Prof. Fahmi Amhar Paparkan Tiga Pemaknaan yang Salah dalam Memaknai Sejarah


TintaSiyasi.com -- Himpunan Ilmuawan Muslim Indonesia Prof. Dr.-Ing Fahmi Amhar memaparkan tiga sikap yang salah dari kaum Muslim dalam memaknai sejarah. 

“Saya ingin melihat fenomena akhir-akhir ini tentang apa yang kita sebut tentang bagaimana orang itu memaknai sejarah dalam kehidupan. Maka saya lihat ada dua cara pandang hari ini, atau tiga lah,” ujarnya dalam [LIVE] FGD ke-24 FMDB - Menimbang Secara Objektif Sejarah Indonesia di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (6/11/2021). 

Menurutnya, sikap salah yang pertama adalah grandiose, yaitu sikap melebih-lebihkan, terlalu mengagung-agungkan masa lalu, namun refleksinya untuk saat sekarang tidak terlalu besar.

“Yang pertama, cara pandang yang menganggap apa yang oleh Prof. Kiki tadi dianggap sebagai grandiose,” ujarnya. 

Ia mengungkapkan, bentuk grandiose sesat yang berkembang di tengah kaum Muslim terutama adalah menganggap bahwa seolah-olah sebelum ada peradaban Islam itu tidak ada sains. Dan setelah era keemasan peradaban Islam, seluruh teknologi itu sebenarnya hanya mencuri dari teknologi Islam. 

“Menganggap bahwa seolah-olah seolah-olah sebelum ada peradaban Islam itu tidak ada sains. Dan setelah peradaban Islam, setelah era keemasan Islam, itu seluruh teknologi itu sebenarnya hanya mencuri dari teknologi Islam. Itu menurut saya adalah bentuk grandiose yang agak tersesat,” ungkapnya. 

Ia mengibaratkan, kalau jumlah elemen sains dan teknologi hari ini ada 1000, maka peradaban Islam itu menyumbang kira-kira 100, yang 10 dari 100 itu disumbang oleh peradaban sebelum Islam. Sedangkan setelah peradaban Islam, peradaban lain menyumbang 900. Namun yang 900 itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada yang 90 tadi. 

“Kalau jumlah elemen sains dan teknologi hari ini itu ada 1000 itu peradaban Islam itu menyumbang kira-kira 100. Yang 10 dari 100 itu disumbang oleh peradaban sebelum Islam, peradaban Yunani kuno, Persia, Mesir kuno, India kuno, Cina kuno. Sedangkan setelah peradaban Islam, setelah Renaissance, peradaban lain seperti Jerman, Perancis, Spanyol, Jepang, Amerika, itu menyumbang 900. Tapi mereka yang 900 itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada yang 90 tadi,” imbuhnya.

Prof. Fahmi menjelaskan pemaknaan salah yang kedua, yaitu pendiskreditan. Pemaknaan ini dilakukan oleh orang yang tidak suka bahwa Islam itu bangkit, besar, dan memiliki sejarah yang bagus. Pendiskreditan itu dilakukan dengan memberi cap negatif kepada ilmuwan-ilmuwan Muslim. Ibnu Sina di cap kafir. Al-Khawarizmi dianggap praktisi meramal nasib dengan angka-angka. Abu Qasim al Zahrawi, seorang ahli bedah, dianggap seorang dukun dan praktisi perdukunan, dan sebagainya. Sehingga tidak nampak bahwa mereka adalah orang-orang terdidik yang lahir dari peradaban Islam 

“Sangat menyedihkan sekali. Saya kira ini suatu cara untuk mendiskreditkan, dan itu pengkaburan sejarah,” jelasnya. 

Menurutnya, pemaknaan salah yang ketiga adalah nostalgisme, yakni mengenang sejarah Islam dengan tidak grandiose, tetapi berhenti pada nostalgia. Mereka yang terpengaruh nostalgisme akan merasa seolah-olah sudah menguasai sains Islam ketika mampu menyebutkan nama-nama ilmuwan Muslim di masa lalu. 

“Jadi mengenang sejarah Islam, itu tidak terlalu grandiose, Tetapi hanya nostalgia jadi berhenti pada nostalgia,” ujarnya. 

Ia juga mengajak umat Islam untuk mempelajari sejarah dengan adil agar terlepas dari pembelokan. Ia juga mengungkapkan, sangat sulit bagi umat Islam hari ini jika ingin menyusul kemajuan sains dan teknologi dari peradaban Barat. Namun, dengan adanya dakwah Islam yang dilakukan oleh negara, tidak mustahil suatu hari nanti akan banyak ilmuwan-ilmuwan Barat yang masuk Islam. Karena semua bangunan aqidah Islam itu rasional dan cocok dengan perkembangan sains. 

“Tapi kalau dakwah Islam itu berjalan dengan benar, bahkan negara berperan dalam dakwah, tidak mustahil bahwa suatu hari nanti ilmuwan-ilmuwan nanti akan menemukan Islam itu yang paling cocok untuk sains,” tutupnya. [] Nurwati

Posting Komentar

0 Komentar