Jurnalis Ini Pertanyakan Pertemuan Menhan RI dan Wakil Isr43l


TintaSiyasi.com -- Jurnalis Joko Prasetyo mempertanyakan pertemuan Menteri Pertahanan Republik Indonesia (RI) Prabowo dengan Kuasa Usaha Isr43l untuk Bahrain Itay Tagner. "Karena Amerika Serikat dan Israel selalu berusaha keras agar terjalin normalisasi antara Israel dengan berbagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim," ujarnya kepada TintaSiyasi.com, Ahad (21/11/2021).

Menurutnya, tak menutup kemungkinan usaha itu dilakukan ke Indonesia, negeri mayoritas Muslim terbesar sedunia. "Upaya normalisasi di berbagai negara di Timur Tengah membuahkan hasil. Maka Israel pun akan semakin optimis hal yang sama bisa dilakukan dengan Indonesia," katanya.

"Apalagi, selama ini sudah terjalin hubungan dagang, padahal hubungan diplomasi itu belum ada. Ibaratnya, sudah hidup bak suami istri padahal enggak ada akad nikah. Kan, tinggal akad nikah doang ya?" imbuhnya.

Menurutnya, normalisasi (hubungan diplomatik) itu adalah bentuk pengakuan Israel ---penjajah Yahudi atas negeri kaum Muslim Palestina--- sebagai negara, bukan sebagai penjajah. "Jadi, penjajahan Israel atas Palestina tidak dianggap lagi sebagai bentuk penjajahan, tapi hanya sebagai bentuk negara yang tengah membela diri dari yang kata mereka sebagai serangan teroris," bebernya.

Ia menjelaskan, karena pada faktanya, para mujahidin yang mempertahankan negerinya dari penjajahan Israel itu memang dicap sebagai teroris oleh Amerika Serikat dan Israel. "Coba cek daftarnya, maka akan ditemukan Hamas dan para mujahidin lain yang berjihad melawan penjajahan Israel dicap sebagai teroris oleh kafir penjajah tersebut," katanya.

Opsi Lain

Om Joy, sapaan akrabnya, sempat menduga, selain untuk normalisasi, pertemuan Menhan RI dengan Kuasa Usaha Israel adalah untuk pembebasan Palestina dari penjajahan Israel. Ia pun menyadari opsi tersebut kemungkinannya sangatlah kecil.

Ia mengatakan, meski dalam Pembukaan UUD 1945 dicantumkan, "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." 

"Tetapi rekam jejak rezim ini (maupun rezim sebelumnya) tidaklah memiliki iktikad untuk mengusir penjajah Yahudi di tanah kaum Muslim, tidak tampak iktikad untuk menjaga Masjidil Aqsa, Tanah Suci ketiga kaum Muslim, dari kejahatan penjajah," katanya.

Sebaliknya, ia melihat dalam berbagai kesempatan, rezim ini (maupun rezim sebelumnya) malah selalu mengatakan two state solution (solusi dua negara). 

"Rezim seolah lupa, bahwa dulu Nusantara pernah dijajah Belanda. Para mujahidin dulu tak rela sejengkal tanah pun dikuasai Belanda, apalagi solusi dua negara: separuh buat kita, separuhnya lagi buat Belanda. Tapi seratus persen buat kita, karena ini tanah kita!" tegasnya.

Ia heran, mengapa giliran tanah kaum Muslim di Palestina, rezim ini selalu bicara solusi dua negara? "Karena tak lain dan tak bukan, rezim ini ---setidaknya dalam kasus ini--- hanyalah sebagai juru bicaranya Amerika Serikat saja," katanya.   

Bila pakai aturan Islam, ia menegaskan, sudah semestinya para penguasa negeri kaum Muslim berjuang mengusir penjajah dari tanah suci kaum Muslim ketiga tersebut. Tapi sampai detik ini, ia melihat, para penguasa negeri kaum Muslim malah semakin banyak yang melakukan normalisasi dengan penjajah tersebut. 

"Dengan kata lain, mereka terang-terangan menjadi pengkhianat. Kalau enggak ada hubungan diplomatik tetapi menjalin hubungan, hubungan dagang misalnya, seperti yang dilakukan Indonesia, berarti berkhianat secara sembunyi-sembunyi," jelasnya.

Begitulah fakta menunjukkan relasi antara Israel dengan para penguasa kaum Muslim yang Om Joy cermati. Selain mencampakkan satu-satunya sistem pemerintahan Islam yang syar'i, yakni khilafah/kepemimpinan umum seluruh kaum Muslim sedunia yang menerapkan syariat Islam secara kaffah di dalam negeri dan menjadikan dakwah dan jihad sebagai politik luar negerinya, Om Joy menilai, mereka juga enggan menjalankan kewajiban berjihad melawan Israel atau kafir penjajah lainnya.

"Memang tak ada pilihan lain bagi kaum Muslim selain berjuang menegakkan khilafah. Di bawah komando khilafah, kaum Muslim berjihad mengusir penjajah dari tanah suci ketiga kaum Muslim tersebut," lugasnya.

Ia mengatakan, sebagaimana dulu Palestina bersatu dengan Khilafah Rasyidah di masa Khalifah Umar bin Khathab ra, begitu juga saat ini. "Sebagaimana dulu ketika Shalahuddin al-Ayyubi mengusir penjajah Salibis dari Palestina dan mengembalikan kembali tanah suci ketiga tersebut ke pangkuan Khilafah Abbasiyah, begitu juga kita saat ini. Sebagaimana Khalifah Abdul Hamid II menjaga Palestina agar tetap di bawah Naungan Khilafah Utsmani, begitu juga kita saat ini," jabarnya.

Ia mengajak umat Islam memantaskan diri untuk menyambut nashrullah tersebut. "Insyaallah, di bawah komando khalifah amanah dalam naungan khilafah rasyidah kedua yang insyaallah akan segera tegak, aamiin, kaum Muslim dapat membebaskan Palestina dari penjajah Israel, Aamiin," tuntasnya.[] Ika Mawarningtyas


Posting Komentar

0 Komentar