Tuntutan MUI Dibubarkan, UAH: Seperti Orang yang Bertutur tanpa Berpikir


TintaSiyasi.com -- Menanggapi berita bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) disusupi teroris dan dituntut dibubarkan, pendiri Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat, Lc., M.A. mengatakan, seperti orang yang bertutur tanpa berpikir.

"MUI disusupi teroris dan bubarkan, seperti orang yang bertutur tanpa berpikir," ucapnya dalam bincang KlikAdi bertajuk MUI Disusupi Teroris? Bubarkan? di YouTube Adi official Sabtu, (20/11/2021).

Ia mengklasifikasikan teroris, ada yang terkait personal dan kelembagaan. Negara memiliki aturan hukum. Siapa saja yang diduga sebagai teroris, bisa diuji lewat skema hukum yang berlaku. 

"Ada Ustaz Farid Okbah, Anung Alhamat, dan Ahmad Zain Annajah yang disangkakan teroris. Apa yang disangkakan kepada beliau-beliau akan diuji oleh hukum positif yang ada, dikumpulkan alat bukti, kemudian diuji di persidangan," bebernya.

Ia mengatakan, dari langkah-langkah tersebut bisa dilihat satu kesimpulan yang memberikan sebuah citra kepada rakyat sebagai pedoman warga negara yang baik dan membangun harmoni yang baik ke depannya.

"Definisi teroris sendiri kan belum sempurna dan belum dipastikan satu definisi yang mutlak. Lalu teroris itu siapa sih?" tanyanya.

UAH mendefinisikan, teroris adalah segala faham yang menghadirkan teror, mengguncang jiwa, memberikan efek kejut, dan ketakutan mendalam yang luar biasa.

"Lalu, sudah ada definisi baku belum, tentang tata kelola berbangsa dan bernegara? Sebab selama ini yang dikategorikan dan dicitrakan teroris adalah Islam dan dibatasi dengan yang berbau Islam," ungkapnya.

Ia menceritakan, dulu ada ledakan di Alam Sutra, waktu itu Pak Tito masih menjabat dan beliau berkomentar, 'Itu berdiri sendiri'. Tapi tindakan tersebut tidak dimasukan ke dalam aksi terorisme dan tidak dilihat agamanya, sebab pelaku bukan Muslim.

"Di Papua ada gerakan yang diistilahkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan separatis, itu juga menghasilkan teror. Bahkan diberitakan lewat gambar dan video. Lalu ini termasuk teroris atau tidak?" tanyanya kembali.

Ia menegaskan, harus dilihat dari pemetaan. "Apakah motifnya keyakinan agama sebagai dasar atau salah pemahaman. Atau mungkin ada motif lain, misal kesenjangan ekonomi atau faktor politik," tegasnya.
 
Preventif

Ia membeberkan, nanti akan nampak sebuah citra yang diisi dengan pengetahuan terukur dan tindakan preventif yang benar sesuai definisi yang disepakati terlebih dahulu. "Sayangnya, kita belum ada definisi yang baku terkait teroris," bebernya.

"Nah, nanti dipersidangan BNPT bisa menjelaskan gambarannya yang bisa dipublish kepada masyarakat, bagaimana teroris dan seperti apa yang dikatakan terduga teroris atau bahkan radar yang ditetapkan sebagai teroris, sebutkan saja," ucapnya.

Ia mempermisalkan, ada ustaz yang dihubungi dalam konteks dakwah keislaman. Seandainya di duga tersusupi faham teroris dan radikal, maka ada langkah preventif dari awal dan pendekatannya seperti apa.

"Contohnya Ustaz Farid Okbah (UFO) pada 19 Juli 2020 bersama Farmusi diterima presiden di Istana. Jika ada jejak di tahun 2017-2018 sebelumnya pernah ke Afghanistan, tahun 1993 ikut pelatihan perang, itu kan 28 tahun lalu. Kok bisa masuk istana, lalu kapan menjadi teroris? di mana cegah dan tangkalnya? Ini kan menarik," katanya.

Ia menanyakan, kalau diduga sudah lama berinteraksi dengan masyarakat, bagaimana masyarakat yang didakwahi beliau, mungkinkah akan divonis sebagai teroris yang tersusupi paham radikal. Menurutnya, hal tersebut menjadi masalah kompleks.

"Penegak hukum mempunyai data awal, kemudian melakukan tindakan preventif atau apapun namanya, nanti akan diuji dan masyarakat akan menilai dengan objektif," lanjutnya.

Ia menegaskan, isu teroris terjadi sudah cukup lama, yaitu sejak bom Bali dan Marriot. Hal tersebut bisa dibuat data dan dikoneksikan ke mana jaringannya. 

"Didefinisikan terornya, diklasifikasikan separatisnya, masyarakat diberikan pemahaman dan informasi, lalu dilakukan langkah preventif bersama-sama, tidak bisa dilakukan oleh satu elemen atau instrumen saja," tegasnya.

Ia menyimpulkan bahwa apa yang disangkakan kepada mereka atau warga negara yang lain dengan aspek luas bisa diuji dipersidangan. Hasil itu harus memberikan citra kepada masyarakat sekaligus pembinaan dan sinergi cegah dan tangkal.

"Supaya ke depannya tidak ada aksi teror yang membuat bahaya pada kehidupan bernegara dan berbangsa, sebab sekarang terorisnya kompleks, misal teroris verbal, fisik, teroris bentuk ekonomi seperti korupsi dan ini adalah teror yang lebih dahsyat karena pelan-pelan mematikan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta narkoba teroris medis. Sehingga PR nya cukup kompleks," pungkasnya.[] Nurmilati

Posting Komentar

0 Komentar