Ketua API Jawa Barat: Terbukti! Sistem Khilafah Menjadikan Umat Islam Memimpin Dunia


TintaSiyasi.com-- Prihatin terhadap pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang menganggap seolah-olah Khilafah merupakan sebuah ancaman, ketua Aliansi Pergerakan Islam (API), K.H. Asep Syarifudin menyatakan, terbukti sistem khilafah menjadikan umat Islam memimpin peradaban dunia.

“Terbukti bahwa sistem kekhilafahan itu dapat menjadikan umat Islam memimpin peradaban dunia,” ujarnya dalam Insight ke-01 PKAD, di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD), Senin (15/11/2021).

Kiai Asep menjelaskan, selama kekhilafahan terbentuk, yakni selama umat Islam mempunyai pemimpin dunia Islam, maka _Izzul Islam wal Muslimin_ itu tegak. Buktinya, Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Muhammad Al Fatih sebagai khalifah, berhasil menaklukkan Konstantinopel. Begitu pula pemerintahan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Dalam waktu hanya dua tahun, khalifah berhasil menyejahterakan rakyatnya. Hal itu karena sistem khilafah yang diterapkan. 

Berbeda dengan sistem Republik yang diterapkan di negeri ini, yang terbukti tidak mampu menciptakan kesejahteraan rakyatnya. “Dari sisi penegakan agama, waduh, sangat memprihatinkan sekali, banyak penistaan agama dan lain sebagainya,” jelasnya

Ia mengajak umat Islam membandingkan berbagai macam sistem pemerintahan yang ada di dunia. Ada sistem khilafah, monarchi, kekaisaran, republik, kerajaan, dan keamiran. “Jangan sampai kita ini jadi orang dapat terkecoh dengan kepentingan-kepentingan Barat," tuturnya.

Ia mencontohkan, negara-negara Eropa ketika hengkang dari negara jajahannya, maka mereka akan mendesain setiap negara yang baru merdeka (bekas jajahannya itu) untuk menerapkan sistem Republik. 

" Tetapi, mereka masih monarchi. Contohnya Belanda, Inggris, Spanyol, Portugal. Kalau Republik lebih bagus dari monarchi, tentu mereka tinggalkan monarchi,” ungkapnya.

Peran MUI
 
Menyinggung peran MUI sebagai penjaga umat, Kiai menyarankan agar MUI memberikan petunjuk kepada pemerintah untuk memberlakukan syariat Islam di negeri ini agar menjadi negara yang adil makmur dan mendapat ridha Allah SWT. 

“Kalau kita mau sportif, bahwa pemerintahan pasca-Nabi Muhammad SAW. itu kan silih berganti. Kita ketahui bahwa Abubakar Shidiq itu menjadi khalifah, menjadi pengganti Nabi Muhammad, pengganti bukan dalam konteks kenabian, tapi dalam konteks sebagai kepala negara. Kemudian dilanjutkan oleh Umar Bin Khattab, lalu Utsman Bin Affan, kemudian Ali Bin Abi Thalib, dan terus sampai kepada Turki Utsmani,” katanya. 

Menurut Kiai, senantiasa ada upaya dari musuh-musuh Islam untuk mendistorsi makna khilafah dan jihad. Padahal, khilafah dan jihad adalah ajaran Islam. Maka, tidak cukup hanya dengan mengakui bahwa khilafah dan jihad merupakan ajaran Islam, tapi ajaran tersebut harus diamalkan. 

“Jadi, kalau saya, wasathiyah itu lebih kepada bagaimana umat Islam itu menjadi wasit dalam artian penentu, pemutus. Kita jadi leader, bukan jadi toleransi dalam konteks jalan tengah," paparnya.

Menurutnya, wasathiyah itu, umat Islam harus menjadi saksi dari segenap umat manusia. Artinya, umat Islam harus menjadi pemimpin peradaban dunia.

Ia juga membeberkan bahwa umat Islam akan menjadi pemimpin peradaban dunia, ketika sistem politik yang dilakukan oleh umat Islam, adalah sistem kepemimpinan dengan pemimpin umatan wahidah, yaitu dengan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah. 

“Apa yang ditakuti oleh musuh itulah yang akan membuat umat Islam mulia. Kenapa orang kafir itu alergi terhadap khilafah dan jihad? Karena dengan khilafah dan jihad umat Islam akan tegak izzul islam wal muslimin,” pungkasnya.[] Binti Muzayyanah

Posting Komentar

0 Komentar