Kritisi Rekontekstualisasi Fiqih, Kiai Shiddiq: Bukan Melahirkan Hukum, Tetapi Mengubah Hukum Disesuaikan Fakta Baru



TintaSiyasi.com-- Ahli Fiqih Islam K.H. Shiddiq Al Jawi mengungkapkan bahwa rekontekstualisasi bukan melahirkan hukum, tetapi mengubah hukum disesuaikan fakta.

"Rekontekstualisasi atau reaktualisasi itu kecenderungannya bukan melahirkan hukum yang baru dari Al-Qur'an dan hadis, tapi mengubah hukum yang lama disesuaikan dengan fakta yang baru," jelasnya dalam Fokus Live: Kontekstualisasi Fikih, Adakah? di YouTube UIY Official, Ahad (21/10/21).

Ia menjelaskan, jika ditengah-tengah umat Islam ada problem atau persoalan-persoalan baru yang sebelumnya belum pernah ada dalam sejarah, maka Islam mempunyai satu metode yang namanya ijtihad. 

"Ijtihad itu bukan mengubah hukum yang ada, sehingga disesuaikan dengan fakta, tetapi menggali hukum yang baru, dari nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah," paparnya.

Ia menerangkan, fakta-fakta yang baru itu banyak sekali macamnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, kedokteran, dan lainnya. Dalam bidang politik, khilafah sudah hancur pada tahun 1924, sehingga mengalami kevakuman dalam politik Islam.

"Kevakuman politik Islam itu hal baru. Misalkan, dalam sistem ekonomi ada sistem perbankan yang ribawi. Bagaimana Islam
mengatasi hal ini? Islam dengan memberikan hukum yang baru yang disebut ijtihad," jelasnya.

"Sekali lagi saya sampaikan, ijtihad ini berbeda dengan istilah rekontekstualisasi atau reaktualisasi," pungkasnya.[] Isty da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar