Tip Memuliakan Suami

TintaSiyasi.com-- Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang dikehendaki Allah SWT agar manusia mendapatkan ketenangan, rasa cinta, kasih sayang, saling ketertarikan bersama pasangan hidup. Semua ini tidak akan bisa diraih, kecuali jika suami istri mengarungi bahtera rumah tangga dengan dorongan iman, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Mustahil kebahagian dan juga kondisi yang sakinah, mawaddah warahmah itu diraih oleh pasangan suami istri tanpa berlandaskan pada keimanan. Karena keimanan, maka akan muncul rasa sukur, ta’at, qana’ah serta harapan untuk mendapatkan balasan terbaik di hari kemudian sehingga pasangan suami istri sama-sama memahami bahwa bahtera rumah tangga bukanlah kehidupan yang hakiki melainkan ia adalah ujian dan medan perjuangan. Karena kehidupan yang hakiki ada setelah yaumil akhir.

Allah SWT berfirman di dalam surah Az Zukhruf [43] ayat ke 70,

اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ

Artinya: “Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.”

Ayat inilah yang membedakan rumah tangga Muslim yang senantiasa memperhatikan apakah rumah tangganya telah berlayar sesuai dengan koridor syariat dengan rumah tangga yang lain. Karena keimanan yang menghujam di dalam dada pasangan Muslim akan yakin bahwa syariat yang berasal dari Dzat yang Mahasempurna akan menuntun suami istri agar senantiasa menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban bersama. Hak dan kewajiban suami ataupun istri telah ditetapkan oleh Allah SWT sang pembuat hukum yang terbaik. Dari sini, pasangan suami istri akan mampu bersikap bagaimana memperlakukan pasangannya.

Tanpa adanya syariat, niscaya bahtera rumah tangga akan berjalan tanpa arah. Tidak menjamin untuk didapatkannya ketenangan, rasa cinta yang kian dipupuk, apalagi saling berkasih  sayang. Justru yang sering muncul malah menimbulkan pertengkaran. Karena memuliakan pasangan itu membutuhkan parameter, tidak hanya mengandalkan perasaan semata. Perasaan manusia itu memiliki kecenderungan yang tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga parameter yang hakiki adalah syariat, sehingga makna hakiki pernikahan itu adalah untuk meraih ridha Allah SWT.
Memuliakan pasangan, khususnya suami dapat dilakukan dengan memenuhi hak (kebutuhan)nya. Dan yang mesti dipahami dan dipenuhi oleh istri, hak ataupun kebutuhan suaminya ini tidak sekadar mengikuti perasaan, siklus kehidupan social ataupun biologis saja. Melainkan ini merupakan hukum syara’ yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Sehingga istri harus betul-betul sadar bahwa tatkala ia memenuhi kebutuhan suami, maka ia tidak hanya sekadar membahagiakan suaminya, namun yang terpenting ia telah menunaikan salah satu kewajibannya di hadapan Allah SWT yakni taat, berbakti, dan memuliakan suami. Oleh karena itu, seorang istri harus melandasinya dengan keimanan tatkala memenuhi hak ataupun kebutuhan suaminya. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa, “Jika seorang istri itu shalat, puasa, menjaga kemaluan (martabat)nya, taat kepada suami, maka ia akan dipersilahkan untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya”.

Bahkan di hadis lain disebutkan bahwa kedudukan istri itu sangat ditentukan oleh posisinya di hadapan suami. Jika suami ridha maka ia akan mendapatkan Jannah. Begitu juga sebaliknya, ia tidak mendapat ridha dari suaminya maka ia akan mendapatkan kemurkaan dari Allah SWT. Seorang istri harus menjalankan semua kewajibannya sebagai istri dengan dorongan iman dan dorongan keyakinan bahwa ini semua dilakukan untuk meraih ridha dari Allah SWT, sehingga istri menyayangi dan menghormati suami sebagai kepala rumah tangga.

Ada 5 hak ataupun kebutuhan suami yang mesti dipenuhi istri, yaitu:

Pertama. Apresiasi dan hormati posisi suami sebagai qawwam (pemimpin), sebagaimana yang Allah kokohkan di dalam surah An Nisa [4] : 34, 

الرجال قوامون على النساء

Artinya: “Laki-laki adalah qawwam bagi perempuan.”

Istri harus mengapresiasi posisi suami karena suami adalah pemilik atas kepemimpinan di rumah tangga meskipun andaikata suami adalah bawahan istri di tempat kerja. Akan tetapi di dalam rumah tangga suami adalah pemimpin yang wajib ditaati kepemimpinannya selagi tidak menyalahi aturan syariat.

Jika ada sesuatu yang kurang tepat dalam kepemimpinannya maka istri cukup memberikan pemakluman ataupun maaf selagi hal tersebut tidak dalam hal prinsipil. Jika sudah menyangkut hal yang prinsip, maka istri wajib untuk menasihati suami tanpa menghilangkan apresiasi dan penghormatan atas kepemimpinannya.

Kedua. Hormati pekerjaan dan nafkah yang diberikannya. Seorang istri harus bersukur dengan penuh kekhidmatan atas nafkah yang diberikan suami. Tetap hormati pekerjaan suami selagi pekerjaannya halal dan dibenarkan oleh hukum syara’. Istri tidak boleh abai bahkan menganggap remeh profesinya.

Ketiga. Pemenuhan kebutuhan biologis. Nabi saw. telah mengingatkan bahwa, “Jika seorang suami mengajak istrinya ke atas ranjangnya, tetapi ia tidak mematuhinya, maka para Malaikat akan melaknatnya sampai pagi" (HR. Muslim nomor 1436).

Kemudian istri juga harus paham bahwa kebutuhan biologis suami itu lebih cepat dan lebih sering muncul jika dibandingkan dengan perempuan. Sehingga istri harus paham kondisi ini sehingga dengan dorongan keimanan si istri memenuhinya.

Keempat. Hormati dan muliakan orang tuanya terutama ibunya. Setelah Allah dan Rasul, Seorang anak perempuan ketaatannya yang tadinya kepada orang tuanya berubah menjadi kepada suaminya. Namun berbeda demgam anak laki-laki yang tetap berbakti pada orang tuanya meskipun ia telah menikah. Seorang istri yang salihah adalah istri yang senantiasa membantu suami untuk berbakti kepada orang tuanya. Sementara seorang suam yang shalih adalah suami yang mampu menyeimbangkan posisi anak istri dengan orang tuanya.

Kelima. Berikan ‘Me Time’ kepada suami. Suami terkadang butuh untuk menikmati dunianya seperti mengoleksi hewan peliharaan, memancing ataupun berkumpul bersama teman-temannya. Seorang istri tidak boleh menjadi pribadi yang posesif. Oleh karenanya, selagi tidak berlebihan, persilahkan suami untuk menikmati ‘me time’ nya selagi tidak bertentangan dengan syariat.

Jika seorang istri ingin disayang oleh suaminya, maka 5 hal ini adalah hal yang wajib diperhatikan dan dipenuhi. Semoga Allah SWT memudahkan pasangan suami istri untuk saling membersamai dalam mengarungi bahtera rumah tangganya, untuk meraih ridha Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Novida Sari, S.Kom.
(Alumni Komunitas Istri Strong)

Posting Komentar

0 Komentar