Sedikit ataupun Banyak, Minol Selamanya Haram

TintaSiyasi.com -- Hari ini zaman serba materialistis, materi dijadikan standar kebahagiaan hidup. Sehingga A bisa menjadi Z, sebaliknya Z menjadi A. Inilah gambaran fakta dalam sistem kapitalisme sekularisme. Asalkan mendatangkan keuntungan, yang haram bisa menjadi halal (boleh). Sebagaimana yang baru-baru ini terjadi pro-kontra, yakni tentang miras (minuman keras) dan minol (minuman beralkohol) diperbolehkan untuk kepentingan mendongkrak pariwisata.

Tempo.co (9/11/2021) melansir, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2021 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor telah diterbitkan. Lewat beleid ini, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memperlonggar aturan bagi penumpang dari luar negeri yang membawa barang bawaan berupa minuman beralkohol untuk dikonsumsi sendiri.

Saat ini, penumpang hanya bisa membawa maksimal 1 liter saja per orang. Tapi mulai 1 Januari 2022, mereka bisa membawa maksimal 2,25 liter per orang. Kelonggaran ini diberikan untuk mendorong sektor pariwisata. "Khususnya untuk menarik turis asing yang fanatik membawa minuman beralkohol dari negaranya," kata Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Indrasari Wisnu Wardhana kepada Tempo, Senin, 8 November 2021.


Minol Merugikan Anak Bangsa

Peraturan Menteri Perdagangan nomor 20 ini menimbulkan pro-kontra di negeri dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar dunia. Sebab khamr atau yang hari ini dikenal sebagai miras dan minol hukumnya haram (tidak boleh dikonsumsi) bagi seorang Muslim. Baik jumlahnya banyak ataupun sedikit, hukum khamr tetaplah haram. Sesuatu yang haram dikonsumsi, maka dilarang diperjualbelikan maupun dilegalkan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi membatalkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2021 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Sikap ini disampaikan karena beleid ini mengizinkan penumpang dari luar negeri membawa lebih banyak minuman beralkohol dari sebelumnya. “Kami berharap Permendag ini dibatalkan, demi menjaga moral dan akal sehat anak bangsa juga kerugian negara," kata Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Muhammad Cholil Nafis, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 6 November 2021 (Tempo.co, 7/11/2021).


Sudut Pandang Hidup ala Kapitalisme 

Tak bisa dipungkiri, meski Indonesia berpenduduk Muslim terbesar dunia namun faktanya kapitalisme lah yang dijadikan sebagai sistem hidup. Acuan dalam membuat aturan atau hukum adalah asas manfaat (materi). Kepentingan materi (uang) akan selalu dinomorsatukan dalam pembuatan aturan, tanpa mempertimbangkaan secara serius efek negatif yang akan ditimbulkan. 

Sudah banyak bukti bahwa peraturan yang dibuat di negeri ini lebih mengedepankan faktor ekonomi. Lebih nyata lagi, pertumbuhan ekonomi yang digaungkan dalam kapitalisme adalah kesejahteraan ekonomi para pemilik modal (kapital). Salah satu peraturan yang sejatinya merugikan namun dianggap menguntungkan adalah Permendag nomor 20. Miras ataupun minol terbukti merusak akal dan menjadi biang dari segala kemaksiatan. Akan tetapi, miras/minol tidak diharamkan di negeri ini, hanya diatur tentang peredarannya. Berbeda halnya dalam sudut pandang sistem Islam. Standar atau tolok ukur perbuatan maupun benda adalah aturan Ilahi (syariah). Ketika minol/khamr diharamkan oleh Ilahi, maka tidak ada kompromi untuk melegalkannya.


Minol Selamanya Haram

Perlu dipahami bahwa manusia diciptakan ke muka bumi ini untuk beribadah (menjadi hamba-Nya). Selayaknya seorang hamba, segala aturan yang diberikan oleh-Nya sudah semestinya dipatuhi. Baik aturan yang berupa perintah maupun larangan. Kepentingan duniawi tidak menjadi standar atau prioritas. Sebab kebahagiaan hidup seorang hamba semestinya adalah ridha-Nya. 

Allah sebagai Al Khaliq (Sang Pencipta) dan Al Mudabbir (Sang Pengatur) menurunkan aturan hidup (syariah) agar hidup manusia terarah. Lebih tepatnya, agar manusia memahami hakikat penciptaan dirinya. Khamr atau minol telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Setelah ditelisik, bahaya minol ternyata lebih besar dibandingkan manfaatnya bagi manusia. Ketika manusia mengkonsumsi minol, maka keburukan akan senantiasa mengiringi dirinya. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al Maidah ayat 90).

Sabda Nabi SAW, "Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas, sedangkan di antara keduanya terdapat hal yang syubuhat (kurang jelas halal dan haramnya) kebanyakan orang tidak jelas mengetahuinya." (HR. bukhari dan Muslim dari an-Nu'man bin Basyir).

Hadis ini menempati kedudukan yang tinggi dalam syariat. Mengandung sepertiga masalah dien bagi siapa yang memahaminya. Di dalamnya terdapat tiga macam hukum. Pertama, sesuatu yang halal, sudah jelas dan gamblang, tidak ada kesamaran tentangnya. Kedua, sesuatu yang haram, juga seudah jelas dan gamblang, tidak ada kesamaran tentangnya. Dan ketiga, sesuatu yang shubuhat, yang tidak banyak orang mengetahuinya, tetapi diketahui oleh sebagian mereka.

Wahai kaum Muslim, tidak ada pilihan lain bagi seorang Muslim kecuali terikat pada syariah-Nya. Sementara itu, mustahil syariah-Nya bisa dijalankan secara menyeluruh jika sistem hidup yang diterapkan adalah kapitalisme sekularisme. Sebab asas kapitalisme sekularisme bertolak belakang dengan asas Islam. Sedangkan Islam diturunkan sebagai agama sekaligus ideologi hidup yang sudah semestinya diterapkan secara menyeluruh dalam aspek kehidupan. 
Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Happy Ummu Syakila
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar