K.H. Ahmad Fadholi: Perjuangan Pemuda Perlu Revitalisasi dan Pendetailan


TintaSiyasi.com -- Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Muslimat NDM Surakarta K.H. Ahmad Fadholi mengatakan, perjuangan pemuda perlu revitalisasi dan pendetailan.

“Jadi, saya rasa itu, perjuangan pemuda itu perlu revitalisasi lebih jauh, perlu pendetailan-pendetailan,” ungkapnya dalam Dialogika Soempah Pemoeda: Pergulatan Sekuler Vs Islam di YouTube Peradaban Islam ID, Kamis (28/10/2021).

Ia menjelaskan bahwa revitalisasi yang dilakukan dengan membentuk arus baru, yakni Islam. “Arus baru yang saya rasa itu Islam,” jelasnya.

Ia melihat, potensi politik Islam ideologi masih berpengaruh di tanah air. Sehingga, memungkinkan menjadi arus baru di tengah-tengah pertarungan global antara Cina dan Amerika.

“Potensi Islam politik ideologis yang masih mempunyai pengaruh. Apakah tidak memungkinkan ini menjadi arus baru di tengah-tengah pertarungan global antara Cina dan Amerika?" tanyanya.

Menurutnya, dalam revitalisasi diperlukan  pendetailan-pendetailan, sehingga tidak kehilangan arah dalam membentuk arus baru tersebut dan juga narasi-narasi yang sifatnya filosofis untuk memandang Islam  lebih mendalam lagi. Tidak hanya sekedar mewarnai, tetapi membuat pola atau bingkai arah dari suatu negeri.

"Saya rasa perlu narasi-narasi yang sifatnya filosofis untuk memandang Islam itu lebih mendalam lagi. Tidak hanya sekedar mewarnai, tetapi juga yang membuat pola atau bingkai arah dari negeri ini,” ungkapnya.

Ia berpendapat, tidak terlalu dini jika para pemikir Islam dan ulama-ulama mulai berbicara membuat rumusan pola pembangunan lebih rinc dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), ekonomi, relasi luar negeri dan lainnya, agar tergambar rahmatan lil’alamiin.

"Saya rasa tidak terlalu dini ya, kalau para pemikir Islam, ulama-ulama kita sudah mulai bicara membuat pola pembangunan kita mau di bawa ke arah mana, lebih rinci bagaimana pengelolaan SDA, pengelolaan ekonomi, relasi dalam negeri itu seperti apa, Itu sudah di rumuskan, sehingga tampak rahmatan lil’alamiin,” tuturnya.

Ia menyayangkan, adanya pihak yang justru dengan sengaja berusaha menjadikan Islam moderat. 

"Islam hanya sekedar religius saja. Islam dijauhkan dari tatanan masyarakat, hukum, pemerintah, sosial dan politik. Sehingga, bertolak belakang dengan karakter Islam rahmatan lil’alamiin," sesalnya.

Ia menegaskan, arah modernisasi yang digaungkan justru hal tersebut bertolak belakang dengan karakter Islam rahmatan lil’alamiin.

"Justru, diterapkan Islam itu akan mendatangkan rahmatan lil’alamiin, bukan justru Islam itu di pinggirkan, itu malah keblinger,” pungkasnya.[] Mustaqfiroh

Posting Komentar

0 Komentar