Rekontekstualisasi Syariah, Ahli Fiqih: Modus Menjadikan Islam Bukan sebagai Standar Hukum


TintaSiyasi.com-- Menanggapi pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas terkait wacana rekontekstualisasi syariah, Ahli Fiqih Islam K.H. Shiddiq Al-Jawi mengatakan, hal tersebut hanyalah modus untuk tidak menjadikan ajaran Islam sebagai standar hukum. 

”Nah, jadi ini saya kira modusnya. Rekontekstualisasi atau reaktualisasi itu sebenarnya menjadikan ajaran Islam itu bukan sebagai standar (hukum)," paparnya dalam Diskusi Online Media Umat: Yang Tersembunyi di Balik Moderasi, di YouTube Media Umat, Ahad (7/11/2021).

Kiai Shiddiq mengatakan, yang menjadi standar adalah fakta kekinian yang sebenarnya berasal dari peradaban Barat. Sementara, ajaran Islam menjadi sesuatu yang distandardisasi.

"Rekontekstualisasi syariah ini merupakan upaya menundukkan agama Islam, khususnya syariah Islam," ungkapnya.

Ia berpendapat bahwa syariat Islam akan disesuaikan dengan fakta yang sekarang ada, baik berupa norma, misalnya sistem politik demokrasi, sistem ekonomi kapitalisme, maupun fakta dalam arti realitas empiris yang ada.

"Jadi, rekontekstualisasi atau reaktualisasi itu begini. Ada dua hal. Satu hal di sini ada Islam. Hal kedua adalah fakta yang ada sekarang, baik dari segi ilmu, norma maupun yang dipraktikkan," terangnya.

Ia menjelaskan, Islam itu dianggap harus menyesuaikan dengan realitas yang ada. "Jadi, kalau Islam itu tidak cocok dengan realitas yang ada, maka Islamlah yang kemudian menyesuaikan diri dengan realitas yang ada," jelasnya.

Ia mencontohkan praktik menyesuaikan Islam dengan fakta pernah terjadi pada masa Menag Munawir Sjadzali.

"Menag waktu itu menyatakan ketentuan waris seperti dalam Al-Qur'an surah An-Nisaa yang menjelaskan perbandingan waris dua berbanding satu bagi laki-laki dan perempuan tidak sesuai dengan fakta kekinian," terangnya. 

Ia mengatakan, alasan Pak Munawir waktu itu karena faktanya perempuan juga bekerja, maka bagian waris laki-laki dan perempuan harusnya sama, yaitu satu berbanding satu.

"Nah, saya itu akhirnya berpikir, ini kok seakan-akan fakta jadi patokan. Sehingga hukum waris Islam yang sudah qath’i atau tegas ini harus tunduk pada realitas,” ujarnya. 

Ia mengumpamakan, posisi Islam dan realitas sekarang bagaikan imam dan makmum dalam sholat berjamaah, dimana makmum akan selalu mengikuti imam.

"Rekontekstualisasi hendak menjadikan fakta atau realitas sebagai imam, sementara Islam sebagai makmum," bebernya. 

Ia mengartikan, fakta dijadikan standar atau tolok ukur. Padahal, seharusnya Islam yang dijadikan standar atau tolok ukur. "Maka, seorang Muslim harus menjadikan Islam sebagai standar atau tolok ukur," tegasnya.

Kemudian ia membacakan hadis riwayat Al-Hakim, yaitu, Rasulullah SAW bersabda: Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga hawa nafsunya itu tunduk kepada Islam yang aku bawa,” pungkasnya.[] Binti Muzayyanah

Posting Komentar

0 Komentar