K.H. Shiddiq al-Jawi Beberkan Bahaya Ide Rekontekstualisasi dan Reaktualisasi Fiqih


TintaSiyasi.com -- Ahli Fiqih Islam K.H. Muhammad Shiddiq al-Jawi membeberkan bahaya ide rekontekstualisasi dan reaktualisasi fiqih Islam. “Jadi, artinya kalau kita itu rekontekstualisasi atau reaktualisasi, maka saya itu menafsirkan berarti orang yang seperti ini menginginkan umat Islam hanya menjadi makmum yang imamnya itu adalah peradaban Barat, yang sekarang itu adalah Amerika Serikat (AS). Jadi, begitu itu bahaya sekali,” tutur Kiai Shiddiq, sapaan akrabnya, di acara Fokus: Menolak Ajaran Islam Dengan Dalih Tidak Cocok, Layakkah? di YouTube UIY Official, Ahad (14/11/2021).

Menurut Kiai Shidiq, umat Islam tidak memerlukan yang namanya rekontekstualisasi atau reaktualisasi atau istilah-istilah lain yang intinya justru ajakan agar Islam ditundukkan atau disesuaikan dengan fakta.

Selain itu, Kiai Shidiq juga menjelaskan bahaya lain dari ide rekontekstualisasi atau reaktualisasi, yang sebenarnya sudah ada sikap dari Yahudi dan Nasrani dirumuskan dalam doktrin yang namanya modernisme.

“Jadi modernisme itu artinya sebuah metode atau manhaj cara berpikir bahwa ajaran-ajaran agama itu harus menyesuaikan diri, harus mengikuti fakta-fakta yang modern, jadi ajaran mengikuti fakta itulah yang terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nasrani pada abad-abad sekitar 17 dan 18,” ujarnya.

“Nah, kita ini umat Islam, itu baru terpengaruh mengikuti cara seperti ini itu kira-kira dimulai abad 19 akhir dan abad 20 awal, dengan adanya para pemikir-pemikir liberal atau sekuler yang kemudian mengikuti cara-cara orang Yahudi dan Nasrani dalam menyikapi perbedaan itu,” tambahnya.

Menurutnya, jika umat Islam mengikuti rekontekstualisasi atau reaktualisasi, maka umat Islam hanya menjadi pengekor dan selalu mengikuti negara-negara Barat. 

“Jadi artinya orang yang menggunakan atau mengamalkan rekontekstualisasi atau reaktualisasi itu tidak mengingikan umat Islam itu menjadi nomor satu, mereka tidak punya visi itu, mereka itu ingin meletakkan umat Islam itu hanya sebagai pengikut dari negara-negara barat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, umat Islam sebenarnya memiliki potensi sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Menurutnya, yang pada akhirnya hanya mengabdi kepada kepetingan-kepentingan negara kapitalis, sebagai pengekor dalam masalah metode berpikir.

“Ternyata kita itu mengikuti Barat, lha Barat itu sudah lebih maju, sudah lebih dulu memakai ini, kita baru memakainya itu terlambat, kita masih mengikuti terus, itu artinya posisi kita tidak akan bisa berkompetisi, apalagi mendahului Barat, pasti belakang terus,” jelasnya.

Ijtihad

Menurut Kiai Shiddiq, yang diperlukan umat Islam bukan rekontekstualisasi atau reaktualisasi, karena itu metode Barat, bukan metode Islam. Yang perlu dilakukan umat Islam, katanya, adalah Ijtihad. 

“Jadi, ijtihad itu beda dengan rekontekstualisasi atau reaktualisasi, kalau ijtihad itu artinya ada persoalan baru yang sebelumnya belum ada. Mari kita ber-istinbat hukum dari Al-Qur’an dan Hadis, hukum itu hukum yang sama sekali baru bukan perubahan dari hukum yang lama,” ujarnya.

Menurutnya, dalam pikiran orang-orang Barat hukum yang baru itu adalah perubahan dari hukum yang lama, kalau dalam Islam tidak. Ia menambahkan, namanya ijtihad itu hukum yang baru yang itu berasal dari Al-Qur’an dan Hadis, bukan perubahan dari hukum yang lama.

“Jadi, ijtihad itulah yang diperlukan oleh umat untuk menyikapi problem-problem yang baru apa pun itu baik itu bayi tabung, apakah itu inseminasi buatan, apakah itu namanya kloning, Islam itu mampu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, umat Islam itu harus punya keyakinan bahwa Islam itu sendiri sebenarnya mampu mengatasi semua persoalan. "Yang menjadi persoalan itu kemudian adalah siapa yang berkualifikasi sebagai mujtahid yang bisa mewujudkan keyakinan tadi bahwa Islam itu mampu mengatasi segala persoalan dari keyakinan menjadi fakta ya, diperlukan mujtahid yang itu memang mampu,” tutupnya.[] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar