Pakar Sejarah UINSA Ungkap Islam Sudah Masuk Indonesia pada Tahun 800 M/900 M


TintaSiyasi.com -- Pakar Sejarah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengungkapkan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia di tahun 800 M/900 M saat Islam menguasai imperium dunia ditandai dengan banyaknya pedagang Arab yang sampai ke Nusantara. 

“Zaman Abbasiyah itu makmur-makmurnya zaman Harus al-Rasyid. Tahun 800 an. Nah, kalau seperti itu keadaannya, Islam yang sudah menguasai imperium dunia saat itu, maka maklum kalau Indonesia itu tahun 800 M atau 900 M, banyak pedagang yang sampai ke negeri kita,“ tuturnya dalam FGD ke-24 FDMPB: Menimbang Secara Obyektif Sejarah Indonesia, Sabtu (06/11/2021) di YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB). 

Ia mengungkapkan, salah satu buktinya yaitu Maluku yang sebenarnya berakar dari kata bahasa Arab  muluk. “Ya namanya, Maluku sendiri itu kan sebutan dari Muluk, Jaziratul Muluk,  kepulauan para raja-raja, menjadi Maluku. Nah, ini antara lain,” kata dia. 

Dia mengungkapkan bukti lainnya, yaitu di abad ke 11-12 M, semasa dengan Joyoboyo ada makam di Madiun yang kemungkinan besar  menujukkan bahwa orang-orang Islam sudah sampai di sana. Bahkan menurutnya, bisa lebih awal lagi ditandai dengan bukti tahun  670-an Masehi sudah ada orang Arab yang sampai ke Sima. Dan tahun tersebut adalah zamannya Umayyah yang sudah berkuasa sampai ke India. 

Kejayaan Islam katanya juga ditandai dengan aktivitas maritim atau pelayaran di laut yang telah dilakukan oleh orang-orang Arab hingga lintas benua, yang akhirnya sampai ke Nusantara seperti Tuban. Sementara Tuban pada tahun 1200-1300 di masa Majapahit merupakan pelabuhan rempah besar Majapahit yang hubungannya sampai ke Eropa. 

“Tahun-tahun 680-an pelayaran maritim itu sudah ramai. Maklum kalau pada tahun-tahun 800-an atau 900-an,  orang-orang Aarab sudah menyebarkan Islam ke wilayah Airlangga. Apalagi di zaman Majapahit, itu sudah ramai banget. Dari Kediri-Maluku agar diakui sebagai jalur rempah dunia begitu ya. Nah itu tahun-tahun 1200-an. Tahun-tahun 1300, Tuban itu sebagai pelabuhan besar Majapahit. Dan Tuban adalah salah satu titik dari jalur pelayaran rempah dari Indonesia sampai ke Eropa”, ungkapnya. 

Profesor Ali Mufradi menyebutkan bahwa jalur pelayaran tersebut bisa melalui Mesir atau Hormus. Dan dari Hormus ke teluk Persia. Lalu masuk ke Baghdad. Dari Baghdad ke Syiria, lalu ke Laut Tengah hingga sampai ke Jenewa dengan Venesia. 

Pakar sejarah UINSA tersebut mengaitkan dengan film Jejak Khilafah di Nusantara yang sedang viral saat ini, mengakui dari sisi sejarah merupakan film yang termasuk bagus. Karena banyak yang belum orang tahu diungkap dalam film tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa penggarap film tersebut adalah para ahli dalam sejarah Islam. 

“Kemudian, saya melihat begini, apa yang dihasilkan film itu, Jejak Khilafah di Nusantara, itu saya kira yang memprakarsai film ini ini termasuk yang bagus. Ahlinya banyak di situ. Artinya film itu digarap oleh para ahli sejarah sendiri. Ada yang dari Surabaya, dari Jakarta juga. Nah, banyak yang diungkap dalam film itu yang belum banyak orang tahu. Nah, ini antara lain yang kita lihat. Sehingga kita saya juga men-share itu ke teman-teman yang lain terutama mahasisa saya di jurusan Peradaban Islam. Nah, itu harusnya kita diskusikan terus,“ jelasnya. 

Kemudian ia menjelaskan bahwa film tersebut menunjukkan adanya hubungan antara khilafah dengan Nusantara pada zaman Sultan Agung yang mendapat pengakuan dari Syarif Mekkah sebagai representatif dari Turki Utsmani dengan gelar khalifatullah di tanah Jawa.  Begitu juga sebelumnya di Demak. Dulunya, Nusantara, katanya adalah kerajaan, namun setelah Islam datang berubah dengan sebutan kesultanan. 

Pakar Sejarah tersebut juga menyoroti film Jejak Khilafah di Nusantara dari sisi keruntuhan khilafah yang ternyata memberikan efek hingga ke Nusantara, juga sebagai cikal-bakal lahirnya Nahdlatul Ulama. 

“Lalu kita lihat tahun-tahun film itu sampai jatuhnya khilafah pada tahun 1924. Nah, efeknya itu sampai juga ke Indonesia, gitu. Timur Tengah yang ingin mendirikan khilafah lagi yang disponsori oleh Mesir, gagal. Oleh Saudi gagal. Itulah antara lain awal berdirinya Nahdlatul Ulama  tanggal 31 Januari 1926. Mereka diutus ke Timur tengah, ke Saudi,” tuturnya. 

Ia menuturkan dari filsafat Al-Farabi tentang gambaran suatu negara besar yang pernah dipimpin oleh Peradaban Islam. “Kalau negara itu sudah besar, berarti ada negara bagian begitu. Nah, kalau negara bagian ini berarti seperti yang terjadi pada saat itu yang menjadi bagian dari Khilafah Islamiah. Itu kan mulai dari Timur Tengah kemudian Turki, India kecuali Persia. Persia enggak ikut Sunni, karena Syiah“ ungkapnya. 

Profesor Ali Mufrodi menyebutkan alasan Islam diterima oleh mayoritas penduduk Nusantara di Indonesia adalah ajaran tauhidnya. 

“Ketika terjadi akulturasi, Islam itu diterima mudah karena ajaran tauhidnya. Dulu ajaran Majapahit jika seorang raja meninggal, maka salah satu istrinya harus ikut dibakar. Kemudian juga antara pembantunya juga harus dibakar. Kalau Islam kan tidak begitu. Nah, di situlah antara lain perbedaan kepercayaan kepada ketuhanan dan kepercayaan kepada budaya.  Akhirnya Islam lebih legaliter hingga semua sama di hadapan Allah kecuali takwa. Nah, itu yang membuat Islam mudah menyebar di Indonesia,” pungkasnya.[] M.Siregar

Posting Komentar

0 Komentar