikalisme akan tetap hidup, subur, apalagi sumber-sumber itu dipelihara. Ya, jangan mimpi radikalisme bisa dihilangkan," imbuhnya.

Menurutnya, memerangi radikalisme dalam konteks itu hanya akan menimbulkan banyak korban. Selain itu, warga negara yang sakit hati kehilangan nyawa dan anggota keluarga. "Hukum dan penguasa yang tidak adil, yang mungkin kita anggap enteng, yang di akhirat kelak akan lapor kepada Tuhannya di yaumul hisab mengadukan kezaliman penguasanya kepada mereka sebagai rakyat," bebernya. 

"Siapa yang bisa melawan kekuasaan Tuhan di sana? Di dunia saja, kita diberi sakit gigi saja, sakitnya minta ampun, apalagi stroke, hidup menderita. Apalagi azab di sana. Ngeri," imbuhnya.

Menurutnya, bila yang ditekadkan Pak Dudung adalah memerangi ketidakadilannya yang secara psiko-sosiologis menjadi akar yang dianggap melahirkan radikalisme, Pak Dudung akan menghasilkan tiga hal. "Pertama, Pak Dudung akan dikenang sebagai pahlawan pembela keadilan, walaupun tentu sangat berat dan tidak berhasil maksimal. Kedua, radikalisme akan menurun secara drastis. Ketiga, Pak Dudung akan dicintai Tuhan. Saya berani jamin itu!" jelasnya.

Ia mempertanyakan pernyataan Pak Dudung. "Saya tidak tahu kebenaran ucapan dan tekad Pak Dudung itu, enggak apa-apa, ini inspirasi saja buat siapa pun yang ingin memerangi radikalisme. Saya pun memeranginya dengan cara memberikan pemahaman historis-sosiologis agar kita tahu persoalan yang sebenarnya dan kita tidak salah langkah mengatasinya," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar