K.H. Hafidz Abdurrahman: Jual Beli Bitcoin Berpotensi Gambling, Penipuan, dan Merampok Kekayaan Masyarakat


TintaSiyasi.com -- Menyoal aktivitas perdagangan uang digital Bitcoin (cryptocurrencies) yang marak terjadi saat ini, Khadim Syarafaul Haramain K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A. menilai, jual beli Bitcoin dan lainnya berpotensi gambling, penipuan, dan merampok kekayaan masyarakat. 

"Jual beli uang digital seperti Bitcoin dan lainnya berpotensi gambling, penipuan dan merampok kekayaan masyarakat," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (17/11/2021).

Menurutnya, Bitcoin itu pihak yang mengeluarkannya majhul (tidak jelas) tidak ada yang menjaminnya, penggunaan uang digital seperti Bitcoin, Rapple, dan lain-lain jelas tidak boleh, baik sebagai alat tukar, maupun sebagai komoditas. Dengan kata lain, baik dengan akad sharf/ pertukaran mata uang maupun bai’/jual-beli komoditas.

Ia mengungkapkan, terlebih pihak yang mengeluarkannya majhul (tidak jelas). Ia mensinyalir, yang mengeluarkannya uang itu tidak jauh dari negara-negara kapitalis besar, khususnya Amerika. 

"Kelompok yang terkait dengan negara besar yang memiliki tujuan jahat, korporasi internasional besar untuk perjudian, perdagangan narkoba, pencucian uang dan pengorganisasian kejahatan terorganisir, dan jika tidak demikian kenapa pihak yang mengeluarkannya tetap saja majhul (tidak jelas)," bebernya. 

"Bitcoin ini bukan mata uang sehingga tidak berlaku padanya syarat-syarat mata uang, sebagaimana mata uang yang disetujui Nabi SAW yaitu dinar dan dirham yang padanya terpenuhi tiga perkara," paparnya. 

Tiga perkara yang memenuhi pada mata uang dinar dan dirham sebagai berikut. Pertama, yaitu merupakan standar untuk barang dan jasa. "Yakni, padanya terpenuhi ‘illat moneter, yakni pada waktu itu sebagai harga dan upah. Dia dikeluarkan oleh otoritas yang diketahui, bukannya otoritas yang majhul (tidak jelas) yang mengeluarkan dinar dan dirham," katanya.

Kedua, mata uang tersebut tersebar luas di tengah masyarakat dan bukannya khusus pada satu kelompok dan tidak pada yang lain. Ketiga, mengutip pendapat Imam Muslim, yang telah mengeluarkan dalam Shahîh-nya dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah SAW melarang bay’ al-hishâh dan jual beli gharar.” Imam at-Tirmidzi juga telah mengeluarkannya dari Abu Hurairah. 

Ia menjelaskan, bay’ al-hishâh itu seperti orang berkata, "Saya jual kepada Anda pakaian-pakaian ini yang terkena kerikil yang saya lemparkan, atau saya jual kepada Anda tanah ini mulai dari sini sampai berakhirnya kerikil ini." Jadi, jual beli ini majhul dan itu dilarang bay’ al-gharar, yakni majhul tidak jelas.

"Seperti jual beli ikan di dalam air yang banyak, susu yang masih di dalam kambing, jual beli janin yang masih di dalam perut induknya dan semacamnya. Semua itu jual belinya batil sebab merupakan gharar," tegasnya. 

Ia menjelaskan status Bitcoin, yang batil, karena tiga faktor. Pertama, Bitcoin bukan sebagai standar untuk barang dan jasa sama sekali, akan tetapi dia hanya alat tukar untuk barang dan jasa tertentu saja. Kedua, Bitcoin tidak keluar dari otoritas yang jelas, akan tetapi dari otoritas yang majhul

"Ketiga, Bitcoin tidak tersebar luas di tengah masyarakat akan tetapi hanya khusus dengan orang yang mengedarkannya dan menyetujui nilainya, artinya dia bukan untuk seluruh masyarakat," tandasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar