Peneliti Senior LIPI-BRIN: Sejarah yang Benar Itu yang Tafsirnya Macam-Macam


TintaSiyasi.com-- Menyoal tafsir sejarah yang berkembang di masyarakat, Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof (Ris). Dr. Hermawan Sulistyo, M.A. mengatakan, sejarah yang benar adalah sejarah yang tafsirnya bermacam-macam. 

“Sejarah yang benar itu sejarah yang tafsirnya macam-macam,” tuturnya dalam FGD ke-24 FDMB: Menimbang Secara Obyektif Sejarah Indonesia di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (6/11/2021). 

Ia mengatakan, terdapat anakronisme sejarah, yakni ketika menilai sejarah pada masa kemerdekaan Indonesia dalam konteks masa kini tidak sesuai, oleh karenanya harus ditafsirkan dalam konteks lingkungan pada waktu tersebut dan sebaliknya masa sekarang tidak bisa dibawa dalam konteks masa lalu. 

“Contoh bagaimana tafsir tahun 1965 peristiwa sejarah kita pada tahun 1965 dalam konteks sekarang saya 20 tahun mengublek-ublek topik itu untuk disertasi apa yang terjadi kasus PKI, isu tentang PKI ditafsirkan dalam konteks politik sekarang untuk pertarungan politik ini anakronisme sejarah dan sebaliknya konteks tahun 65 posisi Pak Harto pada tahun 1965 sampai tahun 1971 ditafsirkan seperti Pak Harto tahun 1982 ketika menjadi Presiden lagi hingga kesekian kalinya yang kepemimpinannya sangat buruk tidak bisa,” paparnya. 

Ia menambahkan, akan terjadi  anakronisme sejarah, oleh karena itu terjadi pembelokan sejarah. “Sejarah memang tidak ada yang lurus karena sejarah itu sesuai tafsirnya siapa yang menafsirkannya,” imbuhnya. 

Ia menjelaskan, dalam konteks sejarah nasional maka tafsir sejarah di monopoli dikuasi, dan didominasi oleh narasi-narasi dari pemenang pertarungan politik. Sehingga kalau berbicara sejarah tahun 1965, andaikan yang menang adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), maka sejarah Indonesia tidak akan seperti sekarang. Pastilah TNI dituduh sebagai jadi penjahat, namun karena PKI kalah dan yang menang TNI, maka penjahatnya jelas PKI. 

“Narasi-narasi ini berubah setiap saat tergantung kekuasaan politik ditangan siapa, kita lihat seperti misalnya kasus sejarah Kamboja sejarah di Kamboja pada masa pendudukan Vietnam antara 1975-1978 itu pasukan Vietnam dan orang Vietnam dianggap membebaskan Kamboja dari Komunisme Cina, maka Komunisme Vietnam yang menjadi pahlawan ketika terjadi pergolakan pergantian kekuasaan maka Komunisme Vietnam menjadi penjahat ini yang terjadi,” paparnya. 

Ia mengatakan, bahwa sejarah yang ditulisnya adanya benar karena semua orang marah dan tidak setuju. “Disertasi 'Saya Palu Arit di Ladang Tebu' itulah sejarah yang benar, kenapa sejarah yang benar?  Karena menurut TNI Angkatan Darat (AD) terutama ini buku membela PKI jadi di sweeping, menurut PKI buku ini membela NU dan AD jadi oleh PKI, mantan-mantan PKI buku ini dibakar oleh NU agak dibenarkan saya menjadi konsultan PBNU menulis sejarah ulang versinya PBNU, kalau tidak akan dibakar juga oleh NU karena dianggap membela PKI,” pungkasnya.[] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar