Filolog: Konsep Negara Islam Sudah Menjadi Wacana Publik Sejak Natico 1916


TintaSiyasi.com -- Menanggapi stigma negatif tentang konsep negara Islam di Nusantara, Filolog Salman Iskandar mengatakan, konsep negara Islam sudah menjadi wacana publik sejak Natico (National Congress) pada tahun 1916 yang diadakan oleh Syarekat Islam.

"Berbicara berkenaan dengan konsep negara Islam (khilafah), itu kemudian sudah menjadi wacana publik sejak Natico Syarekat Islam tahun 1916," tuturnya pada acara Talkshow Sejarah Mengungkap Akar Sejarah Perjuangan Bangsa yang Terkaburkan di YouTube Khilafah Channel, Ahad (14/11/2021).

Dia menyebutkan, apa yang diserukan oleh Syarekat Islam dalam Natico pertamanya. "Kongres di kota Bandung secara nasional itu menyerukan apa yang kemudian dikenal dengan zelfbestuur (dalam bahasa Belanda), jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris adalah self government atau kehendak berpemerintahan sendiri berdasarkan Islam dan syariatnya," sebutnya.

Filolog Salman Iskandar menambahkan penjelasannya, sejak tahun 1916 seruan khilafah sudah bergema di kota Bandung dan usulan untuk membentuk militer di tengah-tengah kaum Muslim untuk ikut berjuang menyambut seruan Turki.

"Pada tanggal 17-24 Juni tahun 1916, dalam Natico pertamanya, Haji Oemar Said Tjokroaminoto menyatakan berkenaan dengan usulan indo werbar yang maknanya adalah membentuk milisi atau militer di tengah-tengah kaum Muslim untuk ikut berjuang menyambut seruan Turki dan memenangkan perang," sebutnya.

Sebelumnya Salman juga menceritakan tentang fakta sejarah yang memicu munculnya Natico di Nusantara yang saat itu dikuasai pemerintahan Hindia Belanda.

"Fakta sejarah yang ada, sekitar tahun 1915 pemerintahan Khilafah Utsmaniyah yang ada di Istambul, melalui mufti besarnya menyampaikan seruan atau kampanye militer Utsmaniyah untuk memenangkan perang, pada Perang Dunia I tahun 1914-1918," bebernya.

"Pada tahun 1915, khalifah kaum Muslim Sultan Muhammad Rasyad menyampaikan berkenaan dengan jihad Al-Akbar dan konsep Jam'iyah Islamiyah yang dikenal dalam sejarah modern dengan sebutan Pan Islamisme," tuturnya.

Dia mengatakan, "Dan yang namanya Pan Islamisme bergema sampai ke Nusantara sudah sejak adanya Konsulat Utsmaniah yang ada di Batavia tahun 1882".

Sejarawan menegaskan bahwa para tokoh Islam, alim ulama yang ada di Nusantara menyambut seruan Khalifah Utsmaniyah.

"Fakta sejarah berkenaan dengan seruan kampanye militer Khalifah Utsmaniyah tahun 1915, kemudian disambut dengan gegap gempita oleh tokoh-tokoh Islam, alim ulama, kaum Muslim yang ada di Nusantara termasuk Syarekat Islam," ujarnya.

Ia menceritakan, seruan Syarekat Islam tidak digubris oleh pemerintah kolonial Belanda, karena seruan itu jelas membahayakan kepentingan Belanda dalam rangka imperialisme dan kolonialismenya.

"Natico Syarekat Islam pada waktu itu tidak digubris oleh pemerintah kolonial Belanda, karena hal itu justru akan membahayakan kepentingan Belanda di negeri Hindia Belanda dengan kolonialisme dan imperalismenya," pungkasnya.[] Heni Trinawati

Posting Komentar

0 Komentar