Peristiwa 10 November 1945, Filolog Ungkap Seruan Jihad Fisabilillah Disambut Pekik Takbir


TintaSiyasi.com-- Sejarawan dan Filolog Salman Iskandar mengungkapkan bahwa seruan jihad fisabilillah pada peristiwa 10 November 1945 disambut dengan pekik takbir.

"Pada peristiwa 10 November 1945, pasukan rakyat, baik dari Hizbullah atau Sabilillah menyambut seruan jihad fisabilillah dengan teriakan pekik takbir Allahu akbar," ungkapnya dalam acara yang berjudul Islam Menggugat !!! Siapa Pahlawan? Spirit Jihad Islam vs Kebangsaan di YouTube ngaji shubuh, Jum'at (5/11/21).

Ia menjelaskan, pada tanggal 10 November, ketika berakhirnya jam malam. Batas berakhirnya ultimatum tentara sekutu kepada pasukan rakyat, baik dari Hizbullah atau Sabilillah, agar menyerah dengan mengangkat tangan sekaligus menyerahkan senjatanya tidak digubris, maka sejak saat itu pula, jam 6 pagi Kota Surabaya dibombardir oleh pasukan sekutu. "Baik dari arah udara, laut, dan darat," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, ribuan jiwa terluka, dan puluhan ribu jiwa syahid, pada palagan Surabaya itu. Didasari oleh keimanan, keislaman, rakyat Surabaya yang mentaati dan meyakini seruan para alim ulama baik dari pengurus besar NU atau pengurus besar Masyumi. "Yang mengatakan radius 94 km dari pusat Kota Surabaya kaum Muslim wajib fardhu 'ain mengangkat senjata untuk mempertahankan kota, menjaga kota, melindungi kota dari jamahan orang-orang kafir penjajah," jelasnya.

Ia membacakan dalil yang di serukan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Hajj ayat 39 yang artinya: "Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi."

"Yang artinya mereka meninggikan kalimat Allah di jalan jihad fisabilillah karena mereka telah diridhai, mereka telah di izinkan oleh Allah SWT. untuk berperang karena mereka telah dizalimi," paparnya.

Ia mengungkapkan, tokoh perjuangan Bung Tomo juga memenuhi seruan jihad dari para alim ulama dengan pekik Allahu Akbar. Sehingga laskar rakyat perjuangan, laskar-laskar yang dibentuk oleh kaum Muslim di Surabaya, perjuangan rakyat Hizbullah dan Sabilillah berhasil mengusir kaum penjajah. "Dan mempertahankan kota Surabaya dari ancaman ataupun upaya penguasaan dari kafir penjajah," lanjutnya.

Ia memaparkan, peperangan tersebut berlangsung sampai sebelas bulan, ketika tentara sekutu telah kehabisan amunisi dan kalah oleh kekuatan jihad kaum Muslim. Maka pada bulan September 1946 pasukan sekutu dipanggil pulang.

Mereka pulang dengan tertunduk malu. "Karena mereka sebagai pasukan pemenang Perang Dunia II, dikalahkan oleh laskar perjuangan rakyat, bukan oleh tentara profesional," ungkapnya.

Ia mengatakan, ketika Bung Karno yang mendengar kabar bagaimana perang yang berkecamuk di Surabaya, "Menetapkan dan menyetujui usulan bahwa 10 November itu kemudian ditetapkan dinyatakan sebagai Hari Pahlawan," katanya. 

Pahlawan

Salman Iskandar juga menjelaskan tentang makna pahlawan. Mengacu pada istilah kamus, istilah bahasa bahwasanya yang namanya pahlawan itu berdasarkan dua bentukan kata, pahala dan wan, yaitu manusia yang memiliki banyak amal kebaikan. 

"Yang namaya pahlawan itu adalah orang yang memiliki banyak amal kebaikan," terangnya.

Ia membeberkan, siapa pahlawan nasional Indonesia sesungguhnya.Ternyata untuk menentukan pahlawan nasional Indonesia, sesungguhnya bergantung pada kebijakan dan kepentingan politik rezim penguasa yang ada. 

"Artinya bergantung pada ideologi yang di usung oleh para penguasa, sehingga untuk menentukan siapa pahlawan negeri ini sering menimbulkan ada prokontra ya debatable adanya kontroversi," ungkapnya.

Ia menjelaskan, siapapun bisa jadi pahlawan asalkan memiliki jasa besar, dan luar biasa bagi umat dan bangsa. Dan pahlawan yang hebat sepanjang masa itu adalah dialah Muhammad SAW.

"Yang memiliki jasa besarnya menghantarkan jalan hidayah untuk umat manusia hingga kita selamat dunia dan akhirat," pungkasnya.[]Isty da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar