Ajengan Yuana: Moderasi Beragama yang Diarahkan kepada Islam Merupakan Sikap Kalah Penggagasnya


TintaSiyasi.com -- Mudir Ma'had Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna, M.E., M.Ag. menegaskan bahwa moderasi beragama yang diarahkan kepada Islam merupakan sikap kalah para penggagasnya. 

“Moderasi beragama yang diarahkan kepada Islam merupakan sikap kalah para penggagasnya,” tegasnya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (10/11/2021). 

Ajengan menilai, pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bahwa fiqih dan hukum Islam banyak tidak sesuai perkembangan zaman adalah bentuk “inferior” secara intelektual di hadapan agama lain. 

“Moderasi beragama adalah kecurigaan pada agama sebagai sumber konflik. Agama dianggap sebagai awal dari kemunculan ekstremisme dan radikalisme. Oleh karena itu, wajib untuk dilakukan deradikalisasi,” jelasnya.

Ia mengatakan, bagi para penggagasnya, moderasi adalah jalan pertengahan. “Katanya, ini sesuai dengan inti ajaran Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, umat Islam disebut ummat[an] wasath[an],” ujarnya.  

“Menuduh agama sebagai satu-satunya sumber konflik adalah kesalahan. Kampanye moderasi beragama hakikatnya adalah usaha agar Islam tidak tampil sebagai kekuatan nyata dalam memberikan solusi bagi segenap permasalahan umat manusia,” ungkapnya. 

Fiqih Islam

Ajengan Yuana menjelaskan, Menag tidak membedakan adaptasi Islam terhadap perkembangan zaman dalam menghukumi fakta yang ada dengan ketundukan fiqih Islam terhadap fakta. 

“Rupanya, yang selama ini dikampanyekan adalah yang kedua, yakni bagaimana menjadikan fiqih Islam tidak berdaya sebagai solusi. Fiqih Islam dipaksa tunduk pada realitas yang rusak,” bebernya. 

Ia menukil ungkapan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani rahimahulLahu dalam kitabnya Syari’ah Allah al-Khalidah, halaman 7: 

فَلَوْ أَنَّ الْمُسْلِمِين ( الْيَوْم ) عَمِلُوْا بِأَحْكَامِ الْفِقْهِ وَالدِّيْنِ كَمَا كَانَ أباؤُهُمْ لَكَانُوْا أَرْقَى اْلأُمَمِ وَأَسْعَدَ النَّاس 

Sekiranya kaum Muslim hari ini menerapkan hukum-hukum fiqih dan agama (Islam) sebagaimana para pendahulu mereka, niscaya mereka akan menjadi umat terdepan dan paling bahagia.

“Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani rahimahulLahu menegaskan, bahwa pengamalan fiqih Islam secara benar justru akan menjadi kunci kebangkitan dan kebaikan,” ungkapnya. 

Ajengan mengatakan bahwa topik-topik fiqih, termasuk konsep pemerintahan atau imamah, jihad dan futuhat, konsep ad-dar (darul Islam atau hijrah, darul kufur atau harb), ganimah, fai, jizyah, kharaj, dan lain-lain. 

“Namun hari ini, topik-topik tersebut belum mendapat tempat. Bahkan dicurigai. Ditambah lagi sikap rendah diri sebagian intelektual Muslim telah mengantarkan pada gagasan moderasi beragama yang banyak diarahkan pada Islam. Fiqih Islam dianggap sebagai inspirasi lahirnya radikalisme dan ekstremisme,” tandasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar