JKDN 2: Meluruskan Sejarah Islam di Nusantara

TintaSiyasi.com -- Dalam rangka menyambut Maulid Nabi SAW tepatnya hari Rabu, tanggal 20 Oktober 2021, JKDN Academy menyelenggarakan  NOBAR Nasional JKDN 2 secara serentak Baik ditonton secara online maupun offline dari pk. 08.00 – 11.30 WIB.

JKDN 2 adalah sebuah film dokumenter sejarah Islam yang ingin mengungkap, benarkah ada keterhubungan antara Islam di Nusantara (Indonesia) dengan Kekhilafahan, sebuah institusi politik Islam dunia yang menyatukan umat Islam sedunia.

Film ini ingin mengungkap dan mengupas catatan jejak sejarah Islam di Nusantara secara jujur dan obyektif, yang faktanya kini telah terkaburkan dan terkuburkan. Dikonsep, dilacak jejak sejarahnya, didokumentasi dan disutradarai oleh kaum muda pecinta sejarah Islam. Jadinya, film ini meski dokumenter, akan terasa lain rasa dan sensasinya.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui selat Malaka yang menghubungkan Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayah di Asia Barat sejak abad ke-7. Beberapa kesultanan lslam berdiri di berbagai kerajaan di Nusantara. Di Maluku ada kerajaan Tidore dan Bacan, di Kalimantan ada kesultanan Banjar dan Kutai, di Sumatra ada kesultanan Peureulak dan Samudra Pasai, di Jawa ada kesultanan Demak, Cirebon, Banten dan Mataram, di Sulawesi ada kerajaan Gowa dan Tallo dan di Nusa Tenggara ada kesultanan Bima (Prof. Dr. Uka Tjandrasasmita, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia lslam Asia Tenggara, Kedatangan dan penyebaran lslam , 2002, lchtiar Baru Van Hoeve, Jakarta , hal 9-27).

Seiring perjalanan waktu, hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik di Nusantara. Banten dan Aceh adalah kerajaan Islam yang ketat melaksanakan hukum Islam. Di Banten hukuman terhdap pencuri dengan memotong tangan bagi pencuri senilai 1 gram emas telah dilakukan pada tahun 1651- 1680 M dibawah Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan sholat 5 waktu dan puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan (Musyrifah Sunanto, 2005). Adapun di Mataram pertama kali dilakukan perubahan tata hukum di bawah pengaruh hukum Islam oleh Sultan Agung. 

Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan khilafah pun terjalin. Bernard Lewis ( 2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan. Hubungan juga tampak dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan Abdul Qadir dari kesultanan Banten, misalnya tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid (Syarif Mekkah saat itu). Selain itu, I Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer, mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan di Nusantara, melihat simbol (lstanbul, ibukota Khalifah Utsmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang Raja semua orang Mukmin dan tetap dipandang sebagai Raja dari segala Raja di dunia (Deliar Noer, 1991).

Pada masa penjajahan,  Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Nusantara. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye (H. Aqib Suminto, 1986). Dari pandangan Snouck tersebut penhajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara yaitu:

Pertama, memberangus politik/ pemerintahan Islam. Sejak Belanda menguasai Batavia, kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan dan seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti peraturan kolonial.

Kedua, melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Di kerajaan Mataram misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat l yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga, dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh penjajah. Pemerintah Belanda membuat kantor voor lnlandsche Zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama. Kantor ini bertugas membuat UU yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Demikianlah syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Walhasil hukum saat ini yang berlaku adalah warisan penjajah Belanda.

Meski penjajah Belanda menuai sukses besar dalam menghapus syariah Islam di bumi Nusantara, umat Islam di negeri ini tidak pernah diam. Perjuangan untuk menegakkan kembali syariah lslam terus dilakukan. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya adalah Sarekat Dagang lslam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan lndonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. Pada saat pemilu yang pertama tahun 1955, Masyumi adalah partai lslam pertama dan terbesar yang jelas- jelas memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Lahirnya piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 adalah salah satu puncak perjuangan umat Islam dalam menegakkan syariah Islam di lndonesia.

Lebih dari itu , sejarah perjuangan Islam di lndonesia tidak bisa lepas dari agenda Khilafah Islam. Setelah institusi Khilafah Islam Utsmaniyah dibubarkan pada 3 Maret 1924, ulama dan tokoh pergerakan Islam lndonesia meresponnya dengan pembentukan komite khilafah yang didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924, dengan ketua Wondosudirjo (Sarekat Islam), dan wakilnya KH. A. Wahab Hasbullah (Bendera lslam, 16 Oktober 1924). Konggres ini memutuskan untuk mengirim delegasi ke konggres khilafah ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto (Sarekat Islam) , Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab dari kalangan tradisi (Hindia Baroe, 9 Januari 1925). KH. A. Wahab kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri ormas Islam terbesar di lndonesia Nadhlatul Ulama. 

Sungguh semua bukti sejarah ini menunjukkan kepalsuan tuduhan berbagai pihak yang menolak syariah Islam dan khilafah bahwa Nusantara Indonesia tidak pernah mengenal penerapan syariah Islam oleh negara. []


Oleh: Ani Susilowati, S.Pd.
(Aliansi Penulis Rindu Islam)

Posting Komentar

0 Komentar