Banjir Dampak Penerapan Sistem Kapitalisme

TintaSiyasi.com -- Memasuki musim penghujan, sebagian wilayah Indonesia mengalami musibah banjir. Salah satunya yang terjadi di Malang, di mana terjadi banjir bandang. Dikutip CNNIndonesia (4/11/2021), banjir bandang menerjang Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang Jawa Timur. Menurut Satriyo Nurseno Kasi Kedaruratan BPBD Jawa Timur menyatakan banjir bandang setinggi satu meter disebabkan oleh intensitas hujan tinggi yang mengguyur beberapa daerah di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir.

Menurut pakar Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Suratman mengatakan terjadinya banjir sebagai peringatan ekosistem yang terganggu oleh manusia. Beliau menuturkan gangguan ekosistem akibat alih fungsi lahan oleh manusia baik berupa penggunaan lahan untuk pertanian maupun permukiman (Antaranews, 5/11/2021).

Permasalahan banjir bukan hanya disebabkan intensitas hujan yang tinggi dan alih fungsi lahan, tetapi terdapat permasalahan yang mendasar, yaitu krisis lingkungan yang disebabkan penerapan sistem kapitalisme. Krisis lingukungan ini menjadi agenda internasional yang saat ini telah dilaksanakan di Glasgow. Agenda tesebut berupa konferensi internasinal PBB tentang perubahan iklim atau COP26.

Sistem kapitalisme berasaskan kebebasan, baik kebebasan kepemilikan maupun kebebasan berperilaku. Kebebasan inilah yang membuat terjadi kerusakan, seperti hutan-hutan sebagai sumber serapan air, malah dijakan lahan perkebunan sawit, daerah aliran sungai hancur baik di hulu maupun di hilir, cuaca yang ekstrim dan tak menentu akibat tingginya CO2 yang berasal dari industri-industri menyebabkan perubahan iklim dan sebagainya.

Kerakusan para kapitalis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya menyebabkan abai terhadap lingkungan. Tak hanya itu saja, kebijakan yang ada malahan pro terhadap para kapitalis yaitu UU Omnibus Law. Pemerintah seakan mengkambing hitamkan iklim, dengan tingginya curah hujan. Padahal banjir dan longsor terjadi disebabkan ekosisitem yang rusak akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan yang besar.

Untuk menyelesaikan problem ini dibutuhkan solusi yang mendasar yaitu dengan memutuskan kebijakan yang pro terhadap para kapitalis dan dalam kepemilikan tidak ada kebebasan. Itu semua hanya ada di dalam sistem islam. Islam bukan hanya sebuah agama yang mengatur tentang peribadahan saja tetapi mengatur segala hal baik berupa ekonomi maupun bernegara.

Dalam syariat Islam, sumber daya alam dilarang untuk dikuasai oleh individu. Selain itu, Islam menyeruh kepada manusia untuk menjaga alam. Sebab alam dan manusia saling berkaitan. Sesuai firman Allah sebagai berikut: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-A’raaf: 56).

Allah pun telah menerangkan bahwa terjadinya kerusakan di alam ini akibat dari tangan-tangan manusia dan adanya bencana alam sebagai peringatan untuk kembali kepada aturan-aturan Allah.

Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS Ar-Ruum: 41).

Dengan berulang-ulangnya bencana alam yang terjadi di negeri ini, menjadikan untuk mengusabah diri untuk kembali ke aturan Islam dalam menjalani kehidupan ini, baik bernegara maupun kehidupan sehari-hari. Setiap apa yang dilakukan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga dapat dikatakan bahwa solusi dari permasalahan yang ada dengan menerapkan syariat Islam di bumi Allah. Islam bukan hanya sebuah agama tetapi juga sebuah ideologi. Wallahu a'lam. []


Oleh: Nur Ana Sofirotun
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar