Marahnya Pemimpin dalam Pandangan Islam

TintaSiyasi.com -- Saat ini kita sering melihat atau mendengar berita di media terkait pemimpin yang marah-marah. Baik seorang gubernur, kepala daerah, menteri, dan yang lainnya. 

Sebagaimana diketahui bersama, beberapa waktu lalu Mensos Tri Rismaharini yang kembali marah. Kali ini terjadi saat rapat di Gorontalo karena urusan data beredar di media sosial. Saat itu beliau menghampiri seorang pria karena marah sambil menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan kata-kata ancaman (Detiknews.com, 02/10/2021).

Marah biasanya muncul ketika mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan seperti perlakuan kasar, menyindir atau penghinaan. Akibatnya marah ini kebanyakan diekspresikan dengan mengeluarkan kata-kata, menggebrak meja, melempar sesuatu atau dengan diam membisu.

Sementara marahnya pemimpin bisa terjadi ketika pekerjaan bawahan tak sesuai target, rencana atau arahan. Juga banyaknya kesalahan yang dilakukan. Mungkin jika marah saja wajar. Namun tak sepatutnya marahnya kepada bawahan dilakukan di depan umum disertai mengancam atau mengeluarkan kata-kata kasar. Apatah lagi menjadi kebiasaan. Padahal bisa diselesaikan dengan menegur, menasihati atau menanyakannya secara baik-baik.

Lantas bagaimana dengan marahnya seorang pemimpin? Jika yang dipimpin memiliki kesalahan semestinya diselesaikan dengan baik-baik. Marah hanya akan menambah permasalahan dan hati semakin dikuasai oleh setan. 

Menurut pandangan Islam sendiri bahwa marah adalah sesuatu yang alami. Ia adalah penampakan dari gharizah baqa' atau naluri mempertahankan diri. Kita akan marah jika diganggu atau dihina. Namun, sebagai agama yang sempurna, Islam punya solusi dalam masalah ini. 

Syariat Islam memberikan arahan kepada manusia dalam mengelola rasa marah. Marah hanya boleh ketika Allah, Rasul, dan ajaran Islam dihinakan. Bahkan wajib hukumnya kita marah dan melakukan pembelaan. Sementara di luar hal tersebut tidak diperkenankan untuk marah. Bahkan kita diperintahkan untuk menahan diri. Seperti halnya apabila kita merasa sakit hati atas sikap orang lain, maka kita harus bersabar dan tidak membalasnya dengan hal yang sama. Sebagaimana hadis yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa, "Orang yang kuat bukanlah yang kuat karena berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai dirinya ketika akan marah." (Mutafaq ‘alaih).

Begitu pula firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 134 yang artinya, "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".

Rasulullah SAW sebagai suritauladan pun mencontohkan dengan tidak pernah membentak para sahabat di depan umum. Beliau senantiasa menjaga perasaan para sahabat. 

Seorang pemimpin atau khalifah dalam sistem Islam akan marah jika ada pejabat yang tidak amanah, berlaku curang atau melanggar syariat. Jika terjadi demikian, maka pelaku akan diingatkan dan dinasihati dengan nasihat ketakwaan. Jika melakukan dosa besar seperti korupsi, zina, mencuri atau lainnya maka akan dihukum dengan sanksi Islam. 

Ketegasan khalifah ini bukan marah atas dasar hawa nafsu atau kebencian. Akan tetapi atas dorongan ketakwaan kepada Allah SWT untuk menegakan syariat-Nya. 

Sistem Islam pun akan mencegah khalifah berlaku otoriter atau semena-mena kepada rakyatnya sehingga tertindas. Hukum syara selalu menjadi pegangan dalam memimpin sehingga tercipta keadilan. 

Demikianlah pandangan Islam tentang marahnya seorang pemimpin. Jika setiap pemimpin memahami hal ini maka kehidupan rakyat dan negara akan senantiasa tercipta ketenteraman. Para pemimpin pun akan dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Nina Marlina, A.Md
Muslimah Peduli Umat

Posting Komentar

0 Komentar