PB HMI: Negara dalam Keadaan Tidak Baik-Baik Saja


TintaSiyasi.com-- Ketua Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Afandi Ismail menilai bahwa negara dalam keadaan tidak baik-baik saja.

"Memang situasi hari ini bangsa dan negara kita secara umum ingin saya mengatakan bahwa dalam keadaan yang tidak baik-baik saja," ungkapnya dalam Dialogika Soempah Pemoeda: Pergulatan Sekuler vs Islam di YouTube Peradaban Islam ID, Kamis (20/10/21)

Ia melanjutkan bahwa negara bisa dikatakan dalam keadaan darurat dan kalau kemudian negara, bangsa dan tanah air tidak segera diselamatkan terutama atas semangat anak muda yang ingin melihat bangsa dan negaranya benar-benar merdeka, maka ini akan mengkhawatirkan.

"Sejatinya yang dimaksud penjajahan itu bukan hanya penjajahan fisik, bukan hanya ketika kita ditembak, kemudian kita dibunuh oleh asing, tetapi ketika pemikiran kita, ketika kesadaran kebangsaan kita, ketika kecintaan kepada bangsa Indonesia ini dipudarkan melalui berbagai macam cara," lanjutnya.

Menurutnya, hal tersebut akan membuat rakyat hanya mampu mengungkap lisan saja. "Saya Pancasila, saya Indonesia, tapi pada prakteknya jauh dari pada itu," katanya. Ia menegaskan bahwa itulah bentuk hegemoni dan penjajahan sesungguhnya yang tengah terjadi pada hari ini. 

Seremonial

Ia menyesalkan, saat Hari Sumpah Pemuda hanya dijadikan peringatan seremonial saja. "Peringatan sumpah pemuda di setiap tahunnya, di tanggal 28 Oktober hanya seremonial saja," tegasnya.

Ia menelaah, pada hari Sumpah Pemuda biasanya diisi dengan upacara bendera dan sambutan-sambutan dari Menteri Pemuda dan Olah Raga. "Iya, secara tekstual memang bagus, tapi setelah kita tagih komitmennya beliau terhadap kepemudaan apa?" tanyanya.

Ia mengulang kembali pernyataan bahwa Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Pada aspek hukum, dimana hukum dijadikan alat memukul, alat pukul bagi kekuasaan dengan lawan-lawan politik," lanjutnya.

Ia mengungkapkan, fakta bagaimana kriminalisasi dilakukan negara kepada Habib Rizieq Syihab (HRS) dan habib-habib yang lain, ulama-ulama yang lain dengan tidak sembunyi-sembunyi. "Orang bodoh pun, mohon maaf dengan segala hormat, orang yang dari segi pendidikan pada level bawah bisa mengetahui dengan gamblang," pungkasnya.[] Isty da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar