Jurus Jitu Memimpin Istri

TintaSiyasi.com -- Hubungan suami istri dalam ikatan pernikahan merupakan hubungan persahabatan. Bukan seperti hubungan antara komandan dengan prajurit, bukan pula hubungan pedagang dengan pembeli yang saling mencari keuntungan dan keegoan, seperti yang diembuskan golongan feminisme.

Meskipun demikian, suami adalah pemimpin. Islam menuntut kepemimpinan yang meriayah dan bersahabat dari suami kepada istri, bukan kepemimpinan yang otoriter, dominasi, pemaksaan, dan sangat melarang kepemimpinan yang menindas dan adanya tekanan.

Suami sebagai qawwam harus dimuliakan dan diberikan haknya. Namun, salah besar jika hanya suami yang harus dipenuhi haknya. Karena Islam ternyata telah memberikan gambaarn bahwa istri juga memilii hak dan kebutuhan. Bahkan, merupakan tindakan ‘jarimah’ jika dilalaikan, sehingga suami bisa berdosa jika mengabaikannya.

Allah SWT berfirman di dalam surat Al Baqarah [2] : 228,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya: “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.

Sehingga jelas bahwa suami dan istri wajib terikat dan taat kepada aturan Allah SWT. Keduanya harus menyadari bahwa aturan yang paling adil itu mutlak berasal dari Allah SWT, bukan dari sisi manusia yang memiliki kecendrungan ataupun relativitas. 

Kepengaturan yang Allah SWT berikan akan mendatangkan kebaikan pada rumah tangga. Di samping membuat istri semakin cinta, sehingga berimbas pada keseimbangan dan ketenangan dalam rumah tangga, juga mendapat rida Allah SWT.

Ada 5 (lima) hak ataupun kebutuhan istri yang harus dipenuhi oleh suami, yaitu:

Pertama. Memenuhi kebutuhan lahir istri, sebagaimana firman Allah SWT:

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ وَلَا تُضَاۤرُّوْهُنَّ لِتُضَيِّقُوْا عَلَيْهِنَّۗ

Artinya: “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”

Pada ayat ini, Allah SWT Menegaskan bahwa memberikan tempat tinggal adalah wajib. Tempat tinggal di sini tidak harus dibeli. Bisa dengan menyewa, menempati rumah yang dihibahkan, atau dengan cara apapun yang dibenarkan oleh hukum syara’. Namun suami juga tidak boleh membuat istri merasa susah jika lingkungan tempat tinggal tidak kondusif, rawan, bahkan bisa jadi tinggal serumah dengan orang tua atau mertua bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi di zaman sekuler seperti sekarang. Tidak semua orang tua paham bahwa biduk rumah tangga anak yang telah menikah berbeda dengan yang belum menikah.

Makanan dan pakaian juga merupakan kebutuhan lahir istri. Sebagaimana yang disabdakan oleh lisan Rasulullah SAW, “Kamu beri makan istrimu, apabila kamu makan. Dan kamu beri pakaian apabila kamu berpakaian. Akan tetapi jangan kamu pukul wajahnya, jangan menjelekkannya, jangan memboikotnya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Dawud).

Hadis ini mendefinisikan bahwa harta suami itu seimbang ataupun setara dengan harta istri seperi halnya apa yang dimakan dan dipakai oleh suami. Sehingga meskipun istri tidak bekerja, dari harta suami yang didapat dari bekerja, hibah ataupun yang lainnya, ada hak istri di dalamnya secara seimbang.

Selain itu, kebutuhan istri akan sepatu, sendal, kosmetik, juga aksesoris lain termasuk kebutuhan lahir istri. Tentu sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk foya-foya, pamer, dan berlebihan. Suami tentu inginkan istrinya tetap terawat dan cantik sebagaimana dahulu ia meminangnya pada orang tuanya. 

Kedua. Pemenuhan nafkah batin. Sebagaimana suami, isri juga membutuhkan kebutuhan biologis. Karena Allah SWT telah menciptakan gharizah nau' (naluri seksual). Pemimpin hebat masa lalu, Umar bin Khattab telah membuat banyak sekali kebijakan yang pro kepada perempuan. Beliau tidak membiarkan prajurit yang berangkat ke medan perang di atas 4 bulan tanpa dibersamai oleh istrinya. 

Bahkan Rasulullah SAW pernah menegur Abdullah Bin Amr bin Ash yang berpuasa setiap hari dan menghidupkan malam dengan ibadah dan qiyamul lail. Rasulullah SAW menyebutnya dengan tindakan ‘ghuluw’ atau berlebihan. Karena badan juga memiliki hak untuk makan, mata untuk istirahat begitu juga dengan istri untuk dipenuhi nafkah batinnya.

Ketiga. Membersamai istri dalam menyelesaikan kesibukan rumah tangga yang tidak pernah selesai. Sangat naif jika masyarakat Muslim hari ini memandang tabu suami yang turut membantu istrinya di rumah. Ada semacam gengsi. Padahal Rasulullah SAW saja sangat ringan tangan dalam membantu menyelesaikan kebutuhan istri-istrinya. 

Imam Al Bukhari meriwayatkan, Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah saw. jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”

Seseorang yang mengaku mengikuti sunnah Nabi SAW tidak akan menganggap aneh perkara ini karena Rasulullah SAW melakukannya. Suami akan mendapatkan pahala ‘sunah’ mengikuti Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrinya”.

Keempat. Mengapresiasi dan memuji Istri. Jangan pernah membandingkan apa yang dilakukan oleh istri dengan siapapun, apakah itu ibu, saudara, kerabat ataupun kenalan. Hal ini sangat menyakitkan bagi isri. Jika ada yang kurang tepat yang dikerjakannya, maka suami yang shalih akan menyampaikan dengan baik. Agar tidak meruntuhkan semangat dan menjatuhkan mental istri. Suami harus mampu menjaga lisan. Terlebih kepada istri yang menjadi sahabat hidup.

Kelima. ‘Couple Time’ dan ‘Me Time’. Mungkin bagi suami apalagi yang sudah punya anak 3, 4 atau lebih, couple time – berdua dengan istri bukanlah hal yang dianggap penting. Namun, berkaca pada kehidupan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan di semua peran kehidupan, ternyata Rasulullah SAW banyak melakukan couple time dengan istri-istrinya. seperti lomba lari berdua dengan Aisyah pada saat Aisyah masih kurus dan setelah gemuk. Hal yang terekam dalam sirah tentu bukan hal yang langka dilakukan oleh Rasulullah SAW. Padahal Rasulullah SAW adalah sosok yang paling sibuk, paling kuat berdakwah, berjihad tetapi tetap melakukan couple time dengan istri-istrinya.

Termasuk, ‘me time’ yang ternyata bukan hanya suami yang butuh. Apalagi keseharian istri dipenuhi dengan rutinitas berulang uang tidak pernah ada habisnya. Terlebh bagi istri yang memiliki bayi, balita atau anak yang sakit yang sering membuatnya terbangun tengah malam. Maka memberikan ‘me time’ dengan sahabatnya yang sefrekuensi akan menjadi refreshing yang sangat bermanfaat. Apalagi jika istri adalah wanita shalihah, pengemban dakwah. Yang pasti akan melakukan me time yang bermanfaat bagi umat, sehingga suami juga akan terkena percikan pahala. []


Oleh: Novida Sari, S.Kom.
(Alumni Komunitas Istri Strong)

Posting Komentar

0 Komentar