MMC: Islam Melawan Segala Bentuk Kejahatan Seksual


TintaSiyasi.com-- Menyikapi adanya adanya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang dinilai sebagai upaya legalisasi sek bebas, Muslimah Media Center (MMC) mengatakan Islam melawan segala bentuk kejahatan seksual

"Islam melawan segala bentuk kejahatan seksual," ujarnya di YouTube Muslimah Media Center (MMC): Kebijakan Liberal Permen PPKS Terindikasi Legalkan Zina? Kamis, (11/11/2021)

MMC menjelaskan, bahwa kejahatan seksual bisa berbentuk perzinaan, L6BT, prostitusi (pelacuran), pencabulan, dan perkosaan promiskuitas (hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan perkawinan dengan cara berganti-ganti pasangan).

"Dilakukan atas keinginan sendiri (secara sadar) atau pun dipaksa, dalam pandangan Islam semua perbuatan ini termasuk jarimah (kriminal)," jelasnya.

Ia melanjutkan, jarimah secara ilmu bahasa artinya perbuatan dosa, perbuatan salah, atau kejahatan. Menurut istilah para fuqoha, yang dinamakan jarimah adalah larangan-larangan syariat melakukan hal yang dilarang dan atau meninggalkan hal-hal yang diwajibkan yang diancam dengan hukuman had (hudud), atau ta'zir.

"Islam memiliki mekanisme yang mencegah hingga menyelesaikan kasus kejahatan seksual," lanjutnya.

Ia menerangkan beberapa mekanisme, yaitu pertama, Islam menerapkan sistem pergaulan yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan baik ranah sosial maupun privat. "Islam memerintahkan menutup aurat atau segala sesuatu yang merangsang sensualitas," terangnya.

Menurutnya, pada umumnya kejahatan seksual itu dipicu rangsangan dari luar yang bisa mempengaruhi naluri seksual (gharizah nau').

"Islam pun membatasi interaksi laki-laki dan perempuan, kecuali dalam beberapa aktivitas yang memang membutuhkan interaksi tersebut seperti pendidikan, yakni sekolah, ekonomi (perdagangan di pasar) dan kesehatan (di rumah sakit, klinik dan lain-lain)," paparnya.

Adapun mekanisme kedua, menurutnya, yaitu Islam memiliki sistem kontrol sosial berupa perintah amar makruf nahi mungkar. Tentu semuanya dilakukan dengan cara yang baik.

"Mekanisme ketiga, yaitu Islam memiliki sistem sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan seksual. Contohnya sanksi bagi pelaku tindak perkosaan berupa had zina, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati jika pelakunya muhshan, yakni sudah menikah. Dan dijilid (di cambuk) seratus kali dan diasingkan selama setahun jika belum menikah," ungkapnya.

Kemudian ia membacakan hadis Rasulullah SAW: "Dengarkan aku, Allah telah menetapkan hukuman bagi mereka itu, perawan dan perjaka yang berzina, maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun. Sedangkan pria yang sudah tidak perjaka dan perempuan yang sudah tidak perawan (yang keduanya pernah kawin), maka akan dijatuhi dan dirajam." (HR Muslim)

"Demikian pula bagi pelaku pelecehan seksual dalam bentuk melucuti pakaian perempuan sehingga nampak auratnya, mencium perempuan yang bukan mahramnya dan sebagainya dihukumi sebagai perbuatan jarimah. Sanksinya berupa ta'zir yang akan ditetapkan oleh qadhi," bebernya.

Ia menegaskan, semua bentuk sanksi Islam ditegakkan sebagai penebus dosa pelaku kemaksiatan di akhirat (jawabir) dan sebagai pencegah orang lain melakukan pelanggaran serupa agar jera (zawajir).

"Semua ini adalah bentuk penjagaan Islam yang paripurna terhadap generasi masyarakat. Ketiga mekanisme Islam ini akan terlaksana dengan baik jika ada institusi yang melaksanakan syariat Islam secara Kafah yaitu Khilafah Islamiyah bukan institusi sekuler liberal yang justru melanggengkan kemaksiatan," pungkasnya.[] Nabila Zidane

Posting Komentar

0 Komentar