Memaknai Ummatan Wasathan dengan Sikap Moderat Adalah Penyesatan


TintaSiyasi.com -- Merespons pendapat yang memaknai ummatan wasathan dengan sikap moderat (jalan tengah) antara benar dan salah, Mudir Ma'had Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna, M.E., M.Ag. tegas menyatakan hal tersebut adalah penyesatan. 

“Memaknai ummatan wasathan dengan sikap moderat (jalan tengah) antara benar dan salah adalah penyesatan,” bayannya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (10/11/2021). 

Ajengan Yuana menyatakan, frasa ummatan wasathan itu bermakna umat pilihan dan adil (khiyar[an] ’udul[an]), yakni umat yang adil dengan menegakkan ajaran Islam. Bukan umat yang menegakkan kezaliman dengan menyelisihi ajaran Islam. 

“Dalam khazanah Islam klasik, terdapat banyak pendapat dari para ulama yang mengarah kepada pengertian wasathiyah (bagian pertengahan). Hal itu dapat kita jumpai dalam pendapatnya Ibnu ‘Asyur, al-Asfahani, Wahbah az-Zuhaili, ath-Thabari, Ibnu Katsir dan lain sebagainya,” tuturnya. 

Ia membeberkan bahwa terdapat tiga belas riwayat yang menunjukkan kata al-wasath bermakna al-‘adl. Pasalnya, hanya orang-orang yang adil yang bisa bersikap seimbang dan bisa disebut sebagai orang pilihan. 

"Riwayat tersebut adalah: 

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في قَوْلِهِ وَكَذَالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا قَال: عُدُوْلًا 

Dari Abi Sa’id al-Khudri ra., dari Nabi saw. bersabda, “Demikianlah Kami jadikan kalian umat yang wasath[an]”. Beliau berkata, “(Maknanya itu) adil.” (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi dan Ahmad),” ujarnya. 

Lebih lanjut, Ajengan menyebutkan bahwa selain bermakna adil, ummatan]l wasathan juga berarti umat pilihan. “Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan umat Muhammad SAW sebagai umat yang adil di antara umat-umat, untuk menjadi saksi atas umat manusia,” paparnya. 

“Allah SWT menjadikan umat ini dengan sifat (al-ummah al-wasath), yakni umat yang adil untuk menjadi saksi atas manusia. Keadilan merupakan syarat pokok untuk bersaksi. Al-Wasath dalam perkataan orang-orang Arab berkonotasi al-khiyâr (pilihan) dan orang terpilih dari umat manusia adalah mereka yang adil,” bebernya lagi. 

Ajengan mengatakan, ada dua alasan Allah SWT lebih memilih menggunakan kata al-wasath daripada kata “al-khiyar”.  ”Pertama, karena Allah SWT akan menjadikan umat Islam sebagai saksi atas (perbuatan) umat lain. Posisi saksi semestinya berada di tengah-tengah agar dapat melihat dari dua sisi secara berimbang (proporsional). Lain halnya jika ia hanya berada pada satu sisi, maka ia tidak bisa memberikan penilaian dengan baik,” urainya. 

“Kedua, terdapat indikasi yang menunjukkan jati diri umat Islam yang sesungguhnya, yaitu bahwa mereka menjadi yang terbaik. Pasalnya, mereka berada di tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak mengurangi baik dalam hal akidah, ibadah, maupun muamalah,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar